JEPARA – Warga dan pegiat lingkungan resah jika tambak udang di Kecamatan Karimunjawa tidak segera ditindak. Sebab, keberadaannya diduga mengancam ekosistem ikan. Sebab, ribuan ikan budidaya milik warga mati, karena perairannya tercemar.
Salah satunya diungkpkan Isnajib. Nelayan asal Kecamatan Karimunjawa itu mengaku, ribuan ikan kerapu hasil budidaya miliknya mati. Ia tidak sendiri, kawan nelayannya juga pernah budidaya ikan sunuk dan kerapu, tapi gagal. Ikan yang dia budidaya tersebut, mati tak bersisa. ”Saya saat ini berhenti (budidaya ikan). Tidak berani usaha budidaya karamba lagi,” jelasnya.
Sementara itu, pegiat lingkungan Datang Abdul Rachim memperkirakan budidaya dengan system keramba tersebut, terpengaruh oleh kualitas air yang sudah buruk akibat adanya pencemaran dari tambak udang yang menyalahi aturan. Tak hanya untuk ikan budidaya, tapi juga ikan yang ada di perairan laut lepas juga terganggu.
”Semakin luas pembuatan (tambak udang), paralon-paralon air semakin panjang keluar. Ikan-ikan di laut nanti bisa mati. Di budidaya keramba sudah terdampak. Ikan sudah mati,” kata Datang.
Dia menceritakan, ada berbagai jenis ikan yang ada dibudidaya keramba Karimunjawa. Seperti cantang, cantik, kerapu, dan kerapu cantang. Setelah banyak ikan yang mati itu, warga malas melakukan budidaya. Sebab, banyak jenis ikan yang akhirnya mati. Padahal pun jika ada musim baratan atau timuran, dulunya hasil panen masih baik.
Tim Koordinasi Penanganan Tambak Pemerintah Kabupaten Jepara juga mengadakan rapat mengenai kelanjutan penanganan tambak udang yang diduga mencemari lingkungan itu. Dalam rapat tim yang dipimpin oleh Sekretaris Daerah Jepara Edy Sujatmiko itu, diputuskan akan ada efek kejut bagi petambak udang yang masih keras kepala melanjutkan usahanya itu. (nib/lin)
Editor : Ali Mustofa