JEPARA - Puluhan hingga ratusan siswa SMKN 1 Kalinyamatan melakukan aksi unjuk rasa di dalam sekolah pada Senin (4/8) pagi hari.
Hal tersebut dilakukan sebagai ekspresi atas kemuakan terkait dengan keadaan dan fasilitas sekolah.
Mereka meminta sarana dan fasilitas yang memadai dan layak untuk menunjang pembelajaran.
Bentangan flyer bertuliskan nada kritik mewarnai halaman sekolah. Seperti 'Minta Prestasi tapi Tidak Difasilitasi', 'Uang Sekolah Bukan Untuk Memperkaya Diri, Tapi Untuk Kepentingan Anak Bangsa'.
Ataupun 'Ganti Kepsek' maupun 'Dicekoki Motivasi Setiap Senin Pagi, Keluh Kesah Sekolah Dia Buta dan Tuli, Dituntut Cerdas tapi Tak Diberi Fasilitas'.
Demo atau aksi unjuk rasa tersebut dilakukan usai apel pada Senin (4/8) sekitar pukul 07.30-09.00. Aksi tersebut juga ramai tersebar dalam beberapa potongan video singkat.
Para siswa tampak kompak menyuarakan masalah terkait dengan pengalaman yang mereka alami selama menuntut ilmu di SMKN 1 Kalinyamatan (Smika).
Salah satu siswa XII, Didin Denero menyampaikan bahwa setidaknya selama tiga tahun bersekolah minim sekali terdapat pemenuhan fasilitas. Bahkan menurutnya keadaan semakin parah setiap tahun.
Siswa kelas XII jurusan Teknik Elektro Industri (TEI) 1 ini menyebutkan bahwa untuk praktikum pun dirinya harus modal alat sendiri.
"Khususnya elektro mau praktik harus bawa barang sendiri, seperti tang, taspen, kabel," ucapnya.
Di luar jurusan ia mengamati fasilitas dan sarana prasarana sekolah, seperti kelayakan toilet yang tidak berpintu, alam lubang ataupun laboratorium komputer yang tidak bisa dipakai.
"Laboratorium komputer tapi tidak ada komputernya, (yang hidup, Red) mungkin hanya satu atau dua," ujarnya.
Didin menyebutkan, bahw di Smika sendiri terdapat setidaknya lima jurusan, seperti Tata Busana, Tata Boga, Kecantikan, DKV dan TEI.
"Selama tiga tahun saya sekolah di sini, malah semakin lama semakin buruk," ujarnya.
Pihaknya juga menyampaikan, aksi unjuk rasa tersebut tidak ada koordinatornya. Para siswa turut merasa terpanggil untuk menyatakan keresahanny.
"Demo ini pada njaluk kejelasan. Sekolah negeri kok fasilitasnya jauh dari standar. Ya memang gratis, tapi kan juga pasti ada dana dari pusat," ujarnya.
Plt. Kepala Tata Usaha SMKN 1 Kalinyamatan, Heri Budi Rahardjo menyampaikan bahwa usai aksi, perwakilan dari Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II untuk Demak-Jepara pun langsung meninjau ke lokasi sekolah SMKN 1 Kalinyamatan.
"Dari situ diharapkan supaya ke depan lebih bagus, kelayakannya dapat ditingkatkan lagi," sambungnya saat ditemui di ruangannya.
Di Smika sendiri terdapat setidaknya 1350-an siswa, yang tersebar dari lima jursan dan tiga jenjang kelas.
Disebutkan dana bantuan operasional sekolah (BOS) yang ada setidaknya mencapai Rp 2,3 miliar. Namun Heri tidak berkenan menyebut secara eksplisit peruntukannya.
"Sekitar itu (Rp 2,3 miliar, Red). Perbaikan ya ada, masak gak ada. Dipakai untuk kebutuhan paling urgen, kan tidak harus untuk pembangunan fisik," timpalnya.
Menurutnya, setiap ruang memang terdapat jenis-jenis kerusakan. Namun dana BOS diperuntukan juga seperti untuk gaji guru honorer.
"Karena itu wewenang manajemen pelaksana, kalian tidak berhak," singkatnya.
Menurutnya usai kunjungan Perwakilan Cabdin II wilayah Demak dan Jepara kondisi yang ada diharapkan dapat dibawa ke pemerintah provinsi ataupun pusat. Sehingga dapat diupayakan bantuan serta dukungan anggaran untuk melakukan sentuhan perbaikan ataupun pemenuhan fasilitas.(fik)
Editor : Zainal Abidin RK