RADAR KUDUS - SOROT mata ribuan warga dan pengunjung tertuju pada sosok April, saat ia melangkah tegas, menaiki kuda.
Memerankan lakon Ratu Kalinyamat dalam puncak tradisi Baratan 2026 di Desa Bandungrejo, Kecamatan Kalinyamatan, Jepara pada Minggu (1/2) malam.
Di balik gemerlap panggung dan riuh decak kagum pengunjung, tersimpan proses panjang yang penuh ketekunan, laku batin, dan perjuangan seorang remaja perempuan Jepara.
Pemilik nama lengkap Efel Aprilia Maharani ini, lahir di Jepara, 28 April 2007, berasal dari Desa Tempur, Kecamatan Keling. Saat ini ia tercatat sebagai siswi kelas XII SMKN 1 Kalinyamatan, jurusan Tata Busana.
Di sela kesibukan sekolah, April aktif mengembangkan diri dengan mengikuti kelas tari ataupun modeling di luar jam pelajaran.
Kesempatan memerankan sosok besar Ratu Kalinyamat tidak datang secara instan. April terpilih melalui proses seleksi dan audisi yang digelar panitia Baratan.
Ia mengikuti wawancara tentang tradisi Baratan dan sejarah Ratu Kalinyamat, hingga tes tari sebagai bagian dari penilaian.
“Awalnya dipilih dari sekolahan untuk mengikuti seleksi (pemeran Ratu Kalinyamat, red) Baratan. Tidak menyangka bisa terpilih,” tuturnya pada Senin (2/2).
Namun, yang membuat perjalanan April istimewa bukan hanya proses seleksi, melainkan laku spiritual yang ia jalani.
Demi menjiwai peran, April melakukan puasa selama tujuh hari dan ziarah sebanyak dua kali, yakni pada Jumat Pahing dan Rabu Legi.
"Itu proses yang saya lakukan sebelum memerankan lakon Ratu Kalinyamat,” ungkapnya.
Persiapan dilakukan selama kurang lebih satu bulan. Seleksi dimulai akhir Desember, lalu berlanjut latihan rutin sejak awal Januari.
Di tengah intensitas latihan, April justru menemukan kedekatan batin dengan nilai-nilai budaya Jepara.
“Dari Baratan, saya jadi tahu lebih dalam tentang sosok Ratu Kalinyamat dan budaya Jepara. Perempuan harus berani mengambil keputusan, bersikap tegas, dan kuat,” ucapnya.
Ia menyebut Jepara, selain sosok Ratu Kalinyamat juga memiliki sejarah perempuan-perempuan berkiprah besar. Seperti Ratu Shima, hingga RA Kartini.
Mereka menjadi simbol keberanian, kepemimpinan, dan keteguhan nilai.
Ratu Kalinyamat sendiri dikenal dunia internasional. Dalam catatan Portugis, ia dijuluki “Rainha de Japora, Senhora Poderosa e Rica” serta “de Kranige Dame”—yang berarti Ratu Jepara, perempuan kaya dan berkuasa, perempuan yang gagah berani.
Tradisi Baratan pun kini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2025. Menegaskan posisinya sebagai identitas budaya yang hidup dan terus diwariskan lintas generasi.
Malam pementasan berlangsung penuh haru. Hujan deras sempat mengguyur kawasan Bandungrejo, bahkan April sempat mengira arak-arakan tidak akan digelar.
Namun kenyataan berkata lain. Warga tetap datang, menerobos hujan, memenuhi jalan-jalan desa demi menyaksikan Baratan.
“Antusiasme masyarakat luar biasa. Itu yang bikin kami semakin semangat,” ujarnya.
Bagi April, pengalaman ini bukan hanya tentang tampil di panggung, tetapi tentang merawat sejarah dan identitas.
Ia berharap anak-anak muda Jepara terus nguri-nguri budaya, agar tradisi tidak pupus dimakan zaman.
“Anak muda harus terus merawat sejarah dan budaya. Jangan sampai luntur,” tegasnya.
Meskipun asal Tempur, kini April tinggal di Tlogowungu, Pati, bersama budhe-nya, karena rumah di Tempur sudah tidak lagi berpenghuni.
Di akhir cerita, April menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh panitia, penari, dan masyarakat. Yang telah memberikan dukungan hingga acara selesai.
“Tanpa mereka, Baratan tidak akan berjalan. Meski hujan deras, masyarakat tetap hadir. Itu luar biasa,” katanya.
Di panggung Baratan, April bukan sekadar memerankan Ratu Kalinyamat. Ia sedang menapaki jejak sejarah, menghidupkan kembali semangat perempuan Jepara yang berani, dan menjaga warisan budaya dengan hati teguh.(fik)
Editor : Mahendra Aditya