Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Viral Tahlilan di Prambanan, Kemenag Jepara Temukan Pengakuan yang Tak Sinkron

M. Khoirul Anwar • Jumat, 9 Januari 2026 | 17:05 WIB

TABAYYUN: Jajaran pegawai Kemenag Jepara serta tokoh agama tengah bersilaturahmi ke saung milik Ahmad Rifai yang berada di Dukuh Buaran Desa Karangrandu baru-baru ini.
TABAYYUN: Jajaran pegawai Kemenag Jepara serta tokoh agama tengah bersilaturahmi ke saung milik Ahmad Rifai yang berada di Dukuh Buaran Desa Karangrandu baru-baru ini.


JEPARA — Ritual tahlilan yang dilakukan sekelompok jamaah di kawasan Candi Prambanan terus berbuntut panjang.

Di balik video viral itu, Kementerian Agama Kabupaten Jepara menemukan sejumlah keterangan yang dinilai tidak sinkron dari pimpinan jamaah, Ahmad Rifai (47).

Hal tersebut terungkap setelah Kemenag Jepara melakukan tabayyun dan pendalaman terhadap Rifai, yang memimpin Majelis Zikir Mujahadah Tauhid Eyang Semar Sabdo Palon di Dukuh Buaran, Desa Karangrandu, Kecamatan Pecangaan.

“Keterangan yang disampaikan berubah-ubah,” ujar Kasi Bimas Islam Kemenag Jepara, Samsul Arifin.

Dalam klarifikasi awal, Rifai menyebut ritual di Candi Prambanan sudah direncanakan sejak dari rumah.

Namun pada penjelasan berikutnya, ia justru mengaku tidak memiliki niat sama sekali.

Versi ketiga pun muncul. Rifai menyatakan keinginan melakukan ritual baru muncul setelah membeli tiket masuk kawasan candi. Ia mengaku mendapat wangsit dari leluhur, Roro Jonggrang, untuk melepaskan kutukan Bandung Bondowoso melalui pembacaan kalimat tauhid.

“Ini yang menjadi perhatian kami,” kata Samsul.

Rifai diketahui tidak hanya melakukan zikir di Prambanan. Pada Kamis (25/12/2025), ia bersama jamaahnya menggunakan dua elf bus berkeliling ke sejumlah lokasi, mulai Pantai Parangtritis, Makam Syekh Maulana Maghribi, Candi Prambanan, hingga Candi Borobudur di Magelang.

Meski kegiatannya menuai sorotan, Rifai menyatakan siap berdiskusi dan mempertanggungjawabkan aktivitas yang dipimpinnya.

Namun, Kemenag juga menyoroti klaim Rifai sebagai mursyid atau pemimpin spiritual. Ia mengaku tidak ditunjuk guru, melainkan langsung oleh Allah melalui perjalanan ruhani. Klaim ini dinilai bertolak belakang dengan ceritanya sendiri.

“Beliau juga menyampaikan sudah dipilih guru, membawa nur Muhammad, dan siap memimpin jamaah. Ini yang kami catat sebagai perbedaan keterangan,” jelas Samsul.

Rifai mulai merintis padepokan dan majelis zikirnya sejak 2019, setelah diminta gurunya dari Cipondoh, Tangerang, untuk pulang ke Jepara. Kegiatan mujahadah dilakukan rutin setiap malam setelah Isya, dengan jamaah aktif sekitar 40 orang dan total pengikut mencapai 100 orang.

Selain zikir, Rifai juga membuka praktik pengobatan. Namun berdasarkan pantauan Radar Kudus, bacaan yang digunakan saat pengobatan tidak terdengar ayat Alquran maupun kalimat tayyibah. Doa yang dibacakan didominasi campuran bahasa Jawa dan Indonesia.

Hanya beberapa frasa Arab yang terdengar, seperti “Allah”, “Nur Muhammad”, dan “Kun Fayakun”, disertai istilah seperti Cagak Bumi dan Sisir Samudra.

Rifai juga mengaku memiliki pengalaman ruhani, mulai dari berteman dengan Nabi Khidir, bertemu Nabi Isa dan Nabi Muhammad, hingga menerima pesan dari Syekh Abdul Qadir Jailani dan Sunan Muria.

Atas kondisi tersebut, Kemenag Jepara menegaskan perannya sebagai pembina dan pengawas aliran keagamaan agar aktivitas dilakukan sesuai ajaran dan tidak menimbulkan keresahan.

“Kami minta kegiatan dilakukan pada tempatnya, agar tidak mengganggu umat beragama lain,” tegas Samsul.

Saat ini, Kemenag masih melakukan pendalaman dan menugaskan penyuluh agama di Kecamatan Pecangaan untuk memantau aktivitas padepokan Rifai. (fik/war)

Editor : Mahendra Aditya
#kemenag #candi prambanan #zikir #ritual #majelis #tabayyun #tahlil #viral