Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Pihak Kepolisian Libatkan APSIFOR untuk Ungkap Penyebab Kematian Pemuda di Tubanan Jepara

Fikri Thoharudin • Jumat, 6 Februari 2026 | 19:43 WIB
OBSERVASI: Pihak kepolisian dan tim dari APSIFOR Jawa Tengah melakukan pengecekan TKP pada Jumat (6/2) siang.
OBSERVASI: Pihak kepolisian dan tim dari APSIFOR Jawa Tengah melakukan pengecekan TKP pada Jumat (6/2) siang.

JEPARA — Kepolisian masih mendalami kasus kematian pemuda di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang.

Hal tersebut dilakukan untuk mengungkap penyebab kematian korban.

Aparat kepolisian melibatkan Asosiasi Psikologi Forensik Indonesia (APSIFOR) Wilayah Jawa Tengah, guna melakukan pemeriksaan psikologis terhadap lingkungan dan orang-orang terdekat korban.

Pemeriksaan lanjutan ini dilakukan karena situasi kasus masih dianggap 'abu-abu'.

Lebih dari dua bulan berlalu, sejak korban ditemukan pada Minggu (30/11/2025) di kebun rumput gajah, polisi belum dapat memastikan penyebab pasti kematian.

Kematian Axsyal Rendy Saputra, pemuda 24 tahun asal Dukuh Sekuping, Desa Tubanan, tersebut meninggalkan misteri. Lantaran leher korban dapat kondisi tergorok

Saat ditemukan, jasad korban berada di rumput gajah. Sekitar 60 meter dari rumah korban. Termasuk juga ditemukan dua pisau dapur.

Kapolsek Kembang, Iptu Heru Setyawan, menyampaikan bahwa APSIFOR digandeng, lantaran sebagai organisasi profesi psikologi forensik yang berada di bawah naungan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI). 

Dalam penegakan hukum, APSIFOR kerap dilibatkan untuk membantu aparat mengungkap kasus-kasus pembunuhan Termasuk yang bersifat sadis, misterius. Maupun perkara yang melibatkan anak sebagai pelaku atau korban, melalui pendekatan psikologi forensik.

Disebutkan, pemeriksaan psikologis dalam kasus di Tubanan dilakukan oleh Tim APSIFOR Jawa Tengah yang terdiri dari empat orang. 

Namun dalam pemeriksaan pada Jumat (6/2) hanya tiga orang yang dapat hadir, satu di antaranya sedang dalam tugas lain di Malaysia.

Kegiatan ini dipimpin dan difasilitasi oleh Polres Jepara serta jajaran Polsek Kembang.

Pihaknya menyampaikan bahwa pemeriksaan bertujuan untuk menggali informasi mendalam terkait perilaku, kondisi kejiwaan, serta interaksi sosial korban sebelum ditemukan meninggal dunia.

“Tim ingin mengetahui pola perilaku korban dari sisi psikologi, termasuk hubungan korban dengan keluarga, teman, dan orang-orang yang berada di lokasi kejadian,” jelasnya.

Pemeriksaan terhadap para saksi dan pihak terkait, dilaksanakan di Balai Desa Tubanan. 

Awalnya, kegiatan pemeriksaan berlangsung di rumah keluarga, Rendy, setelah salat Jumat. 

Namun, karena situasi rumah yang ramai oleh warga, lokasi pemeriksaan kemudian dipindahkan ke Balai Desa Tubanan sekitar pukul 14.00.

Sebelumnya, pihak kepolisian dan tim dari APSIFOR juga melakukan observasi di tempat kejadian perkara. 

Sejak siang hari, ratusan warga dari berbagai desa seperti Kaliaman, Kancilan, Bondo, dan wilayah sekitar Tubanan berdatangan ke Balai Desa Tubanan. 

Hingga pukul 17.00 WIB, suasana balai desa terus dipenuhi masyarakat, yang datang silih berganti untuk memantau perkembangan kasus tersebut. 

Kerumunan warga baru mulai bubar saat waktu azan Magrib berkumandang. Tak berhenti sampai di situ, usai Maghrib hingga Isya, sejumlah warga juga masih berada di depan Balai Desa Tubanan.

Iptu Heru menegaskan, saat ini belum ada pelaku yang ditangkap. Proses penyelidikan masih terus berlanjut, untuk memastikan apakah kasus kematian tersebut merupakan kasus bunuh diri ataupun pembunuhan.

Dalam pemeriksaan ini, tim APSIFOR dan kepolisian memeriksa 12 orang.

Terdiri dari anggota keluarga korban, teman dekat, serta individu yang berada di sekitar tempat kejadian perkara (TKP) dan memiliki keterkaitan langsung dengan korban.

Pemeriksaan dilakukan secara tertutup. Dibagi ke dalam tiga ruangan berbeda, guna menjaga kenyamanan narasumber serta penggalian informasi. 

Iptu Heru menambahkan, pemeriksaan psikologi forensik ini sejatinya direncanakan dilakukan pada awal Januari 2026. 

Namun, pelaksanaannya sempat tertunda karena sejumlah kendala, termasuk padatnya agenda tim APSIFOR.

“Seharusnya awal Januari, tapi karena kesibukan tim dan kendala lainnya, baru bisa dilaksanakan sekarang. Dari tim seharusnya empat orang, namun saat ini hanya tiga orang yang bisa hadir. Karena satu anggota sedang ada agenda ke luar negeri,” jelasnya.

Ia juga mengakui bahwa proses pengumpulan informasi di lapangan tidak sepenuhnya berjalan mulus. 

Sejumlah warga yang diduga berpotensi mengetahui informasi terkait peristiwa tersebut, memilih untuk tidak memberikan keterangan kepada aparat.

"Untuk itu, bagi masyarakat yang memiliki informasi bisa memberikannya kepada kami, tidak mesti kami undang. Bisa menjadi informasi yang berharga," pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#forensik #pembunuhan #Psikologi #tubanan #bunuh diri