Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Rampung Uji Takaran Minyak Goreng Minyakita di 12 Pasar, Ini Temuan UPTD Metrologi Legal Jepara  

Fikri Thoharudin • Jumat, 14 Maret 2025 | 18:11 WIB

 

UJI VOLUME: Penguji dari UPTD Metrologi Legal Kabupaten Jepara Puji mengukur minyak goreng Minyakita kemasan botol plastik dan plastik kemarin.
UJI VOLUME: Penguji dari UPTD Metrologi Legal Kabupaten Jepara Puji mengukur minyak goreng Minyakita kemasan botol plastik dan plastik kemarin.

 

JEPARA – Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Metrologi Legal Kabupaten Jepara telah rampung menguji takaran minyak goreng Minyakita di 12 pasar.

Sejak Senin sampai Kamis (10-13/3) dilakukan inventarisasi temuan.

Kendati berat minyak rata-rata di bawah takaran, tapi masih dalam batas kesalahan yang diizinkan (BKD).

Hanya satu produsen dari Jawa Barat yang volume minyaknya selisih jauh, hanya 90 mililiter (ml).

Kasubbag UPTD Metrologi Legal Kabupaten Jepara Idy Susanto menyampaikan, pihaknya telah menguji volume terhadap minyak dari sembilan perusahaan.

Rata-rata harga di pasaran jauh di atas harga eceran tertinggi (HET).

CV Sedulur Group yang beralamat di Cimahi dengan kemasan botol seharga Rp 18 ribu ukuran 1 liter berat bersihnya hanya 910 ml.

Padahal didasarkan atas Permendag Nomor 31/M-DAG/PER/10/2011 tentang Barang dalam Keadaan Terbungkus (BDKT), batas kesalahan yang diizinkan (BKD) untuk kemasan 1 liter hanya 15 ml. Sedangkan untuk kemasan 2 liter 30 ml.

Pihaknya telah mengambil sampel masing-masing dua kemasan. Baik botol plastik dan pouch (plastik) dari beberapa pasar.

Meliputi Pasar Pecangaan, Kalinyamatan, Welahan, Mayong, Mindahan, Mlonggo, Bangsri, Lebak, Jepara I, Jepara II, Bugel, hingga Pengkol.

Secara rinci, dari PT Kusuma Mukti Remaja Karanganyar, kemasan botol seharga Rp 17.500 ukuran 1 liter memiliki berat bersih 970 ml.

Lalu dari PT Karyaindah Alam Sejahtera dengan alamat Gresik, kemasan pouch seharga Rp 17.500 ukuran 1 liter memiliki berat bersih 985 ml.

Kemudian CV Sinar Gemilang asal Gresik, kemasan botol seharga Rp 17.500 ukuran 1 liter memiliki berat bersih 995 ml.

Selain itu, PT Oleindo Amana Sejahtera (OASE Indonesia) asal Sidoarjo, kemasan pouch seharga Rp 17 ribu ukuran 1 liter memiliki berat bersih 985 ml.

Lalu PT Salim Ivomas Pratama Tbk produsen asal Jakarta, dengan kemasan botol seharga Rp 32 ribu, ukuran 2 liter memiliki berat bersih sesuai, 2.000 ml.

Kemudian, PT Primus Sanus Cooking Oil Industrial (Priacolin) dari Bekasi, kemasan pouch seharga Rp 17.500 ukuran 1 liter memiliki berat bersih 985 ml.

Serta minyak produksi PT Asianagro Agung Jaya dari Jakarta, seharga Rp 18 ribu ukuran 1 liter memiliki berat bersih Rp 980 ml.

Yang memiliki berat bersih melebih ukuran ialah, minyak dari PT Wilmar Nabari Indonesia dari Gresik.

Kemasan pouch seharga Rp 18 ribu ukuran 1 liter memiliki berat bersih 1.015 ml.

”Kami telah melaksanakan pengujian Minyakita. Kendati di bawah takaran tapi masih sesuai BKD," terangnya.

Pihaknya memastikan ukuran produk yang beredar di Kabupaten Jepara cenderung aman, meski didapati produk yang tidak sesuai BKD.

”Di kami, metrologi ada BKD, batas pertama 15 ml dan kedua 30 ml. Di Jepara tidak seperti daerah lain yang hanya berisi 800 ml, meski ada yang tidak BKD di Jepara masih di atas 900 ml semua," ucapnya.

Polres Jepara juga melakukan pengujian di Pasar Ratu Jepara kemarin. Untuk Minyakita kemasan botol didapati netto 973 ml, sedangkan pouch 995 ml.

”Semua di atas HET, Rp 18 ribu," kata Kasatreskrim Polres Jepara AKP M Faizal Wildan Umar Rela.

Dari semua yang dilakukan uji volume tidak ditemukan produk yang berasal dari Kabupaten Jepara.

”Ukurannya juga masih tidak terlalu jauh dari ukuran aslinya 1 liter," ujarnya.

Din, salah satu pedagang di Pasar Ratu menyampaikan, pada bulan puasa ini penjualan minyak tidak terlalu signifikan.

”Biasanya sehari bisa habis tiga kardus, tapi saat ini paling-paling hanya dua kardus," katanya.

Dia menjual minyak goreng subsidi tersebut seharga Rp 18 ribu per liter. Ia mengaku dapat barang telah mahal, mencapai Rp 200 ribuan per kardus.

”Minyak produksi Wilmar itu bagus, tapi barangnya yang susah. Sementara ini puasa begini, pelanggan saya yang berjualan di kantin atau penjual di warung libur. Jadi penjualan turun," imbuhnya. (fik/lin)

Editor : Ali Mustofa
#jepara #harga eceran #pasar #MinyaKita #UPTD Metrologi Legal