Pembangunan taman yang digadang-gadang jadi ikon perbatasan Jepara-Demak itu dimulai sejak 2016 lalu. Dilanjutkan tahun berikutnya. Menyempurnakan bentuk dan pengecatan patung macan kurung, pahat, dan palu sebagai ikon taman. Pada 2018 tak ada pekerjaan pembangunan lanjutan. Mangkrak sampai akhir 2019. Akhir 2019 hanya ada tambahan pavingisasi di depan bangunan utama. Sejak saat itu hingg awal tahun ini belum ada lanjutan pekerjaan.
Kabid Cipta Karya Endro Wahyu Purwanto pada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Jepara menjelaskan pihaknya mendapat tugas untuk melanjutkan pembangunan itu. Meskipun, leading sector penanggungjawab taman adalah Dinas Lingkungan Hidup. Sehingga, tahun ini anggaran dikucurkan untuk penyelesaian itu.
Terkait nominal anggaran, pihaknya belum bisa memberikan jawaban pasti. Namun, perkiraan sekitar Rp 500 juta. Karena saat ini masih dalam tahap perencanaan.
Harapannya, saat selesai nanti bisa menambah keindahan salah satu sudut perbatasan Jepara. “Meski tidak sesuai dengan master plan, minimal bisa digunakan untuk swafoto masyarakat, kumpul sore,” jelasnya.
Sementara itu untuk perawatan akan dilanjutkan oleh DLH. Pihaknya hanya membantu mendukung penyelesaian.
Tidak berlanjutnya pembangunan itu juga terlihat dari penampakan tugu. Di dalam area tugu, terlihat rumput liar yang tumbuh dengan lebat. Dari pantauan wartawan, ada juga dua pohon kecil yang tingginya sudah satu setengah meter. Sementara, pada bagian replika pahat di banyak sisi sudah ditumbuhi lumut. Juga pada bagian paving meski tidak menutupi keseluruhan jalan. Pada bagian bangunan, tampak tembok retak di beberapa sisi. Warna cat pada bangunan macan kurungnya juga mulai pudar.
Bagong, warga sekitar mengakui tugu tersebut sudah lama tidak dilanjutkan pembangunannya. Terkesan mangkrak dilihat dari penampakannya. “Mbak lihat tanaman di situ, udah tingginya seberapa, padahal itu dulu cuma tanah kosong,” jelasnya sambil menunjuk area dalam tugu.
Di depan tugu, terdapat dua meter lahan kosong. Dasarnya tanah. Tampak tidak rata dan bergelombang. Dari penuturan warga sering dibuat parkir truk tronton yang melintas.
Anas, warga sekitar, mengaku area tersebut tidak digunakan pada malam hari. Hanya sekitarnya saja berdiri warung kecil. “Gelap di sana,” jelasnya.
“Padahal dulu sempat buat nongkrong anak muda kalau sore hari,” ungkapnya. (nib/war) Editor : Ali Mustofa