Dari pantauan wartawan sekitar pukul 14.00 kemarin, salah satu kelenteng tertua di Indonesia tersebut, ramai dikunjungi jemaah. Ada enam lilin besar yang dinyalakan dalam perayaan itu. Di samping meja dupa. Meja yang ada di dekat ruang ibadah terdapat persembahan sesaji, buah, dan makanan.
Di kanan dan kirinya ada persembahan hewan ternak. Babi dan kambing. Sementara di dalam klenteng para jamaah melaksanakan prosesi ibadah. Di depan kelenteng ada gelaran wayang kulit.
Ketua Kelenteng Dewa Langit Welahan Jepara Dicky mengatakan, jemaah yang datang ada sekitar 150 orang. Berasal dari berbagai kota. Seperti Kudus, Semarang, Surabaya, dan Jakarta.
Sebelum sembahyang besar, pihaknya mengadakan serangkaian acara. Mulai pada Minggu (2/10) lalu dimulai dengan sembahyang Pang Ping. Berikutnya pertunjukan liong dan barongsai. Dilanjut sembahyang King Mie Swoa. Lalu dilanjut menyambut Hari Sing-Thian Paduka.
”Kalau dalam Islam ini mirip Hari Raya Kurban. Setiap tahun hampir sama. Dari kami untuk hari kesempurnaan juga ada pertunjukan liong dan barongsai," jelas Dicky.
Ia menambahkan, pihaknya sengaja merancang perayaan dengan wayang. Agar warga sekitar tidak melupakan tradisi Jawa. ”Ada wayang kulit dan dari dulu memang ada. Artinya budaya ini nggak akan kami lupa," imbuhnya. (nib/lin) Editor : Ali Mustofa