Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jepara Lobi Bosnia Demi UNESCO, Seni Ukir Diperjuangkan Lewat Diplomasi Budaya

M. Khoirul Anwar • Sabtu, 21 Februari 2026 | 23:47 WIB

DIPLOMASI: Kunjungan resmi Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat bersama  Asisten III Sekda Jepara Florentina Budi Kurniawati ke Bosnia dan Herzegovina.
DIPLOMASI: Kunjungan resmi Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat bersama Asisten III Sekda Jepara Florentina Budi Kurniawati ke Bosnia dan Herzegovina.

JEPARA - Pemerintah Kabupaten Kabupaten Jepara terus melanjutkan ikhtiar agar seni ukir khas daerahnya diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda dunia oleh UNESCO.

Upaya tersebut diperkuat melalui kunjungan resmi ke Bosnia dan Herzegovina pada 17–18 Februari 2026.

Negara Balkan tersebut menjadi rujukan penting lantaran lebih dulu memperoleh pengakuan seni ukir sebagai warisan dunia.

Oleh sebab itu, dukungan dari pemerintah dan parlemen Bosnia menjadi salah satu kunci bagi pengajuan seni ukir Jepara.

Delegasi Indonesia dipimpin Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia, Lestari Moerdijat.

Rombongan turut didampingi Duta Besar RI untuk Bosnia dan Herzegovina, Manahan Sitompul.

Dari Jepara, hadir Asisten III Sekda Florentina Budi Kurniawati serta Ketua Paguyuban Seni Ukir Jepara, Sutrisno.

Pada 18 Februari 2026, delegasi diterima pimpinan parlemen di Kota Sarajevo, tepatnya di Kantor Parliamentary Assembly of Bosnia and Herzegovina.

Ketua House of Representatives, Marinko Čavara, menyampaikan apresiasi atas kunjungan tersebut.

Ia menyatakan kesiapan parlemen membantu proses lanjutan pengajuan Intangible Cultural Heritage (ICH) UNESCO untuk seni ukir Jepara.

“Dukungan parlemen Bosnia sangat penting. Mereka siap memfasilitasi proses persetujuan dengan pihak-pihak terkait di negara mereka,” ujar Florentina.

Selanjutnya, KBRI Sarajevo akan mengoordinasikan penyampaian surat dukungan resmi dari parlemen setempat.

Parlemen Bosnia juga merencanakan kunjungan balasan ke Indonesia pada April 2026, sebagai penjadwalan ulang agenda yang sempat tertunda pada Desember 2025.

Namun, perjuangan tersebut tidak sepenuhnya berjalan mulus. Sehari sebelumnya, delegasi bertemu Pemerintah Kota Konjic.

Dalam pertemuan itu, pemerintah kota menyatakan belum dapat memberikan persetujuan terhadap pengajuan ekstensi ICH dari Indonesia.

Pemerintah Kota Konjic menegaskan bahwa kewenangan terkait pengakuan budaya berada pada tingkat pemerintah daerah.

Sistem pemerintahan Bosnia memang memberikan otonomi yang kuat kepada pemerintah kota.

Delegasi juga berdialog dengan komunitas pengukir keluarga Niksic di Zanat Museum.

Pertemuan berlangsung terbuka dan membahas secara teknis mekanisme ekstensi UNESCO.

Florentina menegaskan bahwa pengajuan ekstensi bersifat kolaboratif dan tidak mengurangi status pengakuan Konjic yang telah ada.

“Pengajuan ini tidak menghapus atau merugikan inskripsi Konjic. Justru memperkuat jejaring budaya antarnegara,” jelasnya.

Pihak keluarga Niksic menyatakan akan mempelajari dokumen teknis yang disampaikan.

Mereka juga berencana berkoordinasi dengan konsultan yang sebelumnya terlibat dalam proses pengajuan ICH Konjic sebelum menentukan sikap resmi.

Rangkaian kunjungan delegasi ditutup dengan peninjauan Masjid Istiqlal Sarajevo.

Mimbar dan pintu utama masjid tersebut merupakan karya pengrajin Jepara yang diberikan Presiden ke-3 RI, B. J. Habibie, pada 2001.

Bagi Pemerintah Kabupaten Jepara, langkah diplomasi budaya ini menjadi simbol bahwa seni ukir bukan sekadar produk ekonomi, tetapi juga identitas, sejarah, dan martabat daerah yang terus diperjuangkan di panggung dunia.

 

Editor : Ali Mustofa
#jepara #parlemen #unesco #pemkab #seni ukir #Budaya #diplomasi #bosnia #Lestari Moerdiijat