JEPARA — Pembatalan penyeberangan kapal feri KMP Siginjai menuju Karimunjawa dipastikan terjadi akibat kerusakan mesin.
Hingga kini, proses perbaikan kapal tersebut belum dapat dipastikan akan rampung hingga kapan. Lantaran masih menunggu hasil identifikasi tingkat kerusakan.
Kepala Seksi Kepelabuhanan Dinas Perhubungan (Dishub) Jepara, Lutfi Fuadi, menyebutkan bahwa kendala teknis berupa kerusakan mesin terjadi sejak sehari sebelumnya, yakni pada Kamis (25/12).
Atas kondisi tersebut, kapal tidak diberangkatkan demi alasan keselamatan penumpang.
“Memang ada kendala teknis, ada kerusakan mesin kemarin, sehingga tidak diberangkatkan. Untuk perbaikannya sampai kapan, kami belum tahu,” ujar Lutfi pada Jumat (26/12).
Ia menjelaskan, lamanya proses perbaikan sangat bergantung pada tingkat kerusakan yang terjadi pada mesin kapal.
Jika kerusakan bersifat ringan dan hanya membutuhkan perbaikan tanpa penggantian suku cadang, maka perbaikan bisa dilakukan dalam waktu relatif cepat.
“Kalau kerusakannya hanya butuh perbaikan saja tanpa onderdil, bisa cepat. Tapi kalau harus ada penggantian suku cadang, ya menunggu suku cadangnya dulu tersedia,” jelasnya.
Berdasarkan pengamatan di lapangan, hingga Jumat (26/12) sore kapal feri Siginjai masih bersandar di pelabuhan dan belum terlihat aktivitas perbaikan besar.
Hanya terdapat sopir bus PDAM yang melakukan pengisian air bersih dalam kapal.
Dek kapal yang biasanya penuh dengan kendaraan roda dua, mobil hingga truk tidak terlihat.
Sedangkan di bagian luar kapal KMP Siginjai, tampak sejumlah warga yang tengah memasukkan material bangunan ke kapal layar milik warga. Termasuk beberapa warga lainnya, dengan koper dan belanjaan yang lain ke atas kapal. Berdesak-desakan.
Terkait kelayakan kapal, Lutfi memastikan bahwa setiap kapal penyeberangan memiliki jadwal perawatan rutin. Dari pihak operator kapal, terdapat perawatan tahunan yang dilakukan secara berkala.
“Dari pihak kapal itu ada perawatan tahunan, setiap tahun. Biasanya dilakukan di awal tahun,” katanya.
Ia juga menegaskan, sebelum memasuki masa libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) ini, pihak Syahbandar bersama instansi terkait telah melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kapal-kapal yang beroperasi.
“Kemarin sebelum libur Nataru, dari Syahbandar sudah melakukan ramp check. Semua dicek, mesin, radio, dan kelengkapan lainnya,” terangnya.
Menurutnya, jika Syahbandar telah memberikan izin berlayar, maka secara administratif dan teknis kapal telah memenuhi standar minimum keselamatan. Namun demikian, kendala teknis tetap dapat terjadi di luar perkiraan.
“Kalau Syahbandar sudah memberi izin berlayar, berarti standar minimum terpenuhi. Tapi di luar itu, kadang memang masih bisa terjadi kendala teknis,” katanya.
Di samping itu, Lutfi menambahkan, pihaknya juga mengimbau masyarakat dan wisatawan yang hendak berlibur ke Karimunjawa agar lebih waspada terhadap kondisi cuaca yang saat ini tidak menentu.
Menurutnya, faktor cuaca menjadi salah satu tantangan utama penyeberangan laut, terutama pada periode akhir dan awal tahun.
“Imbauan kami bagi yang mau liburan ke Karimunjawa, harus lebih waspada dengan cuaca. Cuaca sekarang tidak menentu,” katanya.
Ia menegaskan, wisatawan yang benar-benar memiliki rencana perjalanan ke Karimunjawa harus siap dengan segala kemungkinan yang terjadi di laut. Sewaktu-waktu, kondisi perairan dapat berubah secara cepat.
“Bisa tiba-tiba ada ombak besar, gelombang tinggi, angin kencang. Kalau seperti itu, keberangkatan kapal bisa ditunda atau dibatalkan,” ujarnya.
Tidak hanya penumpang yang akan berangkat dari Jepara, menurut Lutfi, penumpang yang sudah berada di Karimunjawa juga berpotensi terdampak. Dalam kondisi tertentu, kapal yang seharusnya berlayar kembali ke Jepara bisa mengalami penundaan.
“Kalau kondisi tidak memungkinkan, yang mau berangkat bisa tidak jadi berangkat, dan yang sudah di sana juga bisa mundur kepulangannya,” jelasnya.
Lutfi juga menyampaikan bahwa berdasarkan prediksi, kondisi gelombang laut pada awal tahun cenderung tinggi.
Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi oleh operator kapal maupun calon penumpang.
“Prediksi di awal tahun memang cenderung gelombangnya tinggi,” ujarnya.
Sementara itu, dari pantauan di Pelabuhan Penyeberangan Jepara, sejumlah wisatawan yang terdampak pembatalan masih menunggu kepastian jadwal baru.
Sebagian memilih mengalihkan keberangkatan menggunakan kapal cepat yang berangkat pada Jumat (26/12) pukul 13.30.
Sementara lainnya memutuskan menunda atau membatalkan rencana liburan karena keterbatasan waktu dan biaya.
Litfi menyampaikan, Dishub Jepara menyatakan akan terus berkoordinasi dengan operator kapal dan Syahbandar untuk memantau perkembangan perbaikan KMP Siginjai serta memastikan keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama.(fik)
Editor : Mahendra Aditya