JEPARA – Umat Hindu di Jepara merayakan hari raya Kuningan, Minggu (13/8). Perayaan itu menjadi penutup dari rangkaian sembahyang yang dilakukan sejak awal Februari. Tak jauh berbeda dari Galungan, dalam Sembahyang Kuningan kemarin, umat Hindu mempersembahkan hasil bumi.
Pura Puser Bumi melaksanakan sembahyang lebih awal sehari kemarin pagi (12/8). Sementara itu, umat Hindu lain yang tidak bisa sembahyang pada pagi hari melaksanakan di Pura Manggala Dharma dan Dharma Loka pada malam harinya pukul 19.30.
Diketahui, ada sekitar seribu umat Hindu yang ada di Jepara. Sementara yang ber-KTP Jepara ada sekitar 700.
Adi Supaeno, pemangku Hindu saat sembahyang di Pura Puser Bumi mengatakan, Kuningan menjadi penutup dari rangkaian ibadah yang dilakukan umat Hindu mulai dari pembersihan atau mecaru ke sembahyang Galungan hingga sembahyang Kuningan.
Kata Adi, saat hari raya Kuningan, para leluhur dewa turun ke Bumi. Sebagai wujud bhakti umat Hindu kepada leluhur, kuningan diadakan.
“Kuningan menjadi wujud bhakti umat Hindu kepada leluhur untuk ibu pertiwi yang sudah dilakukan saat Galungan, dan kuningan ini maknanya kembalinya leluhur dari Marcapada ke Kahyangan,” kata Adi.
Sementara itu, Parsini, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Jepara mengatakan, sembahyang galungan ini bermakna kemenangan kebaikan melawan kejahatan. Baik Galungan dan Kuningan, kedunya dilaksanakan rutin sebagai wujud syukur umat Hindu kepada alam raya. (nib)
Editor : Ali Mustofa