Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Jembatan Penghubung Jepara–Pati Ambruk, Puluhan Siswa di Sumberrejo Terpaksa Sekolah Daring

Fikri Thoharudin • Kamis, 22 Januari 2026 | 16:43 WIB
MIRIS: Kondisi Jembatan antar Desa Sumbberrejo Kecamatan Donorojo Jepara dan Desa Wedusan Kecamatan Dukuhseti Pati yang belum ditangani sejak Minggu (18/1).
MIRIS: Kondisi Jembatan antar Desa Sumbberrejo Kecamatan Donorojo Jepara dan Desa Wedusan Kecamatan Dukuhseti Pati yang belum ditangani sejak Minggu (18/1).

JEPARA — Jembatan penghubung antarwilayah di Desa Sumberrejo, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara, ambruk. Usai diterak air sungai yang meluap. 

Peristiwa yang terjadi sejak Minggu (18/1) sekitar pukul 12.00, hingga kini belum tertangani.

Membuat akses warga lumpuh. Berdampak langsung pada aktivitas pendidikan puluhan siswa.

Jembatan sepanjang sekitar 35 meter tersebut merupakan jalur penghubung antara Dukuh Pendem, Desa Sumberrejo, dengan Dukuh Nglendoh, Desa Wedusan, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati. 

Ambruknya jembatan disebabkan gerusan deras Sungai Pasokan yang meluap akibat curah hujan tinggi. Kolom jembatan tak kuat menahan ganasnya arus. Membuatnya konstruksinya tak beraturan.

Akibat kejadian itu, sedikitnya 30 siswa dari jenjang RA, MI, hingga MTs yang biasa melintasi jembatan tersebut, terpaksa mengikuti pembelajaran secara daring dari rumah. 

Para siswa berasal dari Dukuh Nglendoh, Desa Wedusan, yang setiap hari bersekolah di lembaga pendidikan di Desa Sumberrejo.

Kepala RA Al Hikmah Sumberrejo sekaligus Pengurus YPI Miftahul Huda Sumberrejo, Rohmat, menyampaikan bahwa hingga hampir sepekan pascakejadian. Belum terlihat adanya penanganan di lokasi jembatan ambruk tersebut. 

Padahal, jembatan itu merupakan satu-satunya akses terdekat bagi warga dan anak-anak sekolah. 

“Sejak jembatan putus hari Minggu lalu, belum ada tindakan dari pemerintah. Kami berharap agar segera dibuatkan jembatan darurat atau alternatif. Selain untuk jalan warga, petani, ini sangat berdampak pada anak-anak sekolah,” ungkap Rohmat, pada Kamis (22/1).

Ia menjelaskan, jembatan tersebut juga menjadi penghubung penting antara Kabupaten Jepara dan Kabupaten Pati.

"Kalau tidak lewat sini, harus memutar hingga melewati 3-4 desa," jelasnya.

Masyarakat harus memutar lewat Wedusan-Puncel (Pati)–Clering–Sumberrejo (Jepara). Hal tersebut dianggap menyulitkan warga.

Selama akses terputus, para guru berupaya melakukan pembelajaran daring

Namun, menurut Rohmat, metode tersebut tidak efektif khususnya bagi siswa RA. 

Sebagai solusi sementara, pihak sekolah juga berupaya menjemput sebagian siswa di titik tertentu yang masih memungkinkan. Yaitu di madrasah setempat.

“Kami berharap sebelum jembatan permanen dibangun, setidaknya ada jembatan alternatif dulu. Kalau bisa dilalui kendaraan, agar akses masyarakat dan kegiatan sekolah kembali lancar,” tambahnya.

Keadaan tersebut juga telah dilaporkan dengan pemerintah daerah, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan penanganan akan dilaksanakan.

Warga dan pihak sekolah berharap pemerintah daerah maupun provinsi segera turun tangan untuk menangani kondisi tersebut. Mengingat jembatan itu merupakan infrastruktur vital bagi masyarakat lintas kabupaten.

"Sungainya dalam. Bahaya. Meskipun ini jalur alternatif, kalau memutar harus melewati 3-4 desa," pungkasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#Belajar Online #jepara #pati #siswa #jembatan #ambruk