Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SOSOK Jamaludin Malik, Caleg Ultraman yang Berpotensi Jadi Anggota DPR RI

Nibros Hassani • Senin, 19 Februari 2024 | 18:25 WIB
NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS IKONIK: Jamaludin Malik, caleg Partai Golkar DPR RI Dapil 2 Jateng yang terkenal dengan caleg Ultraman saat ditemui di rumahnya.
NIBROS HASSANI/RADAR KUDUS IKONIK: Jamaludin Malik, caleg Partai Golkar DPR RI Dapil 2 Jateng yang terkenal dengan caleg Ultraman saat ditemui di rumahnya.

JEPARA - Jamaludin Malik atau caleg yang identik dengan itu kostum ultraman nyalon DPR RI Dapil 2 Jawa Tengah (Jepara, Kudus, Demak) baru-baru ini.

Strategi kampanye nyelenehnya ternyata jitu.

Hingga Minggu (10/2), perolehan suaranya tinggi, sehingga berpotensi melenggang ke Senayan.

Jawa Pos Radar Kudus pun akhirnya berkesempatan untuk dapat mengulik lebih jauh sosoknya.

Saat tiba di kediamannya, sebuah topeng dan kostum ultraman tampak tergeletak di ruang tamu kediaman Jamaludin Malik tepatnya di Desa Tunggul Pandean, Nalumsari, Jepara.

Kostum dan topeng itu, menjadi saksi perjuangan untuk menarik perhatian publik demi merebut kursi di Senayan (DPR RI).

Kepada Jawa Pos Radar Kudus, Mas Malik -sapaan akrab Jamaludin Malik- memperlihatkan kostum dan topeng ultraman yang ia andalkan saat kampanye turun ke lapangan.

”Kostumnya (sembari memperlihatkan kostum ultraman) ini ukuran kecil. Saya nggak muat. Yang pakai orang saya (timnya) yang kurus. Kostum ini saya beli di Shopee Rp 30 ribuan. Topengnya agak mahal. Harganya sekitar Rp 400 ribu, tapi bagus,” kata Mas Malik menceritakannya dengan bangga.

Mas Malik mengaku, ide memasang gambar Ultraman di alat peraga kampanye (APK)-nya (baliho, banner, dan lainnya), dari idenya setelah Salat Tahajud.

Ia tidak menggunakan jasa konsultan atau tim media yang mahal.

Mas Malik bahkan menjadi admin media sosialnya sendiri. Ia juga mengakui tidak punya tim yang besar seperti caleg lain.

Saat kampanye, ia hanya dibantu enam orang yang bekerja dengan sistem sif.

Jumlah enam orang itu, termasuk pembawa kamera dan orang yang terjun ke lapangan menggunakan kostum Ultraman bagi-bagi bantuan.

Ia mengaku pernah mendapat tawaran untuk menggunakan jasa konsultan politik dari Jakarta. Namun, ia langsung menolak.

Ia ingin saat nyaleg tidak mengeluarkan uang terlalu banyak.

Sebab, ia khawatir nantinya saat mengabdi untuk masyarakat di kursi dewan ia harus berpikir keras untuk balik modal.

Saat Jawa Pos Radar Kudus tiba di kediamannya, tampak sekitar rumahnya juga sepi.

Tidak ada tim kampanye yang biasanya mondar-mandir di rumah caleg.

Mas Malik tampak meladeni wawancara wartawan sendiri di rumah.

Ia hanya ditemani anak-anaknya yang masih kecil.

”Admin medsos saya sendiri, admin chat WhatsApp aduan juga saya sendiri. Kalau video di Tiktok ada editornya, karena kalau saya yang edit kelamaan. Hehe…” kata pria kelahiran 1989 itu.

Sementara itu, tampak dari layar laman pemilu2024.kpu.go.id (update 18 Februari pukul 17.21 WIB), Jamaludin Malik telah memperoleh 62.685 suara.

Meski tergolong pendatang baru dan modal viral di medsos, ia berhasil menyaingi suara kompetitor dari partai lain yang sudah berpengalaman di Senayan.

”Caleg lain mungkin habis miliaran. Saya hanya keluar uang sekitar Rp 600 juta,” katanya yang juga mengaku dibantu banyak pihak untuk kampanye efisien.

Ditanya tentang latar belakang, pria lulusan SMA 1 Pecangaan, Jepara, ini, mengaku pernah hidup susah.

Dia harus bekerja sebagai kuli panggul di pasar.

Ia sering nguli di Kudus, ngekos di Desa Ploso, Jati, Kudus. Pernah juga tinggal di belakang pasar dan kadang di Desa Jetak, Kaliwungu, Kudus.

Saat itu, ia bekerja sebagai kuli hanya mendapat penghasilan sekitar Rp 30 ribu per hari. Tidak makan dari bosnya.

”Saya tulang punggung keluarga. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Adik saya belum bayar sekolah dan orang tua ditagih utang sama rentenir. Saat kerja sebagai kuli, saya sering minta ditraktir teman-teman saya,” kata Mas Malik mengenang masa-masa suramnya.

Dia sempat berhenti sebagai kuli setelah kakinya patah karena terjatuh.

Padahal saat itu, orang tuanya masih punya utang Rp 50 juta yang harus ia lunasi.

Pada masa-masa sulit itu, ia berpikir bagaimana bisa menghasilkan uang lebih banyak dari orang lain.

Lalu saat ada lowongan pekerjaan, ia mendaftar sebagai agen marketing di perusahaan asuransi hingga kemudian berproses sampai menjadi agency director.

Sedangkan soal politik, kepada wartawan ia bercerita justru pernah sangat membencinya.

Ia menganggap semua politikus adalah pembohong, hanya mementingkan diri sendiri, dan munafik.

Pada masa lalu, ia pernah membantu pemenangan seorang politikus.

Namun, saat keluarganya sakit dan butuh perawatan di rumah sakit, politikus tersebut melupakannya.

Sekarang, ia berhasil nyaleg dan berpeluang lolos ke Senayan (DPR RI).

”Saya ingin nyaleg supaya aksi saya bisa berpengaruh untuk orang lebih banyak. Saya tidak mau nyaleg di daerah. Saya pilih langsung DPR RI, karena dampaknya lebih terasa. Saya sempat ditolak banyak partai, karena saya bukan orang parpol (partai politik). Akhirnya saya diterima Golkar. Ketuanya di Jepara telepon saya. Katanya saya bisa nyaleg DPR RI menggantikan orang partai, karena ada yang mundur. Bismillah saya maju,” katanya. (*/lin)

Editor : Abdul Rokhim
#dpr ri #jepara #ultraman #Dapil II #Jamaludin Malik