Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Semuria Jadi Ajang Apresiasi Seni dan Budaya di Jepara, Ragam Pertunjukan Tradisi Warnai Perhelatan

Fikri Thoharudin • Jumat, 12 Desember 2025 | 23:47 WIB
ANTUSIAS: Para siswa bawakan penampilannya di hari terakhir Semuria pada Jumat (12/12).
ANTUSIAS: Para siswa bawakan penampilannya di hari terakhir Semuria pada Jumat (12/12).

JEPARA – Gelaran Semarak Museum RA Kartini Jepara (Semuria) kembali menjadi ruang apresiasi seni dan budaya di Kabupaten Jepara. 

Perhelatan yang digelar di Museum RA Kartini (eks Pendapa Kabupaten) ini dihelat selama dua hari, pada Kamis-Jumat (11-12/12)menampilkan beragam seni pertunjukan sekaligus menjadi momentum penting untuk menguatkan pelestarian budaya lokal. 

Sejak awal acara dibuka, ratusan pengunjung terlihat antusias menyaksikan penampilan yang disajikan secara bergantian di panggung utama.

Pada hari terakhir, Jumat (12/12) juga diberikan berbagai macam penghargaan bagi seniman dan budayawan daerah.

Pra acara di hari kedua, dibuka dengan pertunjukan sendratari dan barongan oleh siswa SDN 1 Batealit. Gerakan para penari cilik yang penuh energi serta iringan musik tradisional membuat suasana pagi langsung hidup. 

Tak lama kemudian, siswa SLB Jepara turut naik ke panggung membawakan Tari Gambyong sebagai penyambut. Penampilan ini menuai apresiasi pengunjung karena para penari mampu menampilkan koreografi yang lembut, rapi, dan penuh penghayatan.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Jepara Ali Hidayat, menilai Semuria menjadi ruang penting untuk nguri-nguri atau merawat budaya Jawa. 

Menurutnya, perhelatan seperti ini menjadi upaya nyata dalam menghidupkan kembali seni tradisi dan memberi tempat bagi para pelaku seni agar tetap berperan aktif dalam pelestarian budaya daerah. 

“Ini dalam rangka menghidupkan seni dan budaya di Jepara. Seniman dan budayawan harus terus didukung,” ujarnya.

Deretan penampilan seni terus mengisi panggung tanpa jeda panjang. Sanggar Si Pakainge dari Desa Kemujan, Karimunjawa, menampilkan tarian khas kepulauan.

Disusul ketoprak wayang, dagelan duwok yang memancing gelak tawa, serta lomba kentrung yang memperlihatkan kreativitas seniman cilik. 

Perpaduan ragam kesenian ini menegaskan bahwa Jepara memiliki kekayaan budaya yang sangat luas.

Selain panggung utama, area museum juga menghadirkan pameran Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), permainan dolanan tradisional, serta stan yang memamerkan berbagai pernak-pernik dan karya budaya lokal. Termasuk pameran pusaka.

Anak-anak tampak gembira mencoba permainan tradisional, sementara pengunjung dewasa menikmati pameran dokumentasi budaya yang dipajang rapi di depan museum.

Pada saat yang sama, Wakil Bupati Jepara, M Ibnu Hajar, menyampaikan bahwa museum memiliki peran strategis sebagai pusat kebudayaan. 

Menurutnya, Museum Kartini bukan hanya ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga tempat masyarakat menyerap semangat perjuangan dan memahami identitas lokal. 

"Kami selalu mendukung kebudayaan di Jepara. Identitas kita seperti memedhen gadhu, horog-horog, dan berbagai WBTb lainnya sudah diakui. Ini harus terus dirawat,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, pemerintah juga menyerahkan penghargaan kepada para pemerhati seni dan budaya. 

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi kepada mereka yang berkontribusi dalam pelestarian seni, baik melalui praktik langsung, pendidikan budaya, maupun karya dokumentasi. Para penerima penghargaan pun tampak bangga.

Momen menarik melekat pada Ahmad Siswanto yang berjalan kaki setidaknya hampir enam jam atau sekitar 25 kilometer. Dari Desa Kancilan menuju Museum. 

Siswanto mengaku fanatik terhadap budaya Jawa dan terinspirasi oleh slogan Bupati Jepara. Ia bersama lima rekannya melakukan perjalanan kaki dari pukul 00.10 dini hari dan tiba sekitar pukul 05.30 pagi. 

Kedatangannya dibuat semakin istimewa karena ia membawa pusaka Kudi Tulak, karya Empu Tulakan, murid dari Empu Sukma Madura Angin. Pusaka tersebut kemudian ia hibahkan kepada Bupati sebagai simbol dukungan terhadap pelestarian warisan leluhur. 

“Saya ingin nguri-uri budaya. Pusaka ini saya serahkan agar tetap terjaga,” ujarnya.

Di sela-sela rangkaian acara, disampaikan pula data penerima apresiasi seni budaya yang diberikan pemerintah daerah sejak 2021.

Sepanjang empat tahun, penghargaan telah diberikan atas 21 kelompok/pelaku seni budaya pada 2021. 98 desa/kelurahan/pelaku seni budaya pada 2022. 30 pelaku seni dan budaya pada 2023 serta 43 pelaku seni dan budaya pada 2024.

Sementara untuk tahun 2025, Pemkab Jepara menyerahkan penghargaan kepada 62 pelaku budaya yang terdiri dari, yakni 5 maestro, 46 pelestari, 8 pelestari kategori anak, 3 pembaru atau pelopor seni budaya.

Para penerima penghargaan tersebut memiliki bidang khusus yang sangat beragam, meliputi, Bahasa Jeporan (dokumentasi), barongan, batik, dagelan, dalang, emprak, tari, kentrung, keroncong, ketoprak, macapat, musik, penari, pranatacara, sastra, sastra Jawa.

Termasuk sekolah budaya, seni teater, fotografi, dalang wayang, waranggana, tari tradisional, tenun atau batik, terbang telon, ukir, macan kurung, wayang orang, hingga wiraswara.

Piagam yang diberikan merupakan bentuk penghargaan bagi para penjaga eksistensi pelestarian seni dan budaya. Pemerintah berharap melalui apresiasi ini, para pelaku seni dapat terus mengembangkan bakat dan minat mereka, sekaligus memberi pengaruh dan manfaat luas kepada masyarakat Jepara.

Disebutkan, Semuria pun kembali menegaskan bahwa Jepara tidak hanya kaya akan warisan budaya, tetapi juga memiliki para penjaga tradisi yang terus berkomitmen merawatnya lintas generasi.

"Ini identitas kita bersama," tandasnya.(fik)

Editor : Mahendra Aditya
#jepara #pesisir #Semuria #mainan anak #ra kartini #Budaya #ruang aman #seni #museum