Bencana datang tanpa diundang, tanpa mengenal waktu dan perhitungan. Menyisir Desa Tempur pada Jumat (9/1) lalu.
Memutus akses jalan. Melumpuhkan listrik dan jaringan. Menyisakan duka bagi masyarakat.
Termasuk warga Dukuh Kemiren, Pairan, yang kehilangan 5 ton kopi lengkap dengan gudang penyimpanan dan peralatannya.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara, Radar Kudus
AWAN nimbostratus (Ns) berembus, berjalan berarak-arakan di langit Desa Tempur pada Kamis (29/1) menjelang sore.
Jarum jam di tangan menunjukkan pukul 14.45. Hujan rintik acapkali turun. Namun matahari masih mendominasi.
Tiga pekan, usai bencana longsor dan banjir terjadi pada Jumat (9/1) lalu di Desa Tempur, Kecamatan Keling, akses jalan mulai pulih. Masyarakat tampak beraktivitas secara normal.
Namun dampak dari bencana, masih menyisakan duka yang mendalam. Membekas. Khususnya bagi warga Dukuh Kemiren RT 1/RW 1, Desa Tempur, Pairan.
Suasana sejumlah orang yang bercengkrama di salah satu rumah mendadak menjadi hening.
Sejurus dengan kedatangan Radar Kudus di kediaman Pairan. Tak sendiri, terdapat setidaknya tiga orang warga lainnya yang berada di rumahnya.
Satu di antaranya ialah warga Medani, Cluwak, Pati yang berjalan kaki melewati gunung hingga sampai di Desa Tempur.
Bukan tanpa alasan, kedatangannya hanya untuk satu tujuan, yaitu untuk memastikan sahabatnya (Pairan) baik-baik saja.
Setelah memperkenalkan diri, Radar Kudus meminta izin wawancara.
Pairan tampak tegar. Namun mimik wajahnya tak dapat menyembunyikan kesedihannya. Beberapa kali tangannya tampak mengusap area matanya.
Imbas bencana, kerugian yang dialami Pairan terbilang cukup besar. Ditaksir mencapai Rp 530 juta.
Bagaimana tidak, area rumah usaha penggilingan kopi rusak total, tersapu longsor. Mesin penggilingan dan kopi 5 ton pun hanyut.
Sekalipun usai kehilangan berton-ton kopi, namun Radar Kudus masih saja tak kurang sambutan hangat, atas suguhan kopi lokal khas Tempur dari sang rumah.
Tak hanya itu, Radar Kudus juga ditawari tembakau dan makanan ringan seperti criping.
"Waktu itu kondisi mati listrik, hujan deras. Ya, Jumat (9/1) surup menjelang maka. Saya bilang, kok banjir sik mengkono (kok banjirnya seperti itu, Red)," ungkapnya.
Pairan pun semula belum mengetahui jika area gudang miliknya ikut tersapu banjir.
"Mboten ngertos. Tahunya saat istri saya pingsan. Saya tanya, gene gene, ki mau gene, ono opo ono opo. Terus warga ngasih tahu, saya diminta ikhlas karena kopi saya sudah tidak ada," imbuhnya.
Saat itu suasana cukup mencekam. Pasalnya selain sang istri pingan. Jaringan listrik padam.
Setelah Pairan memastikan di lokasi, benar, kopi panenannya sejak Agustus 2025 lalu yang disimpan di gudang, lenyap seketika.
Pihaknya tampak masih amat terpukul. "Ya Allah yo yo, mosok sik ora ono, sak selepe. Niku pancen awor," ucapnya.
Tabungannya sekitar Rp 530 juta dalam bentuk kopi dan peralatan tersebut tak terselamatkan.
"Sudah kering, tinggal adol (dijual, red). Kopi segitu, saya belikan selep, untuk pecah teles, dan terus kering. Saya kira mboten nganggit (banjir ke area gudang, red). Tidak menyangka, saya gak kepikiran," katanya.
Di tahun sebelumnya, Pairan usai menjual sapi. Hasil keuntungan digunakannya agar untuk membeli peralatan kopi.
Bapak dua anak tersebut saat ini merasa tak tahu lagi harus berbuat seperti apa.
Sebelumnya padahal sudah ada yang menawar kopinya sekitar Rp 60-65 ribu per kilogram.
Masih belum dilepas, karena Pairan berharap ada harga yang lebih bagus, tapi bencana lebih dulu datang.
"Rencananya buat kebutuhan. Muter. Pamujine (dapat diganti yang lebih baik, Gusti mboten Sare, red). Ngene ini teko dipikir ora dipikir (ya tak pikir dan tidak tak pikir)," sebutnya.
Meskipun 5000 kg atau 5 ton hanyut. Akan tetapi ada sekitar 1 ton yang sempat diselep dan disimpan di rumah anaknya Pairan.
"Karepe karep, nek hutang jenenge wong hutang tanggungan. Beda nek titik-titik duwe, kebutuhan esuk sore (kebutuhan harian pagi-sore) tercukupi. Buat bertani, juga nek mbok menowo bisa beli dan jual tanah," ucapnya.
Di samping kerugian itu, area sawah Pairan yang hendak tanam pun digempur banjir. Ganasnya aliran Kali Gelis.
“Kalau di sini longsor, banjir, membawa batu. Jawohe jor-joran kados diperes (Hujane seperti diperas)," tuturnya.
Setidaknya dalam kurun tiga pekan usai bencana longsor dan banjir tersebut, Pairan telah menerima bantuan sembako serta uang Rp 2 juta.(*)
Editor : Ali Mustofa