JEPARA — Tragedi minuman oplosan di Kecamatan Pakis Aji, Jepara, bukan sekadar peristiwa keracunan massal.
Ia menjelma duka berlapis yang menyisakan nama, keluarga, dan profesi warga kecil yang mendadak lenyap dalam hitungan jam.
Hingga Selasa (10/2), lima orang dipastikan meninggal dunia, sementara tiga lainnya masih berjuang antara hidup dan mati di ruang perawatan intensif.
Rumah di RT 3/RW 3 Desa Suwawal Timur kini sunyi. Garis polisi membentang di teras, menggantikan lalu-lalang pembeli jamu yang sebelumnya nyaris tak pernah sepi.
Di tempat itulah, jamu gingseng—minuman tradisional yang selama ini dipercaya menambah stamina—diduga berubah menjadi pemicu kematian beruntun.
Tangis keluarga pecah ketika satu per satu nama korban terkonfirmasi. Bagi warga sekitar, tragedi ini bukan sekadar berita. Ini adalah kehilangan nyata, tetangga sendiri, orang yang setiap hari mereka sapa.
Baca Juga: Kronologi Lima Warga Jepara Tewas Gegara Minum Jamu Gingseng
Daftar Korban Meninggal Dunia
Berikut lima korban yang meninggal dunia setelah diduga mengonsumsi minuman oplosan:
-
Nur Amin
Warga Desa Suwawal Timur.
Meninggal pada Senin (9/2) pukul 08.00 WIB di rumahnya.
Ia menjadi korban pertama yang wafat dan awalnya belum menimbulkan kecurigaan. -
Sholeh
Warga Desa Suwawal Timur.
Meninggal pada Senin (9/2) sekitar pukul 13.00 WIB.
Selisih kematian hanya lima jam dari korban pertama mulai memunculkan tanda tanya. -
Dul Hadi
Warga Desa Bulungan.
Meninggal pada Senin (9/2) pukul 18.00 WIB.
Kematian ketiga dalam satu hari memperkuat dugaan adanya faktor pemicu yang sama. -
Kupat
Warga Desa Suwawal.
Meninggal pada Selasa (10/2) pagi.
Namanya dikenal luas di lingkungan sekitar sebagai pekerja serabutan. -
Ary
Warga Desa Suwawal.
Meninggal pada Selasa (10/2) pagi dan dimakamkan sekitar pukul 13.00 WIB.
Keluarga memakamkannya sebelum tragedi ini sepenuhnya terungkap ke publik.
Sebagian korban meninggal di rumah, sementara lainnya sempat mendapatkan penanganan medis. Namun nyawa mereka tak tertolong.
Daftar Korban Kritis yang Masih Dirawat
Selain korban meninggal, tiga orang lainnya saat ini berada dalam kondisi kritis, menjalani perawatan intensif di rumah sakit:
-
Eko, warga Slagi
Merupakan pelayan penjual jamu dan orang pertama yang mencicipi jamu gingseng tersebut. -
Miun, warga Desa Suwawal
Mengalami gejala berat pascakonsumsi jamu. -
Ely, warga Desa Suwawal Timur
Masih dalam pengawasan ketat tim medis.
Kondisi ketiganya belum stabil. Tim medis masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan untuk memastikan zat yang memicu reaksi berbahaya tersebut.
Profil Korban: Usia Produktif, Pekerja Kecil
Seluruh korban diketahui berada pada rentang usia 30 hingga 40 tahun. Mereka bukan lansia, bukan pula memiliki riwayat penyakit berat yang diketahui warga.
Profesi mereka sederhana:
-
tukang parkir pasar,
-
tukang kayu,
-
buruh harian,
-
pekerja serabutan.
Mereka mengonsumsi jamu bukan untuk gaya hidup, melainkan sebagai bagian dari rutinitas—penambah tenaga sebelum bekerja.
Fakta ini menegaskan bahwa tragedi ini menimpa kelompok masyarakat produktif yang sehari-hari mengandalkan kekuatan fisik.
Baca Juga: Minum Jamu Gingseng, 5 Orang di Jepara Meninggal Dunia, Tiga Lainnya Kritis
Asal-usul Jamu: Satu Galon yang Mengubah Segalanya
Jamu gingseng tersebut tiba di rumah penjual berinisial R pada Sabtu (7/2) sore. Pasokan datang dari wilayah Bulungan, dikemas dalam satu galon, sebagaimana pengiriman sebelumnya.
Namun, kali ini jamu itu terasa berbeda.
Eko mencium aroma yang tidak biasa. Bukan wangi rempah atau akar herbal, melainkan bau menyengat yang disebut menyerupai sabun. Meski sempat ragu, ia tetap mencicipinya. Tidak ada reaksi cepat. Tidak ada rasa aneh yang mencolok.
Keyakinan itu membuat jamu tetap dijual.
Beberapa jam kemudian, minuman tersebut dikonsumsi oleh sejumlah warga dari desa berbeda. Efeknya tidak langsung. Baru dua hari kemudian, kematian mulai terjadi satu per satu.
Pola Kematian yang Mengarah pada Satu Titik
Kematian para korban menunjukkan pola mencolok:
-
terjadi berurutan,
-
dalam rentang waktu berdekatan,
-
berasal dari desa berbeda,
-
namun memiliki kesamaan konsumsi jamu gingseng dari sumber yang sama.
Pola inilah yang akhirnya mendorong warga melapor ke aparat kepolisian.
Langkah Polisi: Penjual Diamankan, Sampel Disita
Polisi bergerak cepat setelah menerima laporan kematian beruntun. R, penjual minuman, diamankan ke Polres Jepara untuk dimintai keterangan.
Pada Selasa (10/2) sekitar pukul 11.00 WIB, Tim Inafis dan Resmob mendatangi lokasi. Rumah R dipasangi garis polisi. Sejumlah barang, termasuk wadah jamu, disita untuk kepentingan penyelidikan.
Fokus penyelidikan meliputi:
-
kandungan jamu gingseng,
-
kemungkinan kontaminasi zat berbahaya,
-
jalur distribusi dari Bulungan,
-
serta standar pengolahan dan penyimpanan.
Hingga kini, polisi belum menyimpulkan penyebab pasti kematian. Namun dugaan kuat mengarah pada zat beracun yang tidak semestinya terdapat dalam jamu tradisional.
Bagi warga Pakis Aji, jamu bukan sekadar minuman. Ia adalah tradisi. Diminum turun-temurun. Dibeli tanpa curiga.
“Selama ini aman, tidak pernah kejadian seperti ini,” ujar seorang warga.
Kini, kepercayaan itu runtuh. Warga mulai takut mengonsumsi jamu, bahkan dari penjual lain. Trauma menyebar lebih cepat dari kabar duka.
Tradisi Tanpa Pengawasan
Kasus ini membuka celah besar dalam pengawasan produk tradisional. Minuman yang dijual bebas, tanpa uji laboratorium rutin, tanpa standar distribusi ketat, ternyata menyimpan risiko fatal.
Tragedi di Jepara menjadi peringatan keras bahwa tradisi tidak boleh berjalan tanpa pengawasan, terlebih ketika menyangkut konsumsi publik.
Editor : Mahendra Aditya