Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Habiskan 400 Obor, Festival Perang Obor di Tahunan Jepara Berlangsung Meriah 

Ali Mustofa • Rabu, 7 Juni 2023 | 16:20 WIB
BERKOBAR: Peserta perang Festival Perang Obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, saling memukulkan dengan obor yang terbuat daun kelapa kemarin malam. (MOH. NUR SYAHRI MUHARROM/RADAR KUDUS)
BERKOBAR: Peserta perang Festival Perang Obor di Desa Tegalsambi, Tahunan, Jepara, saling memukulkan dengan obor yang terbuat daun kelapa kemarin malam. (MOH. NUR SYAHRI MUHARROM/RADAR KUDUS)
JEPARA – Festival Perang Obor yang jadi puncak rangkaian sedekah bumi Desa Tegalsambi, Tahunan, digelar kemarin malam. Ada sekitar 400 obor yang menjadi alat perang bagi 40 pasukan obor.

Pasukan tersebut merupakan para pria asli Desa Tegalsambi. Seluruh obor itu habis dalam waktu sejam. Masing-masing pasukan saling menghantamkan obor yang terbakar ke peserta. Masyarakat dari berbagai penjuru daerah ikut tumplek blek di perempatan Desa Tegalsambi yang jadi lokasi festival itu, menyaksikan keseruan perang tersebut.

Sejak pukul 18.00, masyarakat dari berbagai daerah berbondong-bondong datang ke perempatan Desa Tegalsambi. Padahal, prosesi acaranya baru dimulai sekitar pukul 19.30. Jumlah penontonnya diperkirakan mencapai ribuan orang. Sebagian ada yang menonton dari atas balkon rumah warga yang ada di sekitar perempatan. Sebagian lainnya, menyaksikan di pinggir jalan. Adapula yang nekat menonton dari atas tugu obor Desa Tegalsambi yang ada di tengah perempatan.

Agenda perang obor ini, rutin digelar setahun sekali setiap Senin Pahing pada bulan Dzulqo’dah atau Bulan Apit (penanggalan Jawa).

Sebelum perang obor dilaksanakan, terlebih dahulu dilaksanakan beberapa prosesi upacara adat di kediaman Petinggi atau Kepala Desa Tegalsambi Agus Santoso. Dilanjutkan dengan kirab pusaka yang dimulai dari rumah petinggi sampai perempatan Tegalsambi.

Setelah itu, obor pertama disulutkan api oleh Penjabat (Pj) Bupati Jepara Edy Supriyanta. Tanda dimulainya festival tersebut. ”Walaupun perang obor ini sudah beratas-ratus tahun, tetap dilaksanakan sebagai bentuk melaksanakan pesan dari orang tua kita. Jadi orang yang tawadlu’,” ungkap Petinggi Tegalsambi Agus Santoso.

Setelah rampung, para pemain perang obor tidak langsung pulang. Mereka berbondong-bondong datang ke rumah petinggi lagi. Di sana, telah disiapkan obat oles tradisional yang jadi warisan turun-temurun dalam mengobati luka para pemain perang obor.

Diketahui, sejak 2020 Festival Perang Obor telah mendapatkan sertifikat sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) dari Kemendikbud Ristek. Menurut Pj Bupati Jepara Edy Supriyanta, Festival Perang Obor jadi magnet wisatawan kedua terbesar di Jepara setelah Pesta Lomban.

Sejarah Perang Obor sendiri, bermula dari legenda Ki Gemblong yang dipercaya oleh Kiai Babadan untuk merawat dan menggembalakan ternaknya. Namun karena terlena dengan ikan dan udang di sungai, ternak tersebut terlupakan, sehingga sakit atau mati. Kiai Babadan yang tidak terima dengan kelalaian Ki Gemblong, memukul Ki Gemblong dengan obor dari pelepah kelapa. Akibatnya, ia menggunakan obor serupa untuk membela diri. Tanpa diduga, benturan kedua obor menyebarkan api di tumpukan jerami di sebelah kandang. Ternak yang awalnya sakit tiba-tiba menjadi sembuh. (rom/lin) Editor : Ali Mustofa
#lestarikan warisan budaya #jepara #sedekah bumi jepara #festival perang obor