JEPARA — Pemerintah Kabupaten Jepara bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Jepara menyalurkan total 110 ekor kambing boer kepada warga kurang mampu sebagai langkah pemberdayaan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
Bantuan dengan total 110 ekor tersebut disalurkan dalam tiga tahap, dengan kloter pertama sebanyak 40 ekor yang diberikan kepada warga dari delapan desa.
Penerima pada tahap pertama meliputi, warga Desa Bantrung 4, Mindahan Kidul 2, Pekalongan 3, Batealit 10, Bringin 2, Ngasem 7, Bawu 10, dan Raguklampitan 2.
Semua kambing yang dibagikan merupakan betina yang telah kawin, dan sebagian besar dalam kondisi bunting.
Bantuan ini disambut antusias oleh para penerima. Puluhan warga yang sebagian baru pertama kali beternak kambing ini tampak sumringah.
Ali Mastho, 57, warga Desa Bantrung, tampak tersenyum lebar saat menerima satu ekor kambing boer. Senyumnya bahkan tak bisa ia sembunyikan ketika ditanya bagaimana perasaannya.
“Nggih remen (seneng, red). Baru pertama kali ini punya kambing. Belum pernah sama sekali merawat. Tapi Insyaallah nanti terbiasa, soalnya ada pendampingan,” ujarnya antusias sambil mengamati kambingnya di peternakan Paleboer Gatra Farm, Desa Bawu, Batealit Rabu (3/12).
Warga dari Desa Ngasem, Rasemo Rasil, 70, juga tidak mampu menyembunyikan perasaan bahagianya.
“Alhamdulillah, seneng. Dulu pernah punya kambing jawa, tapi cuma empat. Karena kebutuhan, ya saya jual semua. Ini dapat satu betina. Rencananya mau saya ternak sendiri lagi,” katanya.
Sementara itu, Adnan, warga Desa Pekalongan, mengaku bangga bisa mendapatkan kambing boer yang dikenal berbobot besar. Kambing boer bisa mencapai berat hingga 30-an kilogram.
“Wah, seneng banget. Saya di rumah punya empat kambing jawa. Kalau ini boer, ya semoga bisa jadi ilmu baru. Di pasaran juga potensial,” ujarnya.
Pemilik Peternakan Paleboer Gatra Farm, Desa Bawu Marsudi, menegaskan bahwa pihaknya akan melakukan pendampingan khusus agar kambing yang diterima warga bisa berkembang optimal.
“Kami kawal dari sisi regenerasi. Para peternak bisa membawa kambing ke sini kalau mau dikawinkan. Kalau tidak berhasil, akan kami kawinkan lagi,” jelasnya.
Ia juga memberikan peringatan mengenai perawatan harian. Kebersihan kandang wajib dijaga.
Pada pagi hari, kambing diusahakan tidak langsung dikeluarkan saat masih ada embun karena berisiko menimbulkan penyakit.
“Untuk menjaga genetik boer tetap murni, jangan dikawinkan silang sembarangan. Kalau kembali kawin dengan kambing jawa, ya kualitasnya turun,” tegasnya.
Ia mengatakan sejak awal peternakan Palebor dibangun, ia dengan yakin bermimpi dapat menjadikan sebagai semacam “kerajaan kambing boer” yang bisa mengangkat perekonomian daerah.
Ketua Baznas Jepara, Sholeh, menjelaskan bahwa penyaluran 110 ekor kambing ini menyasar warga miskin yang dinilai mampu mengelola ternak secara produktif.
“Ini bagian dari program pengentasan kemiskinan. Kami bagi dalam tiga tahap, dan desa menyiapkan proses penentuan penerima yang benar-benar siap beternak,” tuturnya.
Bupati Jepara, Witiarso Utomo, mengatakan bantuan ini berawal dari aspirasi masyarakat yang menginginkan pengembangan kambing boer sebagai komoditas unggulan daerah.
“Ada permintaan dari Batealit untuk mengembangkan kambing boer, hal tersebut kami dapat saat program Bupati Ngantor di sini. Dan tempat ini sangat potensial. Daging boer lebih besar, lebih banyak, dan punya nilai ekonomi. Kalau bagus, akan kami kembangkan lebih luas,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pengembangan kambing boer bisa menjadi sentra ekonomi baru bagi masyarakat Jepara.(fik)
Editor : Ali Mustofa