JEPARA – Sekolah Rakyat (SR) IC Jepara tengah melaksanakan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bagi para calon siswa baru.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung sejak Selasa (30/9) hingga Sabtu (11/10).
Namun, di tengah pelaksanaan, sejumlah siswa memilih untuk mengundurkan diri dari SR IC yang dilangsungkan di BLK Pecangaan.
Dari total 75 siswa baru, tercatat 6 anak memilih mundur, termasuk sepasang kakak-beradik asal Kelurahan Pengkol.
Alasan mereka bervariasi, mulai dari belum terbiasa ditinggal sang ayah yang belum lama meninggal, tidak terbiasa tinggal di asrama, hingga orang tua yang tidak tega meninggalkan anak.
Termasuk alasan yang melatarbelakanginya seperti merasa rindu rumah (home sick).
Kepala Sekolah Rakyat (SR) Kabupaten Jepara Asri Linda Listyaningrum menjelaskan beberapa anak mengalami kesulitan beradaptasi.
Bahkan ada yang menangis minta pulang, karena tidak terbiasa jauh dari orang tua dan tingga di asrama.
"Rata-rata mereka mengaku pengin pulang, kangen sama orangtuanya. Ada juga yang terlihat lemas agak kurang sehat, akhirnya dibawa pulang dulu oleh orang tuanya," sebutnya.
Menurutnya, hal tersebut terjadi usai ada kunjungan orangtua pada Minggu (5/10) lalu.
Waktu itu anak terpaksa diperbolehkan pulang sejenak. Alih-alih ingin kembali masuk, tapi keesokan harinya dari pihak orang tua menyatakan putra putrinya tidak mau melanjutkan sekolah di SR.
"Kemudian orang tua merasa anaknya cukup sekolah di rumah (kampung, Red) seperti biasa. Dan sudah masuk di sekolahan yang sebelumnya (dekat rumah, Red)," ujarnya.
Kendati demikian, Linda menegaskan bahwa mayoritas siswa masih merasa betah mengikuti MPLS.
Pihak sekolah juga telah berupaya menghadirkan berbagai kegiatan agar anak-anak nyaman. Tak kurang akal, berbagai acara pun turut digelar.
Di masa MPLS ini seperti diadakan mulai dari sosialisasi kesiapsiagaan bencana bersama Satpol PP dan Damkar, latihan senam, menari.
Membuat hasta karya, latihan PBB, panggung seni hingga program literasi.
"Bahkan dari pendamping juga membelikan mainan dari kantong sendiri, dengan tujuan membuat anak nyaman. Seperti permainan edukatif seperti dakon, rubik, dan bola plastik, sementara permintaan anak coba dituruti," ucapnya.
Menurutnya, di masa MPLS ini anak-anak dibiasakan berkegiatan secara terjadwal, terstruktur dan terdampingi.
"Jam 04.00 dibangunkan, jam 04.30 salat Subuh berjemaah, setelah itu baca surat-surat pendek. 05.30 olahraga ringan, termbimbing semua. Hingga sarapan, apel, pembacaan Asmaul Husna hingga mulai jam pelajaran," sebutnya.
Sementara itu, Kepala Dinsospermades Jepara Muh Ali melalui Kabid Pemberdayaan Sosial dan Fakir Miskin Zulaekhah Almunawaroh, menyebutkan keenam siswa yang mundur berasal dari keluarga dengan kategori Desil 1-2.
Yang artinya sesuai prasyarat untuk dapat menjadi siswa maupun siswi SR rintisan IC Jepara.
Mereka terdiri dari tiga anak laki-laki dan tiga anak perempuan berusia 8–11 tahun.
Anak-anak tersebut berasal dari beberapa kecamatan, yakni dua dari Kelurahan Pengkol, Kecamatan Jepara.
Satu dari Ujungpandan, Kecamatan Welahan; satu dari Kerso, Kecamatan Kedung; satu dari Damarjati, Kecamatan Kalinyamatan; dan satu dari Mindahan Kidul, Kecamatan Batealit.
Pihaknya menyebutkan, akan mencari pengganti atas siswa yang telah memilih mundur. Menurutnya sudah ada cadangan siswa yang dapat menjadi pengganti.
"Kami juga sudah menyiapkan cadangan siswa lain untuk mengisi kuota yang kosong, tinggal ground check," sambung Zulaekhah.
Dengan adanya dinamika ini, pihak sekolah dan pemerintah daerah terus berupaya menciptakan iklim belajar yang nyaman.
Sekaligus memastikan anak-anak dari keluarga tidak mampu tetap mendapat kesempatan pendidikan yang layak.(fik)
Editor : Ali Mustofa