Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Tradisi Wiwitan Masuki Panen Raya di Desa Kawak, Tampilkan Tarian Dewi Sri

Fikri Thoharudin • Sabtu, 5 April 2025 | 23:50 WIB

 

KHIDMAT: Para penari pemeran Dewi Sri mengawali prosesi wiwitan panen pani di area persawahan Desa Kawak kemarin.
KHIDMAT: Para penari pemeran Dewi Sri mengawali prosesi wiwitan panen pani di area persawahan Desa Kawak kemarin.

JEPARA – Semarak budaya dan aroma panen menyatu dalam satu perhelatan khidmat di Desa Kawak, Kecamatan Pakis Aji, Jepara.

Sabtu pagi (5/4), lebih dari 300 warga tumpah ruah ke area persawahan untuk merayakan wiwitan, tradisi turun-temurun sebagai wujud syukur atas hasil panen padi yang melimpah.

Di tengah hamparan sawah hijau, suasana berubah bak panggung pertunjukan. Warga berkumpul sejak pukul 09.00 di kawasan Wisata Tengger Sawah (WTS), yang tak jauh dari Bendung Suro. Perayaan ini bukan sekadar seremoni.

Ia adalah napas kehidupan masyarakat agraris yang tak ingin tercerabut dari akarnya: sawah, budaya, dan kebersamaan.


Tarian Dewi Sri: Antara Syukur dan Simbol Perjuangan

Prosesi dimulai dengan pembacaan doa dan permohonan keselamatan yang dipimpin para sesepuh desa. Doa dipanjatkan, harapan disematkan—agar musim panen berjalan lancar dan penuh berkah.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah penampilan Tarian Dewi Sri, simbol kesuburan dan lambang kehidupan dalam tradisi pertanian Jawa.

Seorang penari perempuan membawakan peran Dewi Sri yang memimpin arak-arakan, seolah menuntun hasil bumi untuk segera dituai.

Namun, seperti dalam dunia nyata, perjalanan panen tak selalu mulus. Di tengah arak-arakan, Dewi Sri dan rombongannya dihadang oleh para buto—simbolisasi dari hama pengganggu seperti wereng, tikus, dan yuyu.

Drama pun terjadi di tengah sawah: perlawanan, iringan gamelan, dan gerakan ritmis menciptakan kisah heroik tentang bagaimana petani mesti gigih menghadapi tantangan alam demi mengamankan pangan.

“Ini bukan sekadar hiburan, tapi simbolisasi perjuangan petani,” ungkap Anwar Yusuf, salah satu panitia penyelenggara. “Tarian ini mencerminkan bahwa panen yang sukses itu hasil dari kerja keras yang tidak sederhana.”

Baca Juga: Lebaran Ketupat Kudus 2025 Siap Ramaikan Wisata Budaya: Tradisi Unik dan Mitos Jodoh!


Dari Ritual ke Festival Rakyat

Usai prosesi tarian, warga larut dalam suasana krayahan atau makan bersama. Hidangan tradisional seperti tumpeng dan aneka palawija disajikan dalam satu meja panjang di tengah sawah. Ada juga pertunjukan reog yang menambah semarak suasana.

Anwar menjelaskan, wiwitan kali ini berbeda karena dikemas lebih besar dan terbuka. “Biasanya, tradisi ini hanya dilakukan keluarga-keluarga kecil.

Tapi sekarang jadi momentum kolektif, dan harapannya bisa terus digelar tiap masa panen tiba,” katanya.


Pelestarian Budaya dan Kebangkitan Desa Wisata

Amin Ayahudi, sesepuh desa yang turut memimpin doa, menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lokal. Baginya, wiwitan bukan hanya ritual, tapi warisan budaya yang menyatukan masyarakat.

“Anak muda sekarang sudah banyak yang asing dengan sawah. Dengan acara seperti ini, kita ajak mereka menengok kembali identitasnya,” ujarnya. “Kita juga ingin memperkuat posisi Desa Kawak sebagai desa wisata berbasis budaya dan pertanian.”

Desa Kawak memang dikenal aktif melestarikan warisan budaya, seperti Tradisi Jondang Kawak dan Sepak Bola Api, yang rutin digelar dalam momentum-momentum tertentu.

Dengan penambahan wiwitan sebagai agenda rutin, Desa Kawak perlahan membangun branding sebagai desa yang menjaga akar sambil membuka diri terhadap wisata dan pemberdayaan masyarakat.


“Dari Desa, Oleh Desa, Untuk Desa”

Lebih dari sekadar pertunjukan budaya, wiwitan menjadi bentuk konkret partisipasi masyarakat dalam mengangkat potensi desanya sendiri. Dari sawah yang produktif hingga kreativitas seni yang menggugah.

“Petani senang karena padinya bagus, panen melimpah. Anak-anak muda terlibat, masyarakat guyub. Ini bukan hanya panen padi, tapi juga panen semangat kolektif,” tutur Anwar.

Ia mengajak seluruh warga untuk terus memajukan pertanian dan pariwisata lokal. “Kalau dari desa bisa mencukupi kebutuhan sendiri dan berkembang, kenapa harus bergantung ke luar?” katanya penuh semangat.

Baca Juga: Tarif Trump 32% Bikin Pelaku Ekspor Jepara Gigit Jari! Furniture Lokal Terancam “Gulung Tikar”?


Momentum Persatuan dan Kebanggaan

Di akhir acara, suasana haru dan bangga menyelimuti warga. Anak-anak berlarian di pematang sawah, pemuda sibuk mengabadikan momen, dan para orang tua duduk sambil menikmati nasi tumpeng yang dibagi bersama.

Wiwitan bukan hanya perayaan panen. Ia adalah ritual persatuan, simbol keberhasilan, dan pengingat akar budaya yang harus dijaga di tengah arus modernisasi.

Dari tanah yang subur, tumbuh bukan hanya padi, tetapi juga harapan akan desa yang mandiri, kuat, dan penuh warna.

“Ini baru awal,” ujar Amin. “Insyaallah, tahun depan lebih besar lagi.”


Penutup

Ketika banyak desa tergerus arus globalisasi dan kehilangan identitas, Desa Kawak menunjukkan bahwa akar budaya justru bisa menjadi kekuatan untuk bangkit.

Melalui wiwitan, mereka tidak hanya merayakan panen padi, tetapi juga memanen semangat gotong royong, kreativitas, dan jati diri.

Di tanah yang dahulu hanya diam, kini suara gamelan dan tawa rakyat menggema. Dari sawah yang dulu hanya memberi makan, kini lahir sebuah cerita tentang desa yang hidup dan berbudaya.


#TradisiWiwitan #PanenPadi #DewiSri #DesaKawak #BudayaLokal #PariwisataDesa #PetaniBangkit #JawaTengahBerkarya

Editor : Mahendra Aditya
#tradisi wiwitan #jepara #Desa Kawak pakis aji jepara #panen raya #pelestarian budaya #desa kawak #desa wisata #Tarian Dewi Sri