Geger di Pekalongan, Adegan Sembelih Kambing dalam Karnaval Dikaitkan Ritual Satanic

Ali Mustofa • Dipublikasikan Selasa, 15 September 2026 | 14:30 WIB
KLARIFIKASI: M. Akhid, perwakilan Tim Simone saat diundang di Setda Kabupaten Pekalongan untuk klarifikasi terkait penampilan mereka yang viral karena dinilai memuat unsur satanic, Senin (14/9/2026). (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
KLARIFIKASI: M. Akhid, perwakilan Tim Simone saat diundang di Setda Kabupaten Pekalongan untuk klarifikasi terkait penampilan mereka yang viral karena dinilai memuat unsur satanic, Senin (14/9/2026). (NANANG RENDI AHMAD/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

PEKALONGAN – Penampilan Tim Simone dalam Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) 2026 di Kabupaten Pekalongan menjadi perhatian publik.

Pertunjukan tersebut ramai diperbincangkan setelah video penampilannya beredar luas di media sosial dan memunculkan dugaan adanya simbol yang dianggap bernuansa satanic.

Sorotan paling besar tertuju pada adegan penyembelihan kambing yang dilakukan dalam rangkaian pertunjukan.

Adegan tersebut dinilai sebagian masyarakat menyerupai praktik ritual tertentu sehingga memicu kontroversi, terlebih acara berlangsung di Kabupaten Pekalongan yang selama ini dikenal memiliki kultur keagamaan yang kuat dan kerap disebut sebagai Kota Santri.

Namun, Tim Simone membantah pertunjukan tersebut memiliki kaitan dengan ritual satanic.

Perwakilan tim, M Akhid, menyampaikan permintaan maaf sekaligus mengakui bahwa pihaknya kurang memahami makna sejumlah simbol yang digunakan dalam konsep pertunjukan.

“Kami dari perwakilan Tim Simone meminta maaf. Kami menyesal karena kami kurang literasi,” ujar Akhid, Senin (14/9/2026).

Akhid menjelaskan, ide awal penampilan tersebut bermula dari ketertarikan anggota tim terhadap berbagai kostum unik yang digunakan dalam festival atau karnaval di sejumlah daerah.

Kostum yang digunakan dalam SKNC 2026 tersebut disewa dari Malang, Jawa Timur. Setelah itu, tim melakukan penyesuaian terhadap kostum dan konsep agar dapat digunakan dalam pertunjukan mereka.

Sementara koreografi dibuat sendiri oleh anggota Tim Simone. Mereka mencari referensi melalui sejumlah video pertunjukan karnaval yang tersedia di YouTube, termasuk pertunjukan dari Malang, Magelang, serta beberapa daerah lainnya.

Akhid menegaskan bahwa tim tidak memahami istilah maupun konsep ritual satanic yang kemudian dikaitkan dengan penampilan mereka.

“Kami tidak tahu mengenai apa itu ritual satanic. Kami hanya melihat apa yang menurut kami unik dari festival lain, lalu kami sewa kostum, kemudian kami adaptasi di sini,” jelasnya.

Adegan Penyembelihan Kambing Jadi Perhatian

Selain bentuk kostum dan koreografi, penggunaan kambing dalam pertunjukan menjadi bagian yang paling banyak diperbincangkan masyarakat.

Akhid memastikan penyembelihan kambing tersebut tidak dimaksudkan sebagai persembahan ataupun bagian dari ritual tertentu.

Menurutnya, kambing memang telah disiapkan untuk kebutuhan makan bersama atau rahatan setelah seluruh rangkaian acara selesai.

Proses penyembelihan, lanjutnya, dilakukan oleh orang yang memang terbiasa melakukan penyembelihan dan mengikuti ketentuan syariat Islam.

Tim Simone juga menyiapkan kepala kambing yang diperoleh secara terpisah dari pasar. Bagian tersebut digunakan sebagai properti dalam pertunjukan.

“Jadi kami ada kambing utuh dan ada yang cuma kepalanya. Kepalanya itu kami beli dari pasar, cuma kepalanya sebagai bagian dari penampilan. Kambing yang disembelih, kepalanya tidak sampai terpotong,” kata Akhid.

Ia kembali menegaskan bahwa kambing tersebut bukan untuk kepentingan ritual. Setelah acara, daging kambing rencananya diolah menjadi sate dan disantap bersama anggota tim.

“Untuk penyembelihan itu kami murni untuk rahatan bersama setelah acara. Kambing itu untuk disate,” ujarnya.

Persiapan pertunjukan dilakukan selama kurang lebih satu minggu. Adapun nilai biaya penyewaan kostum, Akhid mengaku tidak mengetahuinya secara pasti karena proses penyewaan ditangani oleh anggota tim lainnya.

Panitia Mengaku Tidak Mengetahui Konsep Secara Detail

Polemik tersebut kemudian turut menyoroti proses pengawasan terhadap konsep penampilan peserta.

Ketua Panitia SKNC 2026, Ziyad Azizi, mengakui pihak panitia tidak mengetahui secara rinci konsep yang ditampilkan Tim Simone.

Karnaval tersebut digelar pada Kamis malam (10/9/2026). Ziyad membenarkan bahwa adegan yang kemudian viral di media sosial memang terjadi dalam rangkaian kontes SKNC 2026.

“Untuk penampilan yang sekarang lagi viral, pihak panitia tidak mengetahui secara detail. Tapi mengiyakan kejadian itu terjadi pada malam kontes SKNC 2026,” ungkap Ziyad.

Pemerintah Kabupaten Pekalongan kemudian menjadikan kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi untuk penyelenggaraan kegiatan serupa di masa mendatang.

Plt Bupati Pekalongan Sukirman mengatakan kreativitas masyarakat dalam membuat pertunjukan dan festival merupakan hal yang patut dihargai.

Meski demikian, kreativitas tersebut tetap perlu memperhatikan nilai, kultur, serta karakter masyarakat setempat.

“Memang ini harus menjadi perhatian. Karena ini sudah menimbulkan kegaduhan, menimbulkan multitafsir,” ujar Sukirman.

Menurutnya, pertunjukan teatrikal yang digelar di ruang publik perlu memiliki konteks dan narasi yang jelas.

Hal tersebut penting karena penonton festival berasal dari berbagai kalangan dan usia, termasuk anak-anak.

Penggunaan simbol yang dapat dimaknai sebagai bentuk persembahan atau ritual tertentu, kata Sukirman, juga perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.

Pemkab Pekalongan pun meminta agar penyelenggara festival di tingkat kampung maupun daerah lebih selektif dalam menentukan tema pertunjukan.

“Ke depan tentu saja ini akan menjadi evaluasi penting agar setiap kampung yang akan menyelenggarakan festival, temanya harus sesuai dengan kultur, adat, kebiasaan,” tegasnya.

Editor : Ali Mustofa
SKNC 2026 Tim Simone Simbang Kulon Night Carnival Karnaval Pekalongan pekalongan