REMBANG — Seorang pendaki asal Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, meninggal dunia saat melakukan pendakian di jalur Puncak 29 Gunung Muria, Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, pada Senin malam, 7 September 2026.
Korban yang diketahui bernama Ahmad Alif Lutfian Fahmi (32), warga Desa Sridadi, Kecamatan Rembang, ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa di sekitar Petilasan Eyang Pandu atau Pos 5 jalur pendakian tersebut.
Peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 22.00 WIB, ketika korban tengah beristirahat bersama lima orang rekannya dalam perjalanan menuju Puncak 29.
Berdasarkan keterangan Kapolsek Gebog AKP Siswanto dan Kasi Humas Polres Kudus AKP Kusmanto, sebelum menghembuskan napas terakhir, korban sempat mengeluhkan dada sesak, tubuh lemas, dan keluar air liur dari mulutnya.
Baca Juga: Masih Dirawat Usai Santap MBG, 5 Siswa SMAN 1 Tunjungan Blora Mengaku Trauma
Tim medis dari UPT Puskesmas Gondosari bersama Tim Inafis Polres Kudus kemudian melakukan pemeriksaan di lokasi dan menyimpulkan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya lebam mayat, dan penyebab kematian diduga kuat karena kelelahan ekstrem serta hipotermia yang diderita korban saat berada di ketinggian.
Setelah dinyatakan meninggal di lokasi, puluhan petugas gabungan yang terdiri dari unsur kepolisian, BPBD, dan relawan segera melakukan evakuasi jenazah.
Baca Juga: Kondisi Sekolah Dasar di Kudus Jadi Sorotan, 700 Ruang Kelas Mengalami Kerusakan, Pemkab Lakukan Ini
Proses evakuasi dilakukan dengan hati-hati di medan terjal, dan jenazah dibawa turun menggunakan sepeda motor sebelum selanjutnya diteruskan ke RSUD dr Loekmono Hadi Kudus untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan proses pemulasaraan.
Diketahui, korban yang lahir di Rembang pada 4 Agustus 1994 tersebut merupakan seorang wiraswasta yang mendaki bersama lima orang rekan.
Dua di antara rekannya merupakan anggota Tim Vertical Rescue Indonesia (VRI) Rembang, sedangkan tiga lainnya adalah anggota pecinta alam.
Meski demikian, kondisi cuaca dan faktor kelelahan diduga menjadi penyebab utama memburuknya kesehatan korban secara mendadak di tengah pendakian malam itu.
Kasus ini kembali menyoroti pentingnya kesiapan fisik, perlengkapan yang memadai, serta kewaspadaan terhadap gejala hipotermia bagi para pendaki, terutama saat mendaki pada malam hari atau dalam kondisi cuaca ekstrem. (*)
Editor : Mahendra Aditya