JEPARA — Akses menuju Desa Tempur mulai terbuka. Kini kendaraan roda empat dapat melintas. Namun untuk kendaraan muatan seperti truk ataupun engkel masih dilarang.
Usai longsor sejak Jumat (9/1) lalu, sejumlah titik tanah dan jalan masih labil. Sehingga rawan getaran kendaraan tonase besar.
Saat ini, tim lapangan yang terdiri dari personil BPBD Jepara, relawan serta operator alat berat masuk ke dalam hutan. Menyibak kabut dan area perbukitan kawasan Perhutani.
Tujuannya satu, ada akses lain selain jalan eksisting saat ini yang putus imbas longsor. Serta gerusan Sungai Gelis.
Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan bahwa saat ini penanganan pascabencana di Desa Tempur terus dilakukan.
"Alat berat sudah naik, mobil sudah sampai atas. Masih recovery, yaitu membuat badan jalan," ungkapnya pada Selasa (27/1).
Tak hanya itu, seiring dengan pemulihan jalan utama tersebut, juga dilakukan upaya pembukaan jalur lain.
"Rencananya akan dibuka dua jalan, yaitu Sumanding-Duplak dan Tempur-Rahtawu (Kudus). Kami mengupayakan jalur alternatif lain, selain ke atempur yang saat ini eksisting," sebutnya.
Sehingga menurutnya, dalam mitigasi bencana jika terjadi insiden seperti tempo hari, masih terdapat akses untuk menangani bencana. Masyarakat tidak terisolasi.
"Jalan Sumanding-Duplak sekitar 7 km. Kalau Tempur-Rahtawu belum, kami fokuskan dulu untuk membuka jalur Sumanding-Duplak. Sudah kami cek sampai atas," ucapnya.
Pihaknya menyebutkan, untuk penanganan pembukaan jalur secara memadai diagendakan dalam pembiayaan tahun 2027.
"Kami sudah mendiskusikan, bisa dari Banprov dan sebagian APBD ataupun IJD dari pusat. Kebutuhan anggaran untuk jalur alternatif ini belum dihitung, baru dikroscek untuk luas dan panjangnya berapa," katanya.
Jalan tersebut diproyeksikan juga dapat dilalui oleh kendaraan roda empat. Sehingga dalam digunakan sebagai mitigasi bencana secara efektif.
"Karena (di jalan eksisting, red) longsor sering terjadi di titik-titik tertentu," katanya.
Terpisah, Kalaksa BPBD Jepara Arwin Noor Isdiyanto menyampaikan bahwa pihaknya masih melakukan survei lebih lanjut terkait dua jalan yang sedang diupayakan, sebagai alternatif masyarakat Desa Tempur.
"Harapannya akses menuju Desa Tempur tidak hanya satu jalan utama," sambungnya.
Berdasarkan informasi awal, untuk jalur Sumanding-Duplak diperkirakan mencapai 7km. Sedangkan untuk Tempur-Rahtawu mencapai sekitar 10km.
"Jika ini benar-benar terbuka, bahan pangan di Tempur bisa menjadi murah. Karena terdapat akses yang memadai, baik ke Jepara maupun Kudus," jelasnya.
Pihaknya beserta tim, telah memetakan titik-titik yang perlu penanganan lebih. Agar ketika cuaca bersahabat, dapat dilakukan pembukaan jalan menggunakan alat berat.
"Iya, sehingga perlu dipastikan terlebih dahulu. Sehingga kalau alat berat naik, bisa langsung mengeksekusi. Kami survei didampingi dengan operator alat berat," imbuhnya.
Setelah jalan telah tersibak, pekerjaan lanjutan ialah peningkatan jalan agar dapat aman dan nyaman dilalui kendaraan.
"Bertahap. Tempur ini bisa jadi segitiga emas, artinya bisa diakses dari berbagai daerah," tandasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa