JEPARA – Pemerintah Kabupaten Jepara akhirnya menetapkan status tanggap darurat bencana non alam atas merebaknya kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten Jepara.
Status tersebut ditetapkan lantaran pasien yang terjangkit DBD terus bertambah.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Jepara sejak 1 Januari hingga Rabu (28/2), sudah ada 14 pasien yang meninggal dunia lantaran terjangkit DBD.
Sementara yang dipastikan telah terjangkit DBD sudah ada 103 orang.
Baca Juga: Tim KKN Unisnu Jepara Jalin Kolaborasi dengan Mitra Tahu Sri Rezeki di Desa Lebak, Ini Harapannya
Sementara pasien yang statusnya suspect DBD ada 628 orang.
Dari 14 pasien yang meninggal dunia, tersebar dari beberapa daerah di Kabupaten Jepara.
Di antaranya dari Desa Troso, Ngeling, dan Pulodarat di Kecamatan Pecangaan. Lalu ada dari Desa Suwawal dan Karanggondang di Kecamatan Keling.
Selanjutnya ada dari Desa Sowan Lor dan Bugel di Kecamatan Kedung.
Lalu Kelurahan Panggang dan Bulu di Kecamatan Kota Jepara, terakhir dari Desa Kelet, Kecamatan Keling.
Eko Cahyo Puspeno, Kepala Bidang Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular sekaligus Pelaksana Harian (Plh) Kepala Dinkes Kabupaten Jepara menjelaskan DBD saat ini menyebar di hampir seluruh kecamatan.
Baca Juga: 14 Pasien Meninggal Dunia Akibat DBD, Pemkab Jepara Tetapkan Tanggap Darurat!
”Kecuali Karimunjawa,” katanya pada Rabu (28/2).
Persebaran terbanyak saat ini ada di Kecamatan Pecangaan.
Selanjutnya disusul Kecamatan Kedung, Mlonggo, Kalinyamatan, dan Kota Jepara.
”Saat ini sudah Tanggap Darurat,” tandas Eko.
Karena merebaknya DBD di Kabupaten Jepara, membuat sejumlah rumah sakit harus berusaha ekstra agar para pasien bisa terlayani seluruhnya. Salah satunya dilakukan RS PKU Aisyiyah Jepara dengan menambah tempat tidur pasien.
”Karena kan memang ada instruksi agar jangan sampai menolak pasien,” ungkap Krisna Wijayanti, Duty Manajer RS PKU Aisyiyah Jepara.
Krisna menjelaskan, pasien DBD yang dirawat di rumah sakitnya telah meningkat sejak Januari lalu.
Saat itu terdapat 77 pasien terkait DBD yang dirawat.
Sementara di Februari ini, lonjakannya signifikan.
Baca Juga: Program Kemitraan KKN UNISNU Jepara Galakkan Strategi Pemasaran Produk Tepung Tiwul Bunda Yuli di Desa Kelet
Terdapat 192 pasien yang dirawat.
”Full terus. Sehingga perlu indent untuk sekedar rawat inap. Sehingga beberapa perlu menunggu di IGD dahulu, baru bila ada kosong, langsung dipindahkan,” papar Krisna.
Upaya serupa untuk mengatasi lonjakan pasien juga dilakukan RSUD RA Kartini Jepara.
Salah satunya dengan menambah ruang perawatan untuk pasien DBD. (rom/khim)
Editor : Abdul Rokhim