JEPARA - Pegiat lingkungan lakukan penanaman pohon konservasi di kaki Gunung Muria, Minggu (25/11).
Lokasi penghijauan itu bekas permukiman warga yang ditinggalkan.
Kegiatan tersebut diinisiasi oleh Lumbung Warga Gerbang Muria dan komunitas 369 Menusun.
Berkolaborasi dengan berbagai komunitas yang ada di Jepara seperti komunitas Perupa Art Jepara, Sekber PAJ, Majelis Alternatif Jepara, Kampung Budaya Piji Wetan dan pihak lainnya.
Diikuti oleh peserta dari berbagai daerah seperti Jogjakarta, Ciamis, Jakarta, Cikarang, Jombang, Sidoarjo, hingga Probolinggo.
Dijelaskan peserta mewakili daerah, karena kegiatan tersebut sekaligus Musyawarah Nasional Lumbung Gerbang.
Koordinator Lumbung Warga Nasional Agung Tri menyampaikan dipilihnya alas tua Dusun Menusun Desa Somosari bukan tanpa alasan.
“Dusun ini tahun 1980-an sudah ditinggalkan oleh penduduk karena aksesnya sulit (jalan setapak, Red). Tapi kini melihat topografinya menarik, di samping ada makam Eyang Sapu Jagad yang dihidup-hidupi oleh masyarakat dari bawah, tanahnya pun amat subur,” ungkapnya Senin (25/11).
Disebutkan terdapat sekitar 16 hektare termasuk lahan perhutani yang berada di kawasan tersebut.
Sementara itu sekitar 6 hektare di antaranya SHM dan telah dibebaskan.
“Statusnya SHM dan sudah dibeli oleh orang-orang beserta penggiat di Komunitas 369 atau Jamaah Sapu Jagad. Status kepemilikan komunal, yang membeli tidak boleh memiliki lahan itu. Dalam hal ini aspek komunal siap dan aspek pendukung kehidupan siap,” tegasnya.
Agung menguraikan bagaimana lahan tersebut dapat berkembang secara permakultur.
Atau teknik ekologi dengan desain lingkungan yang mengembangkan arsitektur berkelanjutan, beserta sistem pertanian swadaya berdasarkan ekosistem alam. (fik)
Editor : Ali Mustofa