Sebelumnya, dikabarkan stok pangan di Karimunjawa menipis. Cuaca buruk membuat mobilitas angkutan bahan pokok terhambat. Selain itu, banyaknya wisatawan yang sempat datang juga mau tidak mau menuntut warga untuk menyediakan makanan lebih banyak.
Menipisnya bahan pangan juga disampaikan beberapa wisatawan yang datang. Cesa Rosenda, wisatawan asal Jakarta mengutarakan, dia mendapat informasi dari hotel bahwa ada menu yang tidak bisa disajikan, karena stok makanan menipis. Selain itu, beberapa warung yang ia temui hanya menjual satu menu makanan. Berkurang dari biasanya.
Bambang, warga Karimunjawa menyatakan hal serupa. Meski begitu, untuk konsumsi penduduk di Karimunjawa pangan teratasi. ”Kalau kami warga desa sudah biasa (musim) baratan seperti ini. Memang ada makanan yang langka, seperti cabai dan telur. Kalau tiga hari ini yang sulit itu gas elpiji,” jelasnya.
Ia menceritakan, dua kapal yang mengangkut bahan pokok tersebut merupakan kapal angkutan barang. Biasa membawa sembako. Seperti beras, minyak, dan lainnya. Juga kerap digunakan warga Karimunjawa untuk menyetok bahan pangan saat musim baratan.
Dua kapal tersebut, berangkat dengan jadwal berbeda. Salah satu kapal berangkat pada Jumat (23/12) lalu dari Karimunjawa menuju Jepara dan kembali esoknya (24/12). Satu kapal lain, berangkat sekitar Senin atau Selasa belum lama ini dan kembali esoknya. ”Ada dua awak kapal yang biasa berjaga dan pelayaran juga aman, karena kami orang laut. Sudah biasa (walaupun ombak sedang tinggi),” jelasnya.
Meski hal tersebut terjadi setiap tahun, khususnya musim baratan, ia berharap ada perbaikan. Ia menilai seharusnya ada persiapan lebih matang dalam pariwisata. Dengan begitu, para wisatawan tidak panik.
Ia menyayangkan langkah pemerintah yang terkesan lambat. Sebab, kejadian ini sudah berulang kali. Setiap baratan, stok pangan dan bahan bakar cenderung menipis. ”Kejadian kemarin ramai itu (ratusan wisatawan tertahan, Red) seharusnya bisa diatasi. Kan kapal Kelimutu juga sudah lama beroperasi. Artinya wisatawan juga tidak tertahan. Ada alternatif (dengan kapal Kelimutu),” jelasnya.
Ia menambahkan, stok pangan di Karimunjawa masih aman untuk beberapa pekan ke depan. “Di sini kaya akan lautnya. Beras juga masih ada. Yang sulit memang gas (elpiji),” imbuh Bambang. (nib/lin) Editor : Ali Mustofa