JEPARA – Industri mebel Jepara kembali menghadapi ancaman besar dari luar negeri.
Kali ini, bukan karena isu deforestasi atau pembatasan bahan baku, melainkan kebijakan proteksionis dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kembali mengguncang pasar ekspor.
Trump baru saja mengumumkan kenaikan tarif impor hingga 32 persen untuk sejumlah produk asal Indonesia, termasuk mebel dan furniture.
Kebijakan ini diumumkan pada Kamis (3/4) waktu Jakarta, dalam pernyataan yang ia sebut sebagai "Hari Pembebasan", menandai langkah agresif baru untuk melindungi industri domestik AS dari serbuan produk asing.
Baca Juga: Selain Indonesia, Inilah Negara Lain di Asia Tenggara yang Terkena Dampak Kebijakan Tarif Trump
Harga Naik, Order Menyusut
Bagi pelaku usaha Jepara, dampaknya sangat terasa. Mohammad Faried Rizal, Manajer Rahayu Jati, mengungkapkan bahwa teman-temannya yang menggantungkan pasar pada AS kini tengah “pusing tujuh keliling”.
“Biasanya jual 1 kontainer Rp 300 juta, sekarang harus naik hampir Rp 400 juta karena kena tarif. Dan jelas, buyer dari Amerika kemungkinan besar akan mundur,” ujarnya.
Faried menambahkan, pihaknya sendiri sudah tak lagi mengandalkan pasar AS. “Kami lebih banyak kirim ke Afrika, Rusia, dan Timur Tengah. Tapi tetap saja, Amerika itu pasar besar. Kalau hilang, dampaknya terasa,” jelasnya.
Kebijakan Trump, Strategi atau Provokasi Dagang?
Ketua Kadin Jepara, Andang Wahyu Triyanto, melihat langkah Trump sebagai reaksi atas penurunan daya saing ekonomi domestik AS.
“Amerika sedang menghadapi serbuan barang murah dari negara-negara seperti India, China, Vietnam. Jadi mereka ‘menaikkan benteng’ lewat tarif,” katanya.
Andang menyebut, Trump tidak main-main. Tarif 32% bisa menjadi tamparan keras bagi negara-negara pengekspor ke AS, termasuk Indonesia. “Artinya, kita harus siap-siap. Cari pasar baru, efisiensi produksi, dan mulai geser strategi,” tandasnya.
Pasar Amerika Tak Lagi Ramah, Saatnya Diversifikasi!
Menurut Andang, Indonesia terlalu lama menggantungkan ekspor pada pasar Amerika. “Garmen, sepatu, sawit, mebel—semuanya dikirim ke sana. Tapi sekarang waktunya berubah. Afrika, Timur Tengah, bahkan Tiongkok bisa jadi solusi alternatif.”
Ia mendesak pemerintah untuk tak tinggal diam. “Kita butuh dukungan konkret—promosi dagang, subsidi pameran luar negeri, diplomasi ekspor. Jangan hanya di atas kertas,” tegasnya.
Ancaman Ganda: Regulasi Eropa Juga Mengintai
Tak hanya tarif dari AS, pelaku ekspor mebel juga dibebani aturan ketat dari Uni Eropa, seperti Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan European Union Deforestation-Free Regulation (EUDR).
Aturan-aturan ini menambah lapisan kompleksitas yang tak sedikit menyedot biaya dan waktu.
“Sudah berat di tarif, ditambah regulasi rumit. Kita seperti diborgol dalam kompetisi global,” keluh Faried.
Retaliasi dan Reset Global: Apa Kata Pengamat?
Ketua Panitia Jepara International Furniture Buyer Week (JIFBW), Muhammad Alhaq, menilai tindakan Trump bukan semata kebijakan ekonomi biasa. “Ini bagian dari strategi reset tatanan perdagangan global. Negara-negara besar sedang memainkan kartu dagangnya,” ujar Alhaq.
Ia menyebut bahwa langkah Trump adalah sinyal keras untuk memulai kembali negosiasi dagang internasional.
“Retaliasi tit for tat bisa saja terjadi. Negara lain akan membalas dengan kebijakan serupa. Ini bisa memicu stagnasi atau bahkan konflik dagang yang lebih luas,” jelasnya.
Menurutnya, AS kini berada di ujung krisis keseimbangan perdagangan. “Nilai ekspor mereka kalah saing, teknologi mereka tertinggal, konsumsi domestik justru jadi penopang ekonomi. Mereka frustrasi.”
Indonesia Harus Siap Main Dua Kaki
Meski begitu, Alhaq optimistis Indonesia masih punya kartu penting di kancah internasional. “Strategi dua kaki—berkawan dengan negara-negara OECD dan BRICS—adalah langkah cerdas.
Kita harus jadi jembatan, bukan hanya pengikut salah satu blok kekuatan.”
Ia menegaskan, peran Indonesia sebagai penengah bisa memberi posisi tawar kuat dalam diplomasi ekonomi global. “Dalam dunia multipolar seperti sekarang, posisi tengah itu aset.”
Arah Baru Ekspor: Lebih Kreatif, Lebih Lokal
Di tengah tekanan global, pelaku usaha Jepara diminta untuk tidak patah arang. Justru saat inilah momen terbaik untuk melakukan inovasi, diversifikasi produk, dan membaca ulang pasar.
“Kalau mau bertahan, jangan hanya mengandalkan buyer lama. Kita harus ciptakan pasar baru, gaya promosi baru, bahkan produk dengan identitas lokal yang kuat,” seru Andang.
Ia juga mendorong agar pemerintah mendukung kampanye penggunaan produk dalam negeri. “Mebel Jepara jangan hanya jadi tamu di negeri sendiri. Harus jadi raja di pasar lokal dulu, baru melesat ke dunia.”
Kesimpulan: Dari Guncangan Menuju Kebangkitan?
Tarif Trump memang mengguncang. Tapi bukan berarti game over. Justru inilah saatnya ekspor mebel Indonesia—khususnya Jepara—menemukan wajah baru yang lebih tangguh, adaptif, dan mendunia.
Selama pelaku usaha, pemerintah, dan masyarakat bisa kompak dalam strategi baru, badai global ini bukan akhir—melainkan awal dari babak transformasi besar industri mebel nasional.
#MebelJepara #TarifTrump #EksporIndonesia #FurnitureCrisis #IndustriKreatif #EksporNonAS #DiversifikasiPasar #BRICSvsOECD #JIFBW #JeparaGlobal
Editor : Mahendra Aditya