KOTA, Radar Kudus – Pameran mebel berskala internasional, Jepara International Furniture Buyer Weeks (JIFBW) 2025, telah memasuki hari keempat.
Selama tiga hari pertama, acara yang digelar di Gedung Wanita Jepara ini telah menarik puluhan pengunjung, terutama calon pembeli dari luar negeri.
Pameran ini tidak hanya menjadi ajang promosi produk mebel khas Jepara, tetapi juga memicu wacana pembangunan fasilitas yang lebih representatif, seperti convention hall, untuk mendukung even serupa di masa depan.
Antusiasme Pengunjung Asing dan Lokal
Menurut Alhaq, Sekretariat Pelaksana Konsorsium Jepara Gerak, selama tiga hari pertama, sekitar 40 pengunjung telah mendatangi booth-booth yang tersedia di Meeting Point JIFBW 2025.
“Mayoritas pengunjung adalah calon pembeli asing dari berbagai negara. Namun, pengunjung lokal juga cukup banyak,” ujar Alhaq saat mendampingi Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna, dalam kunjungan monitoring ke sejumlah stan.
Selain pengunjung langsung, pameran ini juga menarik perhatian melalui platform online. Hingga kemarin, tercatat sekitar 1.600 pengunjung virtual yang mengakses website resmi JIFBW.
“Kami telah memfasilitasi mobil shuttle dari Pemkab Jepara untuk mengantar pengunjung ke showroom atau lokasi pengrajin.
Beberapa pengunjung juga datang dengan sopir pribadi dan meminta arahan langsung dari kami,” tambah Alhaq.
Dorongan Pembangunan Convention Hall
Ketua DPRD Jepara, Agus Sutisna, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan JIFBW 2025. Namun, ia menekankan pentingnya peningkatan fasilitas untuk mendukung even skala internasional seperti ini.
“Kami mendorong Pemkab Jepara untuk membangun tempat yang lebih representatif, seperti convention hall atau Jepara Convention Center. Fasilitas ini nantinya bisa digunakan untuk berbagai even berskala internasional, yang tentunya akan meningkatkan potensi pasar dan Pendapatan Asli Daerah (PAD),” ujar Agus.
Agus juga menyoroti pentingnya menjaga kearifan lokal Jepara dalam industri mebel dan ukir.
Meskipun industri manufaktur di Jepara terus berkembang, ia menegaskan bahwa kekuatan utama perekonomian daerah tetap terletak pada sektor mebel dan ukir.
“Ini adalah warisan budaya dan ekonomi yang harus kita pertahankan dan kembangkan,” tegasnya.
Produk Mebel Jepara yang Mendunia
JIFBW 2025 menampilkan berbagai produk mebel berkualitas tinggi dari pengrajin lokal Jepara.
Mulai dari furniture klasik hingga desain modern, semua produk menonjolkan keunikan ukiran khas Jepara yang telah mendunia.
Beberapa stan bahkan menampilkan koleksi eksklusif yang dirancang khusus untuk pasar internasional.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jepara, Zamroni Lestiaza, menyatakan bahwa pameran ini tidak hanya menjadi ajang promosi, tetapi juga membuka peluang kerja sama bisnis antara pengrajin lokal dan pembeli asing.
“Ini adalah momentum untuk menunjukkan bahwa produk mebel Jepara mampu bersaing di pasar global,” ujarnya.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski antusiasme pengunjung tinggi, penyelenggara JIFBW 2025 menghadapi beberapa tantangan, terutama terkait fasilitas dan infrastruktur.
Gedung Wanita Jepara, yang menjadi lokasi pameran, dinilai belum cukup memadai untuk even berskala internasional.
“Kami berharap ke depan ada fasilitas yang lebih besar dan modern, seperti convention hall, agar pameran seperti ini bisa lebih maksimal,” kata Alhaq.
Selain itu, peningkatan promosi dan pemasaran juga menjadi perhatian. Agus Sutisna menyarankan agar penyelenggara lebih gencar dalam mempromosikan even ini, baik secara nasional maupun internasional.
“Dengan marketing yang lebih agresif, JIFBW bisa menarik lebih banyak pengunjung dan calon pembeli,” ujarnya.
Penutup
JIFBW 2025 telah membuktikan bahwa produk mebel Jepara tetap diminati di pasar global. Namun, untuk mempertahankan momentum ini, diperlukan dukungan fasilitas dan infrastruktur yang lebih memadai.
Wacana pembangunan convention hall yang digaungkan oleh DPRD Jepara menjadi langkah strategis untuk memastikan even serupa bisa lebih sukses di masa depan.
Dengan demikian, industri mebel Jepara akan terus bersinar dan menjadi kebanggaan daerah. (rom)
Editor : Mahendra Aditya