JEPARA - Hingga saat ini ketersediaan liquefied petroleum gas (LPG) masih dikeluhkan oleh masyarakat di beberapa daerah di Kabupaten Jepara.
Bahkan, warga Desa Bawu, Kecamatan Batealit, Anis Hartanto, 44, mengaku kesulitan mendapatkan stok gas tersebut.
Selain di Bawu, pihaknya mengaku telah memutari daerah sekitar Desa Pekalongan, Mindahan hingga Ngabul dan Tahunan tapi tetap tiada hasil.
"Sudah muter tapi habis semua sejak kemarin," resahnya.
Merasa usahanya tiada hasil, Anis lantas terpikirkan untuk memasak menggunakan gas dan kompor portabel.
Hal itu dilakukan untuk memasak lauk, sementara untuk menanak berasnya tetap memakai magic jar.
"Sementara make gas refill portabel ini, saya ngisi di Kudus perbotol 230 gram seharga Rp 8 ribu. Kebetulan anak saya sekolah di Kudus kalau pulang sore jadi bisa nitip," ucapnya.
Kondisi gas LPG 3 kilogram mulai terasa didapat hampir seminggu yang lalu, dan menurut Anis saat ini kian susah.
"Biasa beli di agen dengan menyertakan KTP dan KK di harga Rp 20-22 ribu. Ini ada informasi dari teman tapi jauh dari rumah kalau ada barang rata-rata Rp 25-30 ribu (di pengecer, Red)," jelasnya.
Sementara itu, warga Desa Bulungan Kecamatan Pakis Aji, Miftaqul Ulum, 29, pun juga merasakan hal serupa. Menurutnya gas melon hari-hari ini sulit didapat.
"Apalagi datang dari agen hari-hari tertentu, seperti dalam seminggu hanya berapa kali, rebutan. Harganya di daerah sini Rp 25-27 ribu," katanya.
Saat-saat ini, pihaknya juga memanfaatkan kayu untuk masak-masak kelas besar.
"Jadi ini ngirit stok yang masih tersedia. Make gas hanya untuk masak kelas kecil," sebutnya.
Pihaknya berharap dari pemerintah memberikan informasi yang jelas kepada khalayak terkait dengan sulitnya gas melon di pasaran.
"Padahal untuk kondisi saat ini juga tidak ada banjir seperti yang sebelum-sebelumnya," ujarnya.
Terpisah, Analis Kebijakan Ahli Muda dalam Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Sekretariat Daerah (Setda) Kabupaten Jepara Ibnu Sulhan hanya menyampaikan untuk jatah kuota LPG Jepara 2024 yaitu 34.966 metrik ton (MT).
Jika dikonversikan ke satuan kilogram, satu metrik ton setara dengan 1.000 kilogram (kg). Artinya ada 34.966.000 kilogram kuota LPG subsidi untuk masyarakat Kabupaten Jepara.
"Secara keseluruhan kuota untuk jepara 11,437,667 unit gas melon. Sudah terdistribusi 7,645,404 tersisa 3,792,253," ucapnya.
Sementara itu, Area Manager Comm, Rel & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah Brasto Galih Nugroho menjelaskan, penyaluran LPG 3 kg di awal September 2024 hingga saat ini di Jepara berkisar 33-40 ribu tabung per hari.
"Saat hari libur di Senin (16/9) akan ada penyaluran secara fakultatif sebesar 39 ribu tabung untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," jelasnya.
Harga Eceran Tertinggi (HET) LPG 3 kg yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah nomor 540/20 tahun 2024 menjadi Rp 18.000 per tabung.
Sebelumnya, Rp 15.500 per tabung berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah nomor 541/15 tahun 2015. HET yang ditetapkan Gubernur tersebut merupakan HET di tingkat pangkalan, bukan di tingkat pengecer, toko, atau warung kelontong non-pangkalan.
"Identitas pangkalan resmi terdapat papan nama pangkalan LPG 3 kg," hematnya.
Sesuai Perpres 104/2007 & 38/2019, LPG 3 kg adalah untuk rumah tangga miskin, usaha mikro, petani sasaran (petani kecil), dan nelayan sasaran (nelayan kecil).
Sesuai surat edaran Dirjen Migas no B-2461/MG.05/DJM/2022, usaha yang dilarang membeli meliputi restoran, hotel, peternakan, pertanian (di luar petani sasaran), tani tembakau, jasa las, batik, dan binatu (laundry).
"Kami mengimbau masyarakat mampu dan yang tidak berhak LPG 3 kg agar membeli LPG nonsubsidi. Pertamina Patra Niaga memiliki produk Bright Gas 5,5 kg, 12 kg, dan 50 kg serta Bright Gas Can," tandasnya.
Lebih lanjut, apabila masyarakat dan konsumen memiliki pertanyaan dan keluhan terkait LPG, bisa menghubungi Pertamina Call Center 135 melalui saluran video call maupun chatbot melalui aplikasi MyPertaminaa tau WhatsApp 08111350135. (fik/zen)
Editor : Abdul Rokhim