Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Empu Tumaji, Pengrajin Keris Asli Jepara, Lestarikan Budaya dengan Sentuhan Modern

Moh. Nur Syahri Muharrom • Kamis, 1 Mei 2025 | 00:06 WIB

 

KREATIVITAS: Empu Tumaji menempa bilah besi panas untuk dijadikan sebuah keris di kediamannya di Desa Mayong Lor, Mayong, Jepara.
KREATIVITAS: Empu Tumaji menempa bilah besi panas untuk dijadikan sebuah keris di kediamannya di Desa Mayong Lor, Mayong, Jepara.

RADAR KUDUS - EMPU Tumaji telah terkenal sebagai salah satu pengrajin keris asal Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Jepara.

Berbekal belajar secara otodidak, ia mulai membuat keris sejak era 90-an.

Yang membuat proses pembuatan kerisnya beda dengan yang lain, ia memberi sentuhan modern dalam membuatnya.

Dengan memanfaatkan alat pengepras bertenaga listrik dalam menempa keris.

PERCIKAN lidah api dengan cepat merembet ke sekitar kala besi panas ditumbuk dengan alat pengepras secara berlahan dan berulang kali.

Besi panas itu tengah ditempa untuk membentuk sebuah keris.

Proses penempaan itu, tidak dilakukan secara tradisional, namun dengan sebuah alat modern.

Yang bertugas menempa bilah besi panas itu adalah Empu Tumaji, seorang pengrajin keris asal Desa Mayong Lor, Kecamatan Mayong, Jepara.

Bila pembuatan tradisional, proses penempaan itu akan dilakukan beberapa orang dengan dipukul secara manual dengan palu bersama-sama.

Namun, dalam membuat keris, Empu Tumaji tidak melakukan itu. Ia membuat keris seorang diri di kediamannya di RT 4/RW 2 Desa Mayong Lor.

”Biasanya kalau membuat keris butuh panjak. Asisten. Tapi  di Jepara tidak banyak,” ungkap Empu Tumaji, di sela menunggu besi membara saat dipanasi sebelum ditempa.

Itulah alasannya menciptakan alat penempa semi modern itu. Itu agar bisa membantunya dalam menempa keris lebih maksimal.

Alat tersebut diciptakannya dengan biaya sekitar Rp 8 juta. Dalam membuatnya, ia meminta bantuan rekan-rekan dan tetangganya yang berprofesi sebagai mekanik untuk merealisasikan alat penempa tersebut.

Hasilnya, terciptalah alat penempa bertenaga listrik tersebut. ”Kalau beli jadi harganya bisa sampai Rp 30 juta,” jelas Empu Tumaji.

Untuk sekali membuat keris, Empu Tumaji tak jarang memerlukan waktu 30 hingga 40 hari.

Ada beberapa tahapan yang harus dilalui sebelum membuat keris. Mulai dari mengadakan selamatan, memilih hari memulai pembuatan, hingga proses pembuatan.

Bahkan, hal-hal kecil juga turut diperhatikan sebelum proses pembuatan. Mulai dari pemilihan hari mulai memproses keris, memilih arang untuk menempa besi, hingga memilih besi untuk bahan keris.

”Besi yang dipakai biasanya besi-besi kuno. Besi bekas. Kadang besi yang dipasok teman-teman atau pemesan,” ujar Empu Tumaji.

Keahliannya membuat keris itu didapatkannya secara otodidak. Pria kelahiran Jepara, 1 Agustus 1980 itu mulai membuat keris sekitar tahun 1995.

Bermula ketika terinspirasi dari seorang pengrajin keris di masa ia muda. Ia pun memiliki tekad untuk belajar membuat keris.

Hingga saat ini pun ia menegaskan masih belajar. ”Kadang belajar lewat lihat-lihat Youtube,” kelakarnya.

Baginya, kreativitas membuat keris itu harus tetap dilestarikan. Sebab itu, ia berharap generasi muda di Jepara ada yang bisa membuat keris juga.

Keris-keris hasil kreasi Empu Tumaji pun telah laris di berbagai daerah. Keris tersebut saat ini bukan sekedar dipakai untuk azimat, namun juga dicari sebagai salah satu barang seni bernilai tinggi.

”Pesanan saya paling jauh datang dari Papua,” tandas Empu Tumaji. (rom)

Editor : Mahendra Aditya
#Keris #jepara #EMPU Tumaji #Pengrajin Keris #pembuat keris