Kristiani bercerita, semasa almarhumah masih di Singapura, Alana (anak Kristiani) sering diajak video call oleh korban. ”Katanya sudah nggak sabar pengen ketemu dengan ini (Alana, Red). Senang banget dia (korban),” jelas Kristiani kepada wartawan Jawa Pos Radar Kudus.
Ia mengingat, sebelum pergi dari rumah dan dinyatakan hilang, almarhumah juga sempat ingin membantu merenovasi rumah milik Ibunya. ”Itu kok gentingnya bocor, apa diperbaiki ya, Mbak. Tapi kok aku belum punya duit,” kata Kristiani menirukan Krisnawati, adiknya.
Almarhumah semasa hidup memang dikenal baik dengan keluarga. Tak hanya ingin merenovasi rumah, sebelumnya dia juga ikut membangun bagian belakang rumah ibunya itu. Selain itu, korban juga kerap mengirim pakaian dan hadiah lain kepada keluarga. Soal uang, keluarganya pun tidak dibuat susah. Ia dikenal mandiri sejak lulus dari madrasah aliyah.
”(Krisnawati) sempat ingin kuliah juga di Semarang. Tapi saya tawarkan di Unisnu Jepara saja. Dia nggak mau. Memang anaknya suka mbolang (jalan-jalan), tapi dia bilang; Yaudahlah, Mbak. Wes males mikir aku. Nggak usah,” kata Kristiani mengenang almarhumah yang juga telah memiliki keluarga.
Ia juga bercerita, semasa hidup almarhumah bukan orang yang aneh-aneh. Selain baik, beberapa kali almarhumah bukan merupakan orang yang suka menyulitkan permasalahan. Sering juga mengalah meski tidak salah.
Ia dan keluarga sangat menanti balasan keadilan untuk adiknya. ”(Kasus pembunuhan ini) harus diusut sampai tuntas dan jelas. Kok ada orang setega itu,” ujarnya diikuti isak tangis.
Almarhumah sendiri meninggalkan tiga anggota keluarga inti. Suami dan dua anak. Namun, di rumah duka kemarin, wartawan tidak sempat berbincang dengan suami dan anak korban. Sebab, suami korban terlihat lemas. Diam. Tidak banyak bicara. Kedua anak korban juga tidak kerap tampak. (nib/lin) Editor : Ali Mustofa