Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Baratan Kriyan Jepara 2026 Tampil Megah, Kirab 4,3 Km Hidupkan Sejarah Ratu Kalinyamat

M. Khoirul Anwar • Senin, 9 Februari 2026 | 21:20 WIB

 

BERWIBAWA: Pemeran Ratu Kalinyamat dikirab dalam gelaran Baratan pada Minggu (8/2).
BERWIBAWA: Pemeran Ratu Kalinyamat dikirab dalam gelaran Baratan pada Minggu (8/2).

JEPARA — Ribuan warga memadati kawasan Masjid Al-Makmur, Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, sejak Minggu (8/2/2026) malam. Mereka antusias menyaksikan prosesi Tradisi Baratan 2026 yang digelar dalam rangkaian Pekan Budaya Kriyan dan Baratan.

Prosesi utama dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dengan kedatangan prajurit pengiring Sang Ratu, dilanjutkan penyerahan tongkat dan keris pusaka, serta tarian penyambut. Suasana semakin semarak ketika kirab budaya diberangkatkan satu jam kemudian.

Kirab Kutho Bedah menempuh rute sepanjang kurang lebih 4,3 kilometer menyusuri permukiman warga. Arak-arakan tersebut menjadi simbol visual perjuangan Ratu Kalinyamat dalam melawan penjajahan, sekaligus refleksi kejayaan Jepara pada abad ke-16.

Tema Grebeg Kutho Bedah diangkat untuk menghidupkan kembali spirit kepahlawanan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional. Melalui pendekatan budaya, masyarakat diajak memahami sejarah dengan cara yang lebih kontekstual dan relevan bagi generasi muda.

Dalam berbagai literatur sejarah, Ratu Kalinyamat dikenal sebagai tokoh perempuan berpengaruh. Sejarawan HJ. De Graaf mencatat Jepara sebagai pusat perdagangan penting, sementara catatan Portugis Diego de Couto menyebut wilayah ini sebagai “Gerinhama” atau Kalinyamat.

Ketegasan sang ratu juga tercermin melalui pengangkatan kisah ekspedisi penyerangan ke Malaka pada 1550 dan 1574. Pada serangan kedua, tercatat sekitar 300 kapal layar dan 15.000 prajurit dikerahkan dalam misi tersebut.

Wilayah Kriyan sendiri diyakini sebagai kawasan permukiman bangsawan dan pejabat kerajaan pada masa lampau. Nama Kriyan dipercaya berasal dari kata Sansekerta Rakriyan, yang bermakna kalangan elite pemerintahan.

Usai kirab yang berakhir sekitar pukul 22.30 WIB, masyarakat berebut gunungan hasil bumi, puli, serta tirta kahuripan yang diyakini membawa keberkahan menjelang Ramadan.

Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah Kriyan, Gus Mad, menyampaikan bahwa Baratan 2026 tampil lebih istimewa dengan dihadirkannya Keris Wulan Tumanggal dan Tongkat Kiai Cokro, peninggalan era Demak-Kalinyamat.

“Tradisi ini menjadi pengingat memasuki bulan suci. Alhamdulillah, setelah pandemi, Baratan terus dilaksanakan secara konsisten,” ujarnya.

Ia juga menekankan dominasi generasi muda dalam kegiatan tersebut sebagai langkah menjaga keberlanjutan budaya lokal. Menurutnya, Baratan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda yang harus terus dirawat bersama.

Rangkaian kegiatan Baratan sendiri telah dimulai sejak 15 Syaban, meliputi yasinan, tahlil, bazar UMKM, ngaji budaya, hingga pementasan tari sufi kolosal.

Sementara itu, penggiat budaya M. Hisyam Maliki menilai tema Kutho Bedah menjadi ruang ekspresi kreatif baru bagi masyarakat.

“Kami memaknainya sebagai ledakan kreativitas. Dulu ledakan sejarah, sekarang ledakan seni dan budaya,” pungkasnya. (fik/war)

Kalau mau, saya juga bisa bantu buatkan versi lebih pendek (fast news) atau versi Google Discover style supaya makin kuat trafiknya.

Editor : Mahendra Aditya
#Ratu Kalinyamat #kalinyamatan #warga #berita jepara hari ini #baratan #berita #berita jepara