JEPARA — Bencana longsor besar yang melanda jalur Kajang–Tempur menyebabkan wilayah Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, terisolasi total sejak Jumat (9/1) malam.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Jepara resmi menaikkan status penanganan bencana. Dari siaga darurat menjadi tanggap darurat.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara, Arwin Noor Isdiyanto, mengatakan akses menuju Tempur sudah terputus sejak sekitar pukul 21.00 WIB.
Upaya pembukaan jalur sempat dilakukan, namun terkendala hujan deras dan longsor susulan.
“Jadi tadi malam sudah terisolasi sekitar jam 9 malam. Kami berusaha membuka akses jalur karena ada ambulans yang terjebak. Tapi dalam prosesnya hujan deras dan longsornya cukup tinggi,” ungkap Arwin saat ditemui di Posko Destana Damarwulan, pada Sabtu (10/1) pukul 13.30.
BPBD bersama tim relawan gabungan akhirnya memprioritaskan evakuasi ambulans yang terjebak.
Setelah ambulans berhasil dievakuasi, tim menghentikan sementara upaya pembukaan jalan, karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan dan risiko keselamatan petugas.
Upaya penanganan utamanya pembukaan jalur kemudian dilanjutkan pada Sabtu (10/1) pagi.
“Ada sekitar 18 titik longsor besar. Yang kecil-kecil itu banyak sekali dan sifatnya parsial,” jelasnya.
Selain menutup akses jalan, longsor juga berdampak pada permukiman warga.
Tercatat tiga rumah terdampak longsor. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian material cukup besar.
“Tidak ada korban jiwa. Korban harta ada, di antaranya beberapa puluh ekor kambing dan stok kopi milik warga,” katanya.
Melihat skala bencana yang dinilai sangat masif, BPBD Jepara langsung melakukan konsolidasi lintas sektor dan mengusulkan peningkatan status penanganan bencana.
Status tanggap darurat ditetapkan untuk mempercepat mobilisasi sumber daya dan penanganan di lapangan.
“Kemarin (Jumat, red) statusnya siaga darurat, sekarang kami naikkan menjadi tanggap darurat untuk percepatan penanganan lintas sektoral,” tegasnya.
Dalam masa tanggap darurat ini, BPBD mengerahkan personel gabungan ke wilayah terdampak, termasuk mendirikan dapur umum.
Penempatan dapur umum dipusatkan di Desa Damarwulan. Karena kondisi banjir bandang di wilayah Sumberrejo yang hingga kini belum surut.
“Dari Sumberrejo banjir bandang sampai sekarang belum surut. Debit air Sungai Pasokan juga masih tinggi, kami khawatir melimpas lagi. Karena itu dapur umum kami tempatkan di Damarwulan,” jelasnya.
Dapur umum berlokasi di Posko Destana Damarwulan yang dijadikan pos lapangan.
Logistik makanan disiapkan untuk warga Sumberrejo, relawan, serta petugas yang bekerja di wilayah Tempur.
"Harapan kami yang jelas tidak ada korban jiwa, kami meminimalisir korban harta. Kami tangani secepatnya. Dalam masa tanggap darurat paling utama pemulihan sarana vital (akses jalan, red)," tandasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya