JEPARA — Tahun baru semangat baru. Lamat-lamat suara tabuhan kentrung terdengar mengalun. Bersahut-sahutan.
Suara tersebut berasal dari halaman rumah Mbah Parmo, Sang Maestro Kentrung asal Jepara.
Geliat anak muda tampak mulai lahir kembali. Khususnya dalam hal pelestarian kesenian tradisional, kentrung.
Setelah Sekolah Rakyat Kentrung Jepara (SRKJ) konsisten mendampingi para siswa di Desa Langon, Kecamatan Tahunan. Kini Yayasan Jaringan Budaya Untuk Perkembangan Jepara (Jungpara) menggelar acara yang mengusung tema, "Kawitan Pentas; Jepara Kentrung Centre".
Agenda yang berlangsung pada Jumat (2/1) malam ini, menampilkan pengentrung Gen Z. Mereka merupakan anak didik SRKJ, yang selama beberapa bulan telah berlatih.
Sekelompok ABG ini ialah pelajar dari beberapa SD dan SMP. Sebagaimana diketahui, Kentrung sendiri telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) sejak 2023 lalu.
Inisiator acara sekaligus Ketua Yayasan Jungpara Ramatyan Sarjono menyebutkan, agenda awal tahun ini sengaja menggunakan label "kawitan". Dimaksudkan sebagai penanda agenda pementasan direncanakan akan diadakan secara rutin.
"Kami punya obsesi ke depan kawasan tempat tinggal mbah Parmo ini, menjadi pusat pelestarian Kentrung Jepara. Kami menyebutnya sebagai Jepara Kentrung Centre" ujarnya pada Jumat (2/1).
SRKJ sendiri telah memberikan pelatihan bermain kentrung, khususnya kepada generasi muda. Mulai dari pelajar SD, SLTP dan SLTA.
Bahkan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk dari Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat.
Beberapa waktu lalu, telah diberikan bantuan sejumlah alat kentrung.
Mbah John, sapaan akrabnya menjelaskan bahwa Jepara Kentrung Centre bisa menjadi salah satu destinasi wisata budaya.
Mengingat di wilayah Jepara sendiri wisata budaya masih terbilang minim.
"Di sini nantinya ada jadwal pentas kentrung, baik oleh maestro mbah Parmo maupun pengentrung generasi muda. Tentu ini bisa menjadi salah satu alternatif kunjungan wisatawan yang datang ke Jepara," ucapnya.
Saat ini, para pengurus yayasan tengah berupaya mematangkan ide tersebut.
Sebab, saat ini rumah tinggal sang maestro masih tergolong kategori Rumah Tak Layak Huni (RTLH).
"Semoga tahun 2026 ini ada bantuan renovasi, agar proses belajar kentrung bisa nyaman," katanya.
Hal senada juga dilontarkan Arif Sunarwan, pengentrung muda yang juga cucu dari Mbah Parmo.
“Jika bantuan renovasi itu terealisasi, nanti akan dilakukan penataan space halaman rumah. Termasuk pembuatan panggung permanen dan area penonton. Pagelaran yang pertama ini memang hanya bisa digelar di teras secara sederhana” sambungnya.
Salah satu pengunjung yang juga Kepala Sekolah SD Negeri di Jepara, Ahmad Rifai memandang positif adanya ide Jepara Kentrung Centre ini.
Menurutnya jika terealisasi akan menjadi salah satu alternatif baru dalam dunia kepariwisataan di Jepara.
“Dengan adanya Jepara Kentrung Centre ini, tentu bisa menjadi satu paket wisata dalam program eduwisata khususnya untuk wilayah kecamatan Tahunan,” katanya.
Warga masyarakat yang tinggal di sekitar tempat tinggal mbah Parmo juga menyambut baik adanya ide Jepara Kentrung Centre ini.
Seperti diungkapkan Jumadi Jawol. Ia menyebutkan, jika di tempat tersebut terdapat pusat keramaian, sekalian lingkup kecil tentu akan berdampak secara ekonomi yang akan ikut dirasakan oleh warga sekitar.
"Oleh karena itu kami menyambut baik rencana ini, berharap adanya dukungan dari pemerintah baik pemerintah desa, kecamatan, maupun kabupaten,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan oleh Pengurus Yayasan Jungpara, Joharta Adi. Menurutnya, di awal 2026 ini Yayasan Jungpara akan menggelar 'Workshop Bermain Kentrung'. Melibatkan seluruh lembaga pendidikan khususnya SD dan SMP.
“Nanti semua SD dan SMP yang berada di bawah naungan Disdikpora akan diundang untuk mengirim satu orang guru mengikuti workshop,” jelasnya.
Lebih lanjut, dikatakan, setelah guru mengikuti workshop, selanjutnya dapat melatih muridnya. Hasil pelatihan sang guru akan dilombakan secara berjenjang dari tingkat kecamatan hingga kabupaten.
“Kami berharap dinas terkait dalam hal ini Disdikpora turut memberikan dukungan, adanya workshop ini sekaligus mengakomodir kentrung menjadi salah satu mata lomba lokal di FLS3N atau FTBI,” harapnya.
Ketua umum Dewan Kesenian Daerah Kustam Ekajalu juga menyinggung program Bupati Jepara. Khususnya dengan mengusung tagline Lestari.
Sehingga dinilai perlu membangun ruang kreatif dan wahana seni budaya. Itu penting, sebagai titik balik atas Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
"Ini memiliki dampak besar. Seperti salah satunya pembangunan dan pemanfaatan Jepara Kentrung Center. Tanpa melakukan hal tersebut, sama saja pemerintah daerah abai terhadap pelestarian WBTb," sebutnya.
Menurutnya, berbagai upaya yang dilakukan Yayasan Jungpara, sebagai rangka melestarikan salah satu kekayaan lokal daerah. Kentrung Jepara.
Di samping itu, adanya workshop yang melibatkan seluruh satuan pendidikan se-Jepara akan menciptakan ingatan kolektif. Memupuk kebanggaan. Apalagi dengan agenda pamungkas yaitu pengadaan lomba berjenjang.
"SDM dipersiapkan, tinggal bagaimana dukungan akan ruang dan kerja kebudayaan. Pemda juga perlu menyelaraskan aturan dan kebijakannya," pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya