JEPARA - Banjir kembali menggenangi wilayah Jepara bagian selatan sejak Senin (12/1).
Tumpukan eceng gondok dan sedimentasi sungai disebut menjadi salah satu pemicu meluapnya air ke permukiman warga.
Sejumlah sungai di Desa Ujungpandan, Kecamatan Welahan, hingga Karanganyar dan Gedangan, dinilai membutuhkan normalisasi segera agar banjir tidak terus berulang.
Camat Welahan, Suhadi, menyampaikan bahwa kondisi sungai di wilayah Jepara Selatan saat ini memerlukan penanganan serius. Aliran sungai tersumbat akibat sedimentasi dan tutupan eceng gondok yang menghambat debit air.
“Perlu penanganan khusus dengan ekskavator PC200 long arm,” ujar Suhadi.
Di Dukuh Karangpandan, Desa Ujungpandan, tutupan eceng gondok di badan sungai mencapai sekitar 50 hingga 70 meter.
Kondisi tersebut membuat aliran air mampet, terutama saat debit meningkat.
Selain menutup permukaan sungai, akar eceng gondok di lokasi tersebut diketahui menembus hingga kedalaman sekitar satu meter.
Hal ini menyulitkan pembersihan jika tidak menggunakan alat berat berkapasitas besar.
Salah satu titik krusial berada di sekitar Jembatan Cinta Ujungpandan.
Di lokasi ini, aliran sungai kerap tersendat karena tertutup tanaman air invasif tersebut, sehingga air mudah meluap ke permukiman warga.
Pihak Kecamatan Welahan telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Jepara terkait rencana penanganan.
Namun saat ini, alat berat masih difokuskan untuk pemulihan akses jalan dan pembersihan material longsor di Desa Tempur, Kecamatan Keling.
“Normalisasi saluran direncanakan setelah penanganan longsor Tempur, menunggu kesiapan alat dan personel,” jelasnya.
Untuk percepatan pekerjaan, Suhadi menegaskan dibutuhkan ekskavator berkapasitas besar, idealnya PC200 atau setara 20 ton dengan spesifikasi long arm agar mampu menjangkau bagian tengah sungai.
Saat ini, alat yang tersedia baru ekskavator PC 7,5 ton milik PUPR, yang dinilai belum optimal untuk menangani sungai dengan lebar dan kedalaman seperti di wilayah Welahan.
Camat Welahan berharap rehabilitasi pascabanjir dapat segera dilanjutkan dengan dukungan lintas instansi agar risiko banjir di Jepara Selatan tidak terus berulang.
“Kami memahami fokus penanganan masih di Tempur, namun normalisasi sungai ini juga mendesak,” pungkasnya. (Fik/war)