Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ribuan Warga Berebut Puli dan Gunungan Padati Puncak Tradisi Baratan di Kriyan Jepara

Fikri Thoharudin • Senin, 9 Februari 2026 | 18:48 WIB
TUMPLEK BLEK: Para warga rebutan gunungan dan puli usai kirab.
TUMPLEK BLEK: Para warga rebutan gunungan dan puli usai kirab.

JEPARA — Ribuan warga memadati Kompleks Masjid Al-Makmur Desa Kriyan, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Minggu (8/2) malam, dalam puncak tradisi Baratan 2026. 

Usai kirab pemeranan Ratu Kalinyamat rampung, masyarakat langsung berebut puli dan gunungan yang diyakini membawa berkah.

Antusiasme warga terlihat hingga kirab berakhir. Tua, muda hingga anak-anak berdesakan di pelataran Masjid Al-Makmur, untuk mendapatkan bagian puli dan hasil bumi yang telah dikirab mengelilingi desa.

Pengasuh Pondok Pesantren Nailun Najah Kriyan sekaligus pengembang Komunitas Tari Sufi Darwis Nusantara, Gus Mad, menyebut pelaksanaan Baratan sebagai satu kekayaan budaya.

Terkait ritual, Gus Mad menegaskan tidak ada prosesi khusus yang bersifat sakral untuk pemeranan Ratu Kalinyamat. 

"Untuk Ratu Kalinyamat cukup ikut slamatan. Ritual tertentu hanya dilakukan oleh panitia,” katanya.

Dalam tradisi Baratan, selain gunungan dan puli, juga dikenal impes. Gus Mad menjelaskan, impes berasal dari kata anfusu yang bermakna ruh.

“Bulan Syaban oleh orang Jawa disebut bulan Ruwah. Impes itu diberi lampu agar bercahaya, sebagai simbol doa agar ruh mendapat cahaya,” terangnya.

Sementara itu, puli menjadi bagian yang paling dinanti masyarakat. Tradisi rebutan puli diyakini sarat makna spiritual. Puli sendiri telah dibagikan sejak rangkaian kegiatan tanggal 15 Syaban, dan kembali dikirabkan pada puncak Baratan.

“Puli itu dari kata Afuwwun Lii, artinya mohon maafkanlah saya. Harapannya, siapa yang memakan puli itu mendapat ampunan dari Allah,” jelas Gus Mad.

Ia menambahkan, bagi masyarakat Jawa, makanan menjadi simbol doa.

"Orang Jawa kadang tidak fasih membaca doa Arab atau merasa malu berdoa langsung. Karena sudah sering diberikan anugerah oleh Allah. Maka makanan dijadikan simbol doa, sebagai ungkapan rasa syukur dan permohonan ampun,” pungkasnya.

Tradisi Baratan pun kembali menjadi ruang perjumpaan. Antara nilai spiritual, sejarah, dan ekspresi budaya masyarakat Kriyan, yang terus dijaga dari generasi ke generasi.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#Ratu Kalinyamat #tradisi baratan #Jepara Art Carnival #tradisi jepara #baratan #Baratan Jepara #ratu kalinyamat jepara