JEPARA — Musim Baratan menyebabkan nelayan tak dapat melaut. Sehingga pemerintah menyiapkan bantuan beras paceklik dari Beras Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Tahun 2026 stok CPP untuk Kabupaten Jepara sendiri terbilang tinggi, 72.625 kg atau sekitar 72,6 ton. Naik dari tahun sebelumnya yang hanya sebesar 56.645 kg atau 56.6 ton.
Kepala DKPP Jepara Mudhofir melalui Kabid Ketahanan Pangan Aprilia Elisiawati menyampaikan pada musim-musim Baratan ini HNSI mengusulkan beras paceklik hingga 45 ton.
Sementara saat ini, CPP yang tersisa ialah 59.935 kg atau 59,9 ton.
Sebelumnya CPP telah disalurkan dalam Penyaluran Beras Desa Rawan Pangan Sowan Kidul 1.240 kg. Desa Gerdu 935 kg. Desa Paren 2.250 kg.
Desa Batukali 3.175 kg. Desa Kaliombo 180 kg. Desa Welahan 2.140 kg. Desa Ketilengsingolelo 180 kg. Desa Bugo 100 kg. Desa Kedungsarimulyo 30 kg. Desa Clering 200 kg. Desa Kalipucang Wetan 100 kg.
Serta, telah disalurkan seperti untuk Dapur umum Desa Damarwulan 200 kg. Dapur umum Desa Sowan Kidul 300 kg. Dapur umum Desa Gerdu 150 kg. Dapur umum Kalinyamatan 1.500 kg.
Pihaknya menyebutkan, CPP disalurkan oleh sebab potensi kerawanan pangan. Seperti terjadinya bencana alam, baik yang kronis maupun transient. Baik bencana alam banjir, tanah longsor, dan sejenisnya.
"Dari 59,9 ton dikurangi 45 ton masih tersisa 14 ton. Belum lagi dropping kepada masyarakat Karimunjawa 10 ton pada Sabtu (24/1). Masih tersisa sekitar 4 ton saja," jelasnya.
Ia menyampaikan, Karimunjawa sekalipun tak semuanya ialah nelayan namun distribusi CPP menjadi penting.
"Kalau di Jepara, musim Baratan tidak bisa melaut. Sedangkan kalau di Karimunjawa akses tidak bisa ditembus, distribusi (penyeberangan kapal off, red)," terangnya.
Idealnya masing-masing KK yang terdampak bencana ataupun musim Baratan, mendapatkan bantuan CPP 5 kg.
"Kalau sudah terdistribusi sisa 4 ton. Menipis. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Apakah perlu adanya penambahan, karena gudang cadangan pangan tidak boleh kosong (habis, red), jadi bisa minta tambahan," pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa