JEPARA — Akses jalan menuju Desa Tempur, Kecamatan Keling, terputus hingga 80 meter. Aspal dan bahu jalan hilang. Tergerus aliran sungai.
Kondisi ini membuat distribusi logistik, ke wilayah terdampak longsor terhambat.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, mengatakan hasil survei lapangan pada Sabtu (10/1) sore menunjukkan kerusakan cukup parah.
Pihaknya telah menyisir beberapa alternatif jalan. Utamanya untuk dapat mendistribusikan logistik ke Desa Tempur.
Proses penanganan terkendala cuaca yang tidak menentu. Hujan masih saja turun dengan intensitas tinggi.
Dari hasil survei sekitar pukul 17.00 WIB, jalan rusak sepanjang 60 sampai 80 meter.
"Aspalnya sudah hilang, tinggal bahu jalan saja,” ujar Arwin pada Sabtu (10/1) pukul 20.00.
Menurutnya, longsor maupun gerusan badan jalan diperkirakan masih berpotensi terjadi.
Terutama di kawasan Kaliombo.
Arus air yang deras, kiriman dari hulu, dikhawatirkan dapat kembali menggerus badan jalan jika hujan turun semalaman.
"Kami sudah survei lapangan, hingga atas ataupun di bawah Dukuh Kemiren Desa Tempur. Sedang mencari jalan alternatif. Kalau bisa aksesnya tidak hanya satu jalur saja," tegasnya.
BPBD bersama tim gabungan telah melakukan pembersihan material longsor.
Namun, Arwin menegaskan bahwa membuka akses utama di wilayah Kaliombo tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.
“Kalau untuk membuka akses Kaliombo saja, tidak cukup satu atau dua minggu. Ini butuh penanganan serius,” jelasnya.
Sebagai langkah darurat, BPBD mulai menyiapkan jalur alternatif untuk pengiriman logistik ke Desa Tempur. Salah satu opsi yang disurvei adalah jalur melalui Medono.
“Besok (Minggu) kami perintahkan tim untuk survei jalur lewat Medono. Rencananya rombongan motor trail bisa masuk lebih dulu,” kata Arwin.
Jika kondisi jalur alternatif menyerupai aliran sungai atau tertutup material berat, BPBD akan mengerahkan alat berat berupa ekskavator untuk membuka akses.
Termasuk untuk pembersihan di dalam wilayah Desa Tempur yang terdampak longsor.
Arwin menambahkan, setelah titik longsor besar di Kaliombo, kendaraan ataupun alat berat dengan muatan berat hingga 20 ton masih terkendala karena kondisi jembatan yang sempit.
“Hambatan kami salah satunya jembatan sempit, jadi mobilisasi alat dan logistik harus sangat diperhitungkan,” ungkapnya.
Saat ini BPBD Jepara bersama relawan terus bersiaga di lokasi. Tepatnya di Posko Destana Damarwulan yang juga digunakan sebagai dapur umum.
Pihaknya ingin memastikan distribusi bantuan tetap berjalan dan keselamatan warga terdampak tetap terjaga.
"Jumlah anggota kami (BPBD, red) serta relawan gabungan mencapai 70 orang lebih. Kami akan berusaha semaksimal mungkin," pungkasnya.(fik)
Editor : Ali Mustofa