JEPARA – Road show Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026 resmi menyambangi Jepara sebagai bagian dari rangkaian promosi nasional.
Kegiatan yang digelar di Hotel d'Season, Selasa (27/5), ini menjadi momentum penting bagi ratusan pengusaha mebel dan kerajinan Jepara untuk menegaskan eksistensi mereka di pasar global.
Jepara menjadi satu dari delapan kota yang disinggahi panitia IFEX dan Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), setelah sebelumnya berlangsung di Jakarta dan Cirebon.
Road show akan berlanjut ke Semarang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan Bali.
Ketua DPD HIMKI Jepara Raya, Hidayat Hendra Sasmita, menegaskan bahwa keterlibatan Jepara dalam IFEX bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bentuk komitmen menjaga marwah industri mebel tanah air.
“Hari ini merupakan kick-off bagi IFEX 2026. Jepara tak hanya berpartisipasi, tapi menunjukkan dedikasi penuh sebagai pusat industri ukir nasional,” ujarnya.
Menurut Hendra, Jepara akan mengusung produk-produk unggulan berbasis keahlian tradisional yang dipadukan dengan inovasi desain modern.
Material lokal seperti jati, mahoni, dan trembesi tetap menjadi andalan. Sebagai kota yang dikenal dunia lewat warisan ukirnya, Jepara bertekad mempertahankan reputasinya sebagai ikon global dalam industri furnitur.
Ia juga menyoroti pentingnya peran ribuan pelaku UKM yang selama ini menjadi tulang punggung produksi mebel Jepara.
DPD HIMKI Jepara, kata dia, ingin menghadirkan semangat baru dalam gelaran IFEX kali ini.
“Kami berharap IFEX 2026 menjadi ruang pembelajaran sekaligus peluang besar, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global. Ini bukan hanya soal pameran, tetapi membuka pintu-pintu kerja sama baru,” jelasnya.
Animo pelaku usaha terhadap IFEX pun disebut sangat tinggi. Tahun lalu, lebih dari 200 perusahaan bahkan masuk dalam daftar tunggu.
“Target penjualan dalam IFEX 2026 mencapai 1 miliar dolar AS. Semua peserta harus bisa memanfaatkan ajang ini untuk menembus pasar ekspor yang lebih luas,” imbuhnya.
Sementara itu, Project Manager IFEX, Rizki Pahrudi, menyebut bahwa Jepara secara konsisten menjadi penyumbang peserta terbanyak dalam pameran tahunan ini.
“Lebih dari 100 peserta berasal dari Jepara, termasuk pelaku UMKM. Road show ini kami gelar agar tidak ada yang terlewat informasi penting terkait fasilitas, akses, dan mekanisme keikutsertaan,” terangnya.
Dari sisi tantangan, Sekretaris Jenderal HIMKI, Maskur Zaenuri, mengingatkan soal potensi kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat terhadap produk mebel Indonesia.
Hal ini menyusul kebijakan Pasal 232 yang tengah dibahas oleh Pemerintah AS.
Baca Juga: POTRET Kebahagiaan Ratusan Peserta CPNS di Kabupaten Jepara Terima SK Pengangkatan
“Preliminary determination menunjukkan ancaman serius. Lebih dari 53 persen ekspor kita bisa terdampak jika kebijakan itu diberlakukan,” katanya.
Untuk mengantisipasi tekanan pasar tradisional seperti Amerika, HIMKI telah merancang strategi ekspansi ke wilayah non-tradisional.
Beberapa program buyer matching dan misi dagang telah dilakukan ke kawasan Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika Timur, Eropa Timur, hingga Amerika Latin.
Negara-negara seperti Kazakhstan, Kenya, dan Uni Emirat Arab menjadi target potensial.
Selain perluasan pasar, HIMKI juga memperkuat pendekatan digital. Produk UMKM kini mulai dipasarkan melalui platform B2B global seperti Archiproducts, untuk menjangkau konsumen internasional secara lebih efisien.
Lebih lanjut, HIMKI juga mengusulkan penyederhanaan regulasi ekspor, khususnya terkait kewajiban SVLK dan V-Legal.
“Kami mendukung prinsip keberlanjutan, namun beban administratif terhadap industri padat karya harus proporsional,” tegas Maskur.
Dengan target area pameran seluas 85.000 meter persegi di ICE BSD, Tangerang, IFEX 2026 diharapkan menjadi pameran furnitur terbesar di Asia Tenggara.
Jepara—dengan warisan seni ukir dan kekuatan industrinya—siap tampil sebagai motor penggerak utama, mengukuhkan diri sebagai pusat mebel dunia dari Indonesia. (Fikri Thoharudin)
Editor : Mahendra Aditya