Jepara – Dari luar, Masjid Jami’ Baiturrahman I di Jalan Raya Gotri-Welahan Km 1, Desa Robayan, Kecamatan Kalinyamatan, tampak seperti masjid pada umumnya. Arsitektur modern mendominasi dengan material kekinian.
Namun, di balik itu, masjid ini menyimpan sejarah panjang sejak tahun 1905.
Masjid ini menjadi saksi perkembangan keagamaan dan pergolakan di era pra-kemerdekaan.
Salah satu bagian paling bersejarah yang masih bisa ditemukan adalah ceketeng atau gapura depan masjid.
Dipercantik dengan piring-piring keramik khas Cina, gapura ini menjadi ikon khas masjid.
Haji Abdul Shomad, sesepuh setempat, menjelaskan bahwa piring-piring tersebut dulunya dipasang tanpa plester semen, hanya dipopok seperti yang diterapkan di Masjid Astana Sultan Hadlirin Mantingan.
“Dulu, gapura ini tidak memiliki pondasi. Namun, karena lokasinya di tepi jalan raya, kini sudah diperkuat dengan besi agar tetap kokoh,” ujarnya.
Gapura ini berusia lebih dari satu abad dan memiliki corak arsitektur Hindu-Jawa.
Berdasarkan prasasti yang terdapat di mustaka mimbar khatib, tertulis bulan Zulhijah 1322 Hijriah atau sekitar tahun 1905 Masehi.
Kini, gapura ini telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemda Jepara.
Jejak Peradaban di Robayan
Dahulu, Robayan dikenal sebagai kota santri. Mbah Robaya, tokoh pembabat desa yang diyakini berasal dari Surabaya, menerima piring-piring Cina ini sebagai hadiah dari saudagar Tiongkok.
Motif bunga dan garis pada piring melambangkan persatuan dan kedamaian.
Selain itu, Desa Robayan juga termasuk wilayah penting pada masa Kerajaan Kalinyamat, sejajar dengan Desa Kriyan dan Bakalan.
Sebagai pusat perdagangan dan penyebaran Islam, daerah ini juga dikenal sebagai kawasan perdamaian.
Tak jauh dari masjid, di Welahan, terdapat kelenteng yang masih berdiri hingga kini.
“Masjid ini berkembang berkat peran Kiai Ahmad, tokoh agama setempat. Setelah Mbah Robaya wafat, Kiai Ahmad yang menjadi motor pembangunan masjid ini,” tutur Shomad.
Saat itu, kebutuhan akan tempat ibadah yang lebih besar semakin mendesak. Warga sekitar harus berdesakan saat salat Jumat di Musala KH Saleh (trah Sunan Bayat Klaten) di Sekarjati Modenan.
Hal ini mendorong mereka meminta bantuan H. Asnawi, seorang pengusaha rokok Anggur, untuk mendanai pembangunan masjid.
“H. Asnawi menyanggupi dan menjadi donatur utama. Jadi, sebelum Kudus terkenal dengan rokok Djarum, di sini sudah ada industri rokok besar.
Sekarang pabriknya sudah tidak ada, hanya bangunan tua yang tersisa,” jelasnya.
Saksi Bisu Era Kolonial
Masjid Baiturrahman juga menjadi saksi sejarah perjuangan bangsa. Pada masa kolonial, Belanda pernah mengebom dua titik di Kalinyamatan: Pendosawalan dan Masjid Robayan.
Namun, kedua serangan meleset. Bom yang seharusnya menghancurkan Pendosawalan jatuh di Banyuputih, sementara bom yang ditujukan ke Masjid Robayan malah menghantam Pasar Kerajaan Kalinyamat.
Akibat peristiwa ini, pasar tersebut kemudian dikenal sebagai Kutha Bedah (Kota Meledak).
Seiring waktu, masjid ini mengalami tiga kali renovasi besar, yakni pada tahun 1968, 1980, dan 2004. Namun, beberapa bagian asli tetap dipertahankan, seperti mimbar khatib.
Maghfur, salah satu tokoh masyarakat, menunjukkan mimbar yang masih berdiri kokoh dengan tinggi lima meter.
“Mimbar ini dibuat oleh Mbah Jono, seorang wali. Awalnya, pintu masjid terlalu kecil untuk memasukkan mimbar.
Namun, atas karamah Mbah Jono, mimbar ini akhirnya bisa masuk tanpa harus membongkar pintu,” kenangnya.
Menjadi Pusat Pendidikan Agama
Kini, Masjid Baiturrahman tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat. Selain ibadah, masjid ini juga menjadi tempat belajar agama bagi warga sekitar.
“Dulu sudah ada sekolah bernama Tarbiyatul Athfal yang kini berganti nama menjadi Al Azhar. Sekolah ini memiliki perjalanan panjang dan hingga kini muridnya mencapai 500 orang,” ungkap Shomad.
Agenda rutin masjid antara lain pengajian kitab setiap malam Sabtu, Rabu, dan Jumat.
Selain itu, ada tarekat Al-Khidmah yang digelar setiap malam Selasa. “Kami juga mengundang ulama dari luar untuk pengajian selapanan,” imbuhnya.
Dengan banyaknya pondok pesantren di sekitar masjid, atmosfer keilmuan Islam di wilayah ini tetap terjaga.
“Sejak dulu, semangat mencari ilmu di sini sangat tinggi. Kami berharap tradisi ini terus berlanjut untuk generasi mendatang,” pungkasnya.(fik)
Editor : Mahendra Aditya