JEPARA - Kyai kharismatik dan sensasional Gus Miftah akan mengisi pengajian dan salwatan di Alun-alun 1 Jepara Sabtu (26/7).
Hal itu diungkapkan KH. Hayatun Nufus Abdullah Hadziq selaku Rois Syuriah PCNU Jepara.
Dalam baner yang beredar, judul acara yaitu Sholawat Kebangsaan Santunan Yatama, Festival UMKM & Shalawat Kebangsaan, menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama Bersama Grib Jaya DPC Jepara.
Dalam baner itu tertera selain Gus Miftah, ada Ketua Generasi Muda GRIB Jaya Herdinand Hercules Rozario Marshal, Bupati Jepara Witiarso Utomo, Wabup Jepara Gus Hajar.
Gus Miftah, sosoknya tak pernah lepas dari sorban, kacamata hitam, dan gaya bicara yang ceplas-ceplos. Dialah KH. Miftah Maulana Habiburrahman, atau lebih dikenal dengan nama Gus Miftah—seorang dai nyentrik yang tak segan berdakwah di tempat-tempat yang jarang disentuh oleh para pendakwah konvensional.
Lahir di Lamongan, Jawa Timur, pada 6 Agustus 1981, Gus Miftah besar di lingkungan pesantren dan telah akrab dengan dunia keagamaan sejak kecil. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, sebelum kemudian dikenal luas sebagai pendakwah yang tampil beda.
Namanya mulai mencuat saat ia konsisten berdakwah di lokalisasi dan klub malam, seperti kawasan Sarkem (Pasar Kembang), Yogyakarta, tempat yang oleh sebagian orang dianggap tabu bagi aktivitas dakwah. Namun bagi Gus Miftah, tidak ada tempat yang haram untuk menyampaikan kebaikan.
"Saya berdakwah bukan untuk menghakimi, tapi merangkul. Tugas saya menyampaikan, hidayah milik Allah," ujarnya dalam salah satu ceramahnya.
Selain berdakwah di kalangan marjinal, Gus Miftah juga dikenal dekat dengan tokoh-tokoh publik, termasuk pejabat dan artis. Ia pernah memimpin doa dalam proses mualaf Deddy Corbuzier, yang saat itu menjadi sorotan nasional. Peristiwa ini makin mengukuhkan Gus Miftah sebagai dai yang bisa menjembatani berbagai kalangan.
Tak hanya aktif berdakwah, Gus Miftah juga mendirikan Pondok Pesantren Ora Aji di Sleman, Yogyakarta. Pesantren ini menjadi tempat pembinaan santri dari berbagai latar belakang, termasuk mantan narapidana dan anak jalanan.
Gaya ceramahnya yang santai, kadang diselingi humor dan bahasa gaul, membuat ceramahnya mudah diterima oleh generasi muda. Ia juga aktif di media sosial, dengan jutaan pengikut di Instagram dan TikTok, menjadikannya salah satu ustaz paling berpengaruh di era digital.
Namun, popularitas bukan tanpa kontroversi. Pendekatan dakwahnya kerap menuai pro dan kontra, terutama dari kalangan yang menganggap tempat-tempat seperti klub malam bukan tempat yang pantas untuk berdakwah. Gus Miftah menanggapi kritik itu dengan santai.
“Saya lebih takut jika ada tempat yang tidak bisa disentuh dakwah. Karena semua orang punya hak untuk mengenal Tuhannya,” katanya.
Kini, di usia 43 tahun, Gus Miftah tetap konsisten mengisi ceramah, menghadiri diskusi lintas agama, dan aktif memperjuangkan moderasi beragama. Ia menjadi simbol keberanian, toleransi, dan inklusivitas dalam dunia dakwah yang kerap diwarnai perbedaan.
Editor : Zainal Abidin RK