JEPARA — Hampir sepekan, sejak Jumat (9/1) lalu, bencana longsor mengepung Desa Tempur Kecamatan Keling. Tidak ada korban jiwa.
Namun kerugian materiel, baik fasilitas umum maupun rumah dan barang milik warga ditaksir mencapai miliaran rupiah.
Berdasarkan inventarisasi BPBD Jepara dan para relawan serta warga, terdapat 24 titik longsor. Belum lagi longsoran kecil yang tak terhitung jumlahnya. Air terjun baru menganak sungai, mengalir dari atas bukit, melewati jalan utama.
Di beberapa titik, batuan besar dengan berat berton-ton masih belum dapat disingkirkan dari jalan. Belum lagi jalan sepanjang 60-80 meter yang putus. Hilang digerus aliran sungai. Sebab, itulah akses masih terputus.
Alat berat belum menjangkau titik longsor terparah. Karena belum dapat naik, imbas jalan putus.
Wartawan Radar Kudus sampai di Posko Destana Damarwulan pada Sabtu (10/1) siang. Di titik inilah dapur umum pertama kali didirikan, untuk menyuplai kebutuhan warga Desa Tempur maupun warga Desa Sumbberrejo Kecamatan Donorojo yang terdampak banjir bandang.
Jarak antara pokso tersebut dengan jalan putus di daerah Kaliombo Sungai Gelis, membutuhkan waktu tempuh sekitar 10 menit.
Di titik inilah kendaraan roda empat sudah tak dapat melintas. Dua hari pertama pascabencana, akses tertutup total. Mengisolasi dan memberi dampak 3642 jiwa dari 1346 KK Desa Tempur.
Sepeda motor roda dua mulanya juga tak dapat melintas. Warga kemudian bekerja bakti mengepras bukit berbatu yang berada di selatan jalan pada Minggu (11/1). Jalan yang mulanya tinggal setapak, jadi memiliki lebar satu meter.
Tak berhenti di situ. Ganasnya arus sungai terus menggerus sisa-sisa jalan yang menempel pada area perbukitan. Tak ayal, pada Senin (12/1) warga harus menebang pohon, digunakan sebagai penyambung badan jalan yang tersisa
Listrik dan jaringan sempat mati. Baru mulai nyala pada Minggu (11/1) malam. Beberapa warga memanfaatkan genset untuk menerangi rumah dan mengisi daya barang elektronik. Namun, sinyal tetap saja down.
Pada Selasa (13/1) listrik sempat terkendala lagi. Beruntung petugas PLN berhasil menangani kembali. Hingga Rabu (14/1) sinyal dikabarkan mulai membaik, meskipun acapkali juga masih terkendala jaringan.
Warga Tempur mengalami masa-masa sulit pascabencana setidaknya sejak Jumat-Minggu (9-11/1). Seiring dengan itu bantuan logistik, BBM, dan sejenisnya mulai berdatangan.
Pada Minggu (11/1), Wartawan Radar Kudus harus berjalan kaki melewati akses yang terputus. Termasuk naik ke area titik terparah. Tak sedikit titik jalan yang belum dapat dibersihkan.
Sehingga, hanya motor trail ataupun yang telah dimodifikasi, yang dapat menerobos tumpukan lumpur, materiel yang dibawa banjir. Di beberapa titik, warga membuat jembatan darurat dari kayu secara mandiri.
Dapur umum terus memasak. Menyuplai makanan siap santap untuk para warga dan relawan yang terus bekerja. Dari pagi hingga malam.
Wartawan juga turut ambil bagian, turut membantu dropping buffer stock pangan. Termasuk mendapati jatah makanan dapur umum. Menu di hari-hari pertama, sayur terong dan telur dadar yang diiris. Belakangan terakhir, menunya berganti lebih variatif, hingga terdapat jeroan daging ayam.
Selain akses jalan yang masih sulit, cuaca di Desa Tempur nyaris tak dapat diprediksi. Lima hari terakhir, sejak Jumat (9/1) matahari nyaris tak terlihat. Hujan sehari-hari. Pagi dan malam tak luput dari kabut.
Jaringan atau provider juga acapkali down. Beruntung di Posko Destana Damarwulan terdapat internet fiber milik BPBD Jepara. Sehingga memungkinkan Wartawan Radar Kudus tetap mengirimkan foto dan berita dari lokasi kejadian. Meskipun juga perlu memakan waktu dalam proses pengungahan.
Untuk tidur, para relawan mencari tempat tidur masing-masing. Menyasar lantai yang kering. Di rumah-rumah warga maupun musala. Beralaskan karpet dan berselimut sarung.
Wartawan juga kebagian tidur di samping tumpukan bantuan 2,5 ton beras. Beralaskan terpal berwarna biru yang juga digunakan untuk menyelimuti bahan pangan tersebut.
Sekalipun dikepung longsor, psikologi masyarakat tampak tangguh. Semuanya berjibaku, ambil bagian. Di bawah derasnya hujan bolak-balik 10 hingga 15 kali untuk melangsiri bantuan yang masuk. Dari titik jalan putus hingga jantung Desa Tempur.
Bahkan, di tengah bencana, terdapat seorang ibu yang melahirkan, dibantu oleh dua bidan. Mereka berjalan kaki tiga jam pada Sabtu (10/1) untuk sampai di PKD Desa Tempur.
Bahkan, terdapat warga yang tetap tandur (menanam) padi. Bencana tak lantas meluluhlantakkan aktivitas sosial-ekonomi warga. Masyarakat tetap berjuang. Yang memiliki kambing ataupun sapi juga tetap mencari rumput.
Selama di lapangan dan mendokumentasikan wartawan harus mengenakan jas hujan. Beberapa kali handphone maupun handycam yang dibawa harus kemasukan air. Hingga beberapa kali harus direndam menggunakan beras agar dapat mengeluarkan airnya.
Hingga Rabu (14/1), terpantau sejumlah ekskavator belum dapat menyambung jalan yang putus. BPBD Jepara belum dapat memastikan proses pemulihan memakan waktu berapa lama. Mengingat cuaca yang amat fluktuatif.
Sekretaris Desa Tempur Mahfudz Aly menyampaikan di antara kerugian yang paling besar, di alami oleh warga Dukuh Kemiren RT 1/RW 1, Desa Tempur, Pairan. Area rumah usaha penggilingan kopi rusak total, tersapu longsor. Mesin penggilingan dan kopi 5 ton hanyut. Kerugian Ditaksir mencapai Rp 530 juta.
"Untuk alat berat, sudah mulai bekerja buka akses, terutama di sebelah spot foto Selamat Datang Desa Wisata Tempur (Kaliombo Sungai Gelis, red)," tanggapnya pada Rabu (14/1).
Menurutnya bantuan logistik juga terus berdatangan. Relawan melangsir hingga Posko di Desa Tempur.
Kondisi cuaca terkadang hujan terkadang terangnya. Namun lebih dominan hujan. "Listrik kini sudah sepenuhnya pulih, tapi untuk jaringan namanya di pegunungan juga kadang terkendala. Seperti provider Telkomsel itu ikut mati kalau listrik mati," imbuhnya.
Sebelumnya repeater untuk HT pun tersambar petir. Sehingga menyulitkan BPBD dan relawan untuk saling berkomunikasi satu sama lain. Utamanya dari Posko Destana Damarwulan dengan Posko Desa Tempur.
"Kalau saat ini yang dibutuhkan ialah bantuan bagi relawan (warga, red). Seperti sepatu boat dan jas hujan. Karena mereka kerja dari pagi sampai sore. Satu orang bolak-balik 10-15 kali," ucapnya.
Mahfudz menyebutkan, sementara ini rumah maupun usaha yang terdampak terdapat 11 titik.
"Termasuk penggilingan kopi beserta simpanan kopi tadi. Namun kini mulai masuk donatur, dari perorangan atau swasta. Bantuan dari instansi atau pemerintah yang masuk juga kami distribusikan secara merata. Saat ini sudah putaran kedua," katanya.
Pihaknya berharap, jalan yang terputus dapat segera tersambung. Sehingga proses pemulihan ataupun pembersihan jalan atas materiel longsor segera dilakukan.
"1200-an KK semuanya dapat bantuan. Yang paling parah juga dapat double (perorangan ataupun distribusi yang dilakukan pihak desa, red)," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya