Nibros Hassani, Jepara, Radar Kudus
KEDUA tangan Albert Ilham Rumaidinillah tegap menggenggam map ijazah biru. Map itu bertuliskan Universitas Gadjah Mada (UGM), dengan logo di atasnya. Ilham -sapaan akrabnya- saat itu mengenakan selempang berwarna kuning dengan tulisan cumlaude. Wajahnya semringah menenteng map biru itu, sembari berdiri di samping kedua orang tuanya.
Di samping kiri Ilham, ada Darlim, sang ayah yang mengenakan pakaian batik cokelat dan peci hitam. Di sisi satunya ada Sri, sang ibu yang tersenyum dengan mengenakan kerudung cokelat.
Darlim hanyalah seorang kuli serabutan. Meski dalam kondisi demikian, salah satu anaknya berhasil lulus dengan prestasi cumlaude jurusan Teknik Fisika Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Jogjakarta.
Kepada Jawa Pos Radar Kudus, Ilham bercerita ayahnya telah bekerja sebagai kuli serabutan sejak lama. Bagi ayahnya, yang penting pekerjaan itu halal. Tak apa dilakukan meski berat, yang penting bisa menafkahi keluarga kecilnya. “Ayah saya kerja apa saja, yang penting halal kalau kata ayah saya. Kalau lagi ada panggilan jadi kuli bangunan, ya kerja itu, kalau sedang tidak ada panggilan biasanya kerja apa saja di dekat-dekat rumah dan kadang-kadang juga menggarap sawah orang lain buat ngurus padi,” jelas Ilham, anak kedua dari dua bersaudara itu.
Kata Ilham, orang tua terus berpesan agar dirinya bisa mencari ilmu setinggi-tingginya. Itu pula yang dibuktikan oleh Ilham saat diwisuda.
Ilham lulus cumlaude dengan nilai 3,62 pada saat ia berumur 20 tahun. Usia yang sangat muda. Kata Ilham, ia bukan yang paling muda saat diwisuda tapi ia cukup bangga dengan usaha kerasnya selama ini.
Meski mendapat beasiswa penuh, Ilham juga bekerja sampingan sebagai mentor siswa-siswi SMP dan SMA. Selain itu ia juga sempat menjadi asisten dosen dan asisten praktikum. "Itu untuk uang tambahan jajan saja, sumber penghasilan utama dari ayah," jelasnya.
Bahkan pemuda asal Desa Sukosono, Kedung itu menyisihkan uang selama kuliah. Hasil tabungannya, diberikan kepada ayahnya untuk membeli motor. Untuk membantu ayahnya bekerja. "Hanya membantu menyumbang sebagian buat membeli motor untuk ayah," jelasnya.
Ia mengaku, lulus pada umur 20 namun juga aktif berorganisasi memang tidak mudah. Kata Ilham, tekanannya juga banyak. Namun ia mempunyai strategi, ia harus mengatur waktu dan skala prioritas dengan baik. "Harus pintar-pintar membagi waktu dan harus bisa menilai mana yang harus didahulukam dan mana yang lebih penting," ungkap alumni SMAN 1 Jepara itu.
Sebelum masuk UGM, Ilham adalah siswa SMAN 1 Jepara. Menurutnya, mulai pada masa SMA-lah ia harus berjuang lebih keras dan pintar. Ia harus lebih bisa bersaing dengan teman-temannya yang lebih cerdas dan hebat.
Pada masa itu juga ia beberapa kali gagal menjuarai perlombaan. Namun, ia juga berhasil lolos pada Program Siswa Mengenal Nusantara di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia menjadi salah satu delegasi pada program tersebut. Pada tahun berikutnya saat kelas 11, ia mulai fokus mencapai target agar bisa masuk UGM lewat jalur SNMPTN. Dan ia berhasil hingga lulus. (*/war) Editor : Abdul Rokhim