Keberadaan gedung tersebut dibangun 2017 lalu. Biaya yang dihabiskan saat itu sekitar Rp 3,5 miliar. Namun, dari waktu ke waktu, kondisinya kian suram. Kondisinya sunyi dan sepi pengunjung. Disinyalir, lokasi yang tertutup dan tersembunyi membuat bangunan itu jarang dikunjungi.
Bangunan tersebut lokasinya ada di Jalan Raya Rengging, Pecangaan. Bangunan tersebut dikelilingi pagar dengan tinggi sekitar 1,5 meter. Gerbangnya tidak tepat di tengah halaman. Melainkan ada di pojok kanan dan kiri halaman. Sehingga, bangunan utama tak nampak dari luar karena tertutup pohon. Dari pantauan di lapangan kemarin, kebetulan gerbang masuk ke bangunan JTTC terkunci. Tidak ada seorangpun di gedung itu.
Halamannya luas. Di halaman itu, berdiri sekitar 10 pohon yang rindang. Daun-daunnya berjatuhan di halaman. Membuat bangunan gedung itu seolah tak berpenghuni. Beberapa rumput liar di sekitar gedung pun tumbuh subur. Selain itu, dari depan tidak ada penunjuk yang menjelaskan bangunan apa dan untuk apa bangunan tersebut.
Padahal, gedung itu dikonsep untuk showroom produksi kerajinan kayu masyarakat Jepara. di tengah bangunan ada beberapa ornament kayu hasil karya masyarakat yang dipajang. ”JIFBW ini sama seperti pameran kota. Sampai saat ini central-nya belum diputuskan. JTTC bukan jadi pilihan karena kondisinya kurang representatif,” terang Kepala Kabid Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Jepara Iskandar Zulkarnain.
Opsi yang dipilih sebagai pusat informasi pameran internasional itu rencananya ada di tengah kota. ”Bisa di pendapa, atau Gedung Shima. Rencananya Selasa (14/2) baru akan dirapatkan,” tegas Iskandar kemarin. (rom/war) Editor : Ali Mustofa