Hal ini sesuai dengan kesepakatan Yayasan Dharma Bakti Lestari, Yayasan Lembayung Kalinyamatan, Komunitas Mas dan Mbak Jepara, Lesbumi NU Jepara, serta beberapa tokoh masyarakat Jepara. Mereka ingin menghidupkan kembali gagasan menjadikan Ratu Kalinyamat sebagai Pahlawan Nasional yang berasal dari Jepara.
Ratu Kalinyamat tokoh perempuan terbukti melampaui zamannya. Dengan menjadi seorang wanita yang menguasai bidang politik, ekonomi dan militer. Tiga hal yang sama sekali jauh dari gambaran perempuan Jawa saat itu.
“Ayo dukung dan sebarkan petisi ini agar Ratu Kalinyamat bisa didorong menjadi salah satu Pahlawan Nasional Indonesia. Kenali lebih jauh Ratu Kalinyamat melalui https://tiny.cc/ratukalinyamat,” kata Yayasan Dharma Bakti Lestari, Lestari Moerdijat
Menurutnya, Jepara tak hanya memiliki seorang Raden Ajeng Kartini, pejuang dan pelopor kebangkitan kaum perempuan Indonesia. Namun jauh sebelumnya telah melahirkan perempuan hebat lainnya, yaitu Ratu Kalinyamat.
Terlahir dengan nama Retna Kencana, Ratu Kalinyamat adalah salah satu putri dari Raja Demak, Sultan Trenggana, sekaligus cucu dari Raden Patah, pendiri kerajaan Islam pertama di Jawa. Setelah suaminya, Pangeran Hadirin wafat, Ratu Kalinyamat dinobatkan menjadi penguasa Jepara pada 10 April 1549. Meski menjadi penguasa, Ratu Kalinyamat tak melupakan kodratnya sebagai seorang perempuan. Tidak hanya cantik, Ratu Kalinyamat juga cerdas, berpengetahuan luas, memiliki jiwa kepemimpinan yang andal dan piawai berdiplomasi.
Di masa pemerintahannya, Jepara merupakan pusat perdagangan, kekuatan militer, pelabuhan utama bagi ekspor impor. Ratu membangun pelabuhan penyokong di sekitar Jepara. Sekaligus menginisiasi industri ukiran di Jepara. Sehingga bisa berkembang dengan luar biasa. “Ratu juga berhasil membangun kekuatan angkatan laut yang besar sekaligus membangun pakta pertahanan dengan Cirebon, Banten, Palembang, Aceh, Malaka di bagian barat, Makassar, Tidore, dan Maluku di bagian timur,” paparnya.
Pemahaman dan visinya mengenai poros maritim membuat industri perkapalan di Jepara - baik kapal perang maupun kapal dagang- tumbuh dan berkembang dengan pesat. Di bawah kepemimpinan Ratu Kalinyamat, Jepara kerap dimintai bantuan untuk mengusir kolonial Portugis yang mulai mencengkram sejumlah wilayah di Nusantara. Setidaknya tercatat, Ratu Kalinyamat tiga kali mengirim pasukan angkatan lautnya ke Malaka pada 1551, Maluku pada 1565, dan ke Kesultanan Aceh pada 1573.
“Pada kesempatan ini, Yayasan Dharma Bakti Lestari mengajak Pemerintah Kabupaten Jepara dan segenap warga Jepara serta semua pihak terkait untuk bersama-sama menggelorakan kembali usulan pemberian gelar pahlawan Nasional. Terlebih untuk mengingatkan semua pihak. Bahwa sudah pantas dan saatnya gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada Ratu Kalinyamat,” imbuhnya.
Gelar itu bukan saja penghargaan kepada sang ratu, tetapi penghargaan bagi segenap perempuan Indonesia, dan sebuah bukti bahwa visi poros maritim yang dijalankan oleh Presiden Joko Widodo adalah sebuah keniscayaan. (zen)