JEPARA – Upaya meningkatkan layanan pendidikan bagi penyandang disabilitas di Kabupaten Jepara terus diperkuat.
Hal itu terlihat dari komitmen pemerintah daerah yang mendorong pemerataan fasilitas, termasuk rencana pembangunan Sekolah Luar Biasa (SLB) baru untuk menjangkau wilayah yang selama ini jauh dari pusat layanan.
Kegiatan peringatan Hari Disabilitas Internasional yang digelar di halaman SLB Negeri Jepara pada Kamis (27/11) menjadi momentum penguatan komitmen tersebut.
Acara ditutup dengan penandatanganan kerja sama antara SLB Negeri Jepara dan Korun Group Formosa, disusul penampilan angklung oleh para siswa yang mendapatkan apresiasi hangat dari tamu undangan.
Dukungan dunia usaha juga mengalir melalui Korun Group Formosa. Kepala Group Global Bidang Budaya, Miss Yang Jin Hua, menegaskan bahwa perusahaannya berkomitmen membantu pendidikan dan membuka peluang kerja bagi siswa berkebutuhan khusus.
“Kami aktif mendukung pendidikan dan membuka peluang kerja bagi anak didik yang memiliki kemampuan dan potensi,” ucapnya.
SLB Negeri Jepara sendiri saat ini memiliki 468 siswa dari tingkat SD hingga SMA. Mereka terdiri dari 257 siswa laki-laki dan 214 siswa perempuan dengan berbagai klasifikasi.
Seperti Tuna Netra (25), Tuna Rungu Wicara (193), Tuna Grahita (205), Tuna Daksa (15), serta Autisme sebanyak 20 siswa.
Kepala SLB, Mohamad Arief Prawijiyanto, menegaskan bahwa pendidikan inklusif adalah bagian dari kesetaraan hak anak disabilitas.
“Ini wujud kesempatan yang sama bagi anak-anak kami, dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi,” ucapnya.
Arief juga mengungkapkan sejumlah prestasi membanggakan para siswa, seperti juara 1 nasional lomba menjahit dan juara 2 membatik tingkat provinsi. Prestasi tersebut, menurutnya, menunjukkan kemampuan besar yang dimiliki para siswa SLB.
Perhatian pemerintah daerah pun menjadi sorotan utama. Saat menghadiri acara, Bupati Jepara Witiarso Utomo menyampaikan komitmen untuk meningkatkan sarana dan layanan pendidikan disabilitas.
“Kami akan koordinasi dengan pemerintah provinsi untuk menambah fasilitas agar anak-anak disabilitas di Jepara bisa terlayani sepenuhnya,” tegasnya.
Sebagaimana diketahui saat ini, Jepara baru memiliki satu SLB, yaitu SLB Negeri Jepara di Desa Senenan, Kecamatan Tahunan.
Sekolah ini melayani siswa dari berbagai penjuru kabupaten, termasuk mereka yang harus menempuh perjalanan jauh dari wilayah utara. Karena itu, Bupati menyampaikan rencana pengusulan pembangunan SLB baru.
“Akan kami ajukan ke Pak Gubernur agar pelayanan pendidikan bisa lebih dekat dengan masyarakat,” katanya.
Bupati juga memberikan apresiasi atas kreativitas dan capaian para siswa. Menurutnya, keberhasilan di tingkat provinsi hingga nasional adalah bukti bahwa anak disabilitas memiliki potensi besar. “Penampilan anak-anak luar biasa. Ini bukti bahwa mereka diberi kelebihan dan memiliki kreativitas tinggi,” ungkapnya.
Kesempatan kerja bagi lulusan SLB turut mendapat perhatian. Witiarso mengungkapkan bahwa sudah ada perusahaan Penanaman Modal Asing (PMA) yang mulai memberi ruang kerja bagi alumni SLB Jepara. Seorang lulusan telah diterima bekerja, dan perusahaan tersebut berencana menambah jumlah pekerja dari siswa disabilitas.
Dukungan terhadap rencana pembangunan SLB baru juga datang dari para orang tua murid.
Dina Laila, wali murid dari siswa SMPLB, Afiq Badaryanto (16), berharap sekolah baru nantinya dapat dibangun di kawasan Jepara utara. Selama delapan tahun, ia harus mengantar anaknya dari Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, ke SLB Senenan setiap hari.
“Kalau terealisasi, sangat membantu kami. Biaya perjalanan juga bisa lebih ringan karena suami saya hanya tukang kayu,” ujarnya.
Melalui berbagai langkah ini, Pemkab Jepara menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan inklusif dan memastikan bahwa anak-anak penyandang disabilitas mendapatkan layanan yang layak, merata, dan dekat dengan lingkungan mereka.(fik)
Editor : Mahendra Aditya