Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Ratusan Umat Hindu di Jepara Lakukan Sembahyang Melasti sebelum Nyepi, Begini Prosesinya

Fikri Thoharudin • Senin, 24 Maret 2025 | 23:03 WIB

 

KHIDMAT: Prosesi persembahyangan Melasti di Pantai Bandengan Jepara pada kemarin.
KHIDMAT: Prosesi persembahyangan Melasti di Pantai Bandengan Jepara pada kemarin.

 

JEPARA – Ratusan umat Hindu di Kabupaten Jepara melakukan persembahyangan Melasti kemarin. Upacara ini menjadi salah satu rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi.

Sebagaimana tahun sebelumnya, Melasti pada tahun ini dilakukan di Pantai Bandengan, sebagai tirta amerta atau sumber air (laut).

Persembahyangan tersebut dipungkasi dengan melarung banten atau sesaji.

Proses pelarungan tidak dilakukan di tengah samudra lantaran kondisi ombak yang tinggi, sehingga hanya dilakukan dari atas Dermaga Pantai Bandengan.

Sejumlah sesaji yang dilarung seperti unsur buah-buahan, sayur, hasil bumi, serta ayam dan entok hidup.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Jepara Parsini menyampaikan, peringatan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947 jatuh pada Sabtu (29/3) mendatang.

Untuk menyambut Hari Raya Nyepi tersebut, dilakukan upacara Melasti sebagai bentuk penyucian atau pembersihan diri.

Acara dimulai dengan atur piuning di Pura Dharma Loka di Desa Plajan Kecamatan Pakis Aji sekitar pukul 07.00.

Kemudian para umat bertolak ke Pantai Tirta Samudra Ban dengan.

Sesampainya di area parkir Pantai Bandengan sekitar pukul 09.00, para umat melakukan kirab sebagai penghormatan terhadap pratima-pratima pura serta banten atau sesaji yang dibawa.

Upacara yang diikuti setidaknya 500-an umat Hindu dari Kabupaten Jepara serta be berapa dari daerah Pati tersebut, berlangsung khidmat sejak 10.00.

Setelah selesai pukul 11.00 dilanjutkan prosesi pelarungan. Parsini menjelaskan, sebetulnya rangkaian kegiatan perayaan Hari Raya Nyepi telah diawali sejak Jumat (21/3).

”Jumat pagi kami melakukan bersih-bersih ling kungan, tempat ibadah (pura, Red) dan rumah masing-masing. Termasuk pembagian sembako untuk warga yang membutuhkan, pada sore harinya juga ada baksos donor danah,” ungkapnya seusai sembahyang.

Sedangkan pada upacara Melasti, dilakukan pembersihan pratima-pratima atau alat persembahyangan yang akan digunakan pada Jumat (28/3) sebagai Caru Agung upacara Pengerupukan.

”Selanjutnya pada Sabtu (29/3) Brata Penyepian ada empat, yaitu amati geni (mematikan api), amati lelungan (tidak bepergian), amati lela nguan (tidak ber senangsenang), dan amati kar ya (tidak bekerja),” jelas nya.

Melasti sendiri menjadi upacara yang dimaksudkan agar pada saat Nyepi menda tang, tidak ada halangan, rin tangan, dan kendala apapun.

”Dharma tirta yang ada nantinya digunakan untuk prosesi penyucian ma s ingmasing pura serta di percikkan untuk umat,” ucap nya.

Disebut sebagai dharma tirta lantaran air tersebut telah disucikan oleh para Jro Mangku (pemuka agama Hindu). Diambil dari beberapa sumber, baik di desa setempat ataupun dari lautan.

“Persembahyangan tadi dipimpin oleh Jro Mangku Adi Supaen, selain itu juga terdapat sembilan Jro Mangku lainnya,” katanya.

Dengan rangkaian tersebut, pihaknya berharap semua mahkluk dapat berbahagia.

”Aman tentram, baik bagi umat Hindu termasuk masyarakat Indonesia pada um umnya,” ujarnya. (fik)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #melasti #hari nyepi #umat hindu #pantai bandengan