Connie Rahakundini mengungkapkan, Ratu Kalinyamat merupakan panglima perang asal Jepara yang berani melawan penjajah Portugis. Tokoh perempuan ini, menyerang Portugis dengan membuat aliansi. Dia juga memiliki kekuatan ekonomi, politik, dan militer yang kuat. Dia melampaui kekuatan di zamannya.
Menurutnya, Ratu Kalinyamat memiliki kejayaan pada abad ke-15. Jepara menjadi sumber kekuatan galangan, pertahanan, dan perdagangan terbesar di Asia Tenggara. ”Waktu itu belum ada departemen pertahanan, tapi sudah mampu membuat industri seperti itu. Kapalnya sudah seperti kapal perang induk Amerika yang bisa membawa 1.000 prajurit,” katanya.
Dalam diskusi regional itu, telah disepakati bahwa kepahlawanan Ratu Kalinyamat di bidang kemaritiman. Untuk pengusulan ke Kementerian Sosial, kali ini akan melibatkan penyusunan akademik dari dua perguruan tinggi UGM dan Undip Semarang. ”Dua perguruan tinggi ini yang sudah melakukan kajian Ratu Kalinyamat beberapa tahun lalu,” tuturnya.
Ada sumber-sumber primer yang sudah didapatkan. Termasuk buku dari Portugis yang menyatakan tentang peran dan kekuasaan Ratu Kalinyamat dan dijadikan sebagai naskah akademik. ”Kalau dulu kita belum ada sumber primer, hanya memakai kutipan-kutipan. Saat ini sudah ada buku penunjangnya,” paparnya.
Dari segi regulasi, setelah naskah akademik disusun oleh tim, pakar sejarah dan akademisi, akan dimintakan rekomendasi kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Selanjutnya, di tingkat provinsi akan dikaji, kemudian diusulkan kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial.
Lestari Moerdijat, pembina Yayasan Dharma Bakti Lestari menargetkan, April mendatang naskah akademik sudah rampung. Jadi, bisa digunakan untuk usulan gelar pahlawan untuk 2019. ”Naskah akademik ini kunci yang membedakan dengan sebelumnya. Sekarang sudah ada sumber primernya,” tandasnya. (lin) Editor : Ali Mustofa