Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Banjir di Karesidenan Pati Belum Menunjukkan Tanda Surut, Bantuan Sembako Minim

Moh. Nur Syahri Muharrom • Kamis, 21 Maret 2024 | 03:00 WIB
AKTIF: Para relawan tengah memasak makanan di dapur umum yang berdiri di Desa Gerdu, Pecangaan untuk dibagikan ke korban banjir.
AKTIF: Para relawan tengah memasak makanan di dapur umum yang berdiri di Desa Gerdu, Pecangaan untuk dibagikan ke korban banjir.

PATI - Banjir di wilayah Pati belum ada tanda-tanda akan surut. Bahkan ketinggian air cenderung semakin meningkat.

Hal ini seperti yang terjadi di Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo.

Untuk diketahui, desa ini merupakan daerah langganan banjir hampir setiap tahun.

Kali ini, banjir yang menggenangi desa di berbatasan Pati-Kudus ini, lebih parah dari banjir tahun sebelumnya.

”Kondisi banjir sekarang ini, semakin bertambah debit airnya. Jalan alternatif yang menghubungkan Pati-Kudus juga turut terendam dan tidak bisa dilalui kendaraan. Baik untuk roda dua maupun roda empat,” ungkap Kepala Desa Kasiyan Rumaji.

Dia mengungkapkan, banjir di desanya menyebabkan 88 rumah yang dihuni 327 jiwa terendam selama hampir sepekan. Banjir di desa ini, sudah terjadi sejak Rabu (13/3).

Wilayah yang terendam banjir berada di Dukuh Penggingwangi dan Dukuh Kasiyan Tempel.

Ketinggian air di permukiman warga mulai 30 sentimeter hingga 140 sentimeter. Sementara di jalan raya ketinggian air antara 30 sentimeter hingga 80 sentimeter.

Untuk itu, jalur yang menghubungkan Desa Kasiyan dengan Poncomulyo Gadudero saat ini ditutup, karena kendaraan sudah tidak bisa melintas.

”Kami sudah kirimkan permohoan bantuan ke pemerintah melalui camat. Kami sangat mengharapkan bantuan dari masyarakat berupa bahan pokok atau sembako dan juga obat-obatan,” terang Rumaji.

Untuk saat ini, sudah ada bantuan yang datang berupa sembako dari BPBD dan Dinsos Pati.

”Sudah ada bantuan tapi sedikit-sedikit, walaupun belum cukup tapi tetap kami berusaha membagi rata untuk masyarakat,” paparnya.

Pihaknya berharap bantuan segera mengalir ke wilayahnya, agar dapat meringankan penderitaan masyarakat akibat banjir.

Terlebih saat ini sebagian besar masyarakat sedang menjalankan puasa.

Jalan Kudus-Purwodadi di Desa Tanjungkarang, Jati, Kudus, juga masih terendam banjir kemarin.

Bagi sepeda motor yang nekat menerobos sebagian mengalami mogok.

Dari pantauan, genangan air yang merendam jalan itu, panjangnya hampir mencapai dua kilometer.

Sementara untuk ketinggian air berkisar 30 sampai 70 sentimeter.

Meski begitu, kondisi arus lalu lintas di Jalan Kudus-Purwodadi itu, terpantau ramai lancar.

Beberapa sepeda motor ada yang nekat menerobos genanangan air. Ada yang berhasil, tapi ada juga kendaraan yang akhirnya mogok.

Jalan Kudus-Purwodadi tersebut, hampir sepekan terendam.

Akses menuju Kecamatan Undaan itu, terendam sejak Kamis (14/10) lalu hingga kemarin belum surut.

Rifan, salah satu pemotor yang nekat menerobos motornya akhirnya macet. Dia dari Purwodadi hendak menuju Kudus.

”Iya macet tadi pas sampai sebelum gereja (GKMI Tanjungkarang). Kendaraan saya dorong hingga ke simpang lima Tanjungkarang,” ungkapnya.

Rifan harus mendorong motornya sepanjang satu kilometer. Usai mendorong kendaraannya, ia mengeluarkan air yang masuk di knalpot mesin motornya.

Hal serupa juga dialami Arini, motornya mogok menerjang banjir yang menggenangi ruas jalan provinsi itu.

”Saya yakin saja bisa melintas. Eh, taunya motor saya mogok di tengah jalan karena kemasukan air,” ungkapnya.

Kondisi berbeda di Kabupaten Jepara. Banjir di Kota Ukir itu, berangsur surut. Di Desa Dorang, Nalumsari, posko bencana resmi ditutup kemarin malam.

Begitu pula dapur umumnya. Namun, tidak semua. Hingga kemarin, masih ada dua dapur umum di posko kebencanaan yang buka. Masing-masing, di Desa Sowan Kidul, Kedung, dan Desa Gerdu, Pecangaan.

Dapur umum di Desa Sowan Kidul bisa memproduksi 1.500 bungkus makanan dalam sehari untuk dua kali makan.

Sedangkan di Desa Gerdu, memproduksi sekitar 2.600 bungkus makanan untuk dua kali waktu makan.

Khusus di Desa Gerdu, makanan didistribusikan tak hanya untuk korban banjir di desa itu. Melainkan juga untuk korban banjir di desa sekitar.

Meliputi Desa Kaliombo, Pecangaan, dan Desa Batukali, Kalinyamatan.

Dari pantauan di lapangan kemarin, sejumlah relawan tampak ulet menyiapkan masakan di dapur umum Desa Gerdu, ada yang menyiapkan sayuran.

Adapula yang menanak nasi. Rencananya, makanan itu untuk buka puasa bagi korban banjir.

Meski banjir di Desa Dorang berangsur surut signifikan, tidak dengan desa lain yang hingga kemarin masih dilanda banjir, desa lain yang masih terendam itu tingkat surutnya relatif pelan.

”Ini kami kirim petugas untuk asesmen. Untuk menentukan dampaknya itu kapan kira-kira dapur umum bisa ditutup,” terang Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jepara Arwin Noor Isdiyanto kemarin.

Dari pantauan di Desa Batukali kemarin, ruas jalan utama desa tersebut tampak sudah mengering.

Berbeda dengan area jalan menuju kompleks perumahan warga. Ketinggian airnya masih relatif tinggi, sekitar 20-70 sentimeter.

Meski begitu, warga tetap bertahan di rumah masing-masing. Salah satunya Meysi Wulandari, warga RT 3/RW 2, Desa Batukali.

Sudah hampir sepekan rumahnya terendam banjir. Kedalaman air di dalam rumah sekitar 50 sentimeter.

Ia bersama kedua orang tua beserta anak dan suaminya memilih tinggal di rumah.

”Kami tinggal di bagian belakang rumah yang tinggi. Tapi ya aktivitasnya terbatas,” ungkapnya kemarin.

Banjir yang merendam rumahnya itu, sempat surut pada Senin (18/3) lalu, namun kemarin pagi, air naik lagi.

Karena lamanya beraktivitas di dekat genangan banjir, ia dan sejumlah anggota keluarganya mulai terserang gatal-gatal hingga pilek. (aua/gal/rom/lin)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#jepara #banjir #pati #sembako #Kudus