Ahmad Luthfi Tegaskan Tegal Business Forum Harus Hasilkan Investasi Nyata

Admin • Dipublikasikan Rabu, 22 Juli 2026 | 14:39 WIB
MEMBANGGAKAN: Luthfi saat membuka Tegal Business Forum 2026 di Shangri-la Land Convention Hall, Kota Tegal, Selasa (21/7/2026).
MEMBANGGAKAN: Luthfi saat membuka Tegal Business Forum 2026 di Shangri-la Land Convention Hall, Kota Tegal, Selasa (21/7/2026).

TEGAL – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menekankan bahwa penyelenggaraan Tegal Business Forum 2026 harus mampu melahirkan hasil konkret, bukan sekadar menjadi agenda seremonial tahunan. Menurutnya, forum bisnis harus menghasilkan kerja sama investasi, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), hingga penciptaan lapangan kerja yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Hal itu disampaikan Luthfi saat membuka Tegal Business Forum 2026 di Shangri-la Land Convention Hall, Kota Tegal, Selasa (21/7/2026). Ia meminta seluruh pihak mengubah pola pikir dalam penyelenggaraan forum investasi agar lebih berorientasi pada capaian nyata.

"Forum bisnis harus memberikan hasil yang terukur. Tidak cukup hanya menggelar kegiatan, tetapi harus mampu menawarkan potensi daerah kepada investor hingga menghasilkan kerja sama yang jelas," ujarnya.

Luthfi menjelaskan, kondisi ekonomi global yang penuh tantangan serta keterbatasan kemampuan fiskal pemerintah mengharuskan setiap daerah mencari sumber pertumbuhan ekonomi baru. Ketergantungan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), menurutnya, tidak lagi memadai untuk mendukung percepatan pembangunan.

Ia menyebut APBD Provinsi Jawa Tengah yang mencapai sekitar Rp23 triliun masih harus dibagi untuk memenuhi kebutuhan 35 kabupaten/kota, mulai dari pelayanan publik hingga pembangunan infrastruktur. Karena itu, investasi dari sektor swasta menjadi salah satu solusi penting untuk memperkuat perekonomian daerah.

Menurut Luthfi, kepala daerah kini dituntut berperan sebagai "marketing manager" bagi wilayahnya masing-masing. Bupati dan wali kota harus aktif mempromosikan potensi unggulan, memberikan kepastian kepada investor, sekaligus membantu menyelesaikan berbagai hambatan yang dihadapi pelaku usaha.

Ia menilai Kota Tegal memiliki peluang besar berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Pantura barat. Potensi sektor maritim, perdagangan, jasa, kuliner, hingga kewirausahaan dinilai memiliki daya tarik tinggi apabila dikemas menjadi proyek investasi yang kompetitif.

Strategi tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di setiap wilayah eks-karesidenan sehingga mampu saling mendukung perkembangan ekonomi regional.

Optimisme itu diperkuat dengan capaian investasi Jawa Tengah yang terus menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp110,64 triliun dengan penyerapan lebih dari 418 ribu tenaga kerja. Sementara pada Triwulan I 2026, nilai investasi kembali menyentuh Rp23,02 triliun dan mampu menyerap sekitar 92 ribu pekerja. Pada periode yang sama, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat 5,89 persen, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,61 persen.

Kinerja investasi Kota Tegal juga menunjukkan perkembangan menggembirakan. Selama 2025, realisasi investasi mencapai Rp791,67 miliar atau sekitar 132 persen dari target yang ditetapkan. Memasuki Triwulan I 2026, Kota Tegal kembali masuk dalam jajaran 10 besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Jawa Tengah.

Meski demikian, Luthfi mengingatkan bahwa manfaat investasi harus dirasakan secara luas, termasuk oleh sekitar 4,9 juta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Jawa Tengah. Karena itu, ia meminta Bank Jateng memperkuat perannya dalam mendukung pembiayaan sektor produktif, tidak hanya mengandalkan transaksi pemerintah, tetapi juga memperluas layanan bagi dunia usaha.

Direktur Utama Bank Jateng Bambang Widyatmoko mengatakan, Tegal Business Forum merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Jawa Tengah agar Bank Jateng semakin dekat dengan kalangan pelaku usaha.

Menurutnya, Bank Jateng terus memperluas layanan kepada perusahaan maupun investor yang beroperasi di Jawa Tengah. Dana yang berhasil dihimpun akan disalurkan kembali untuk mendukung pembiayaan sektor produktif, mulai dari usaha mikro, kecil, menengah hingga sektor komersial.

Sementara itu, Wali Kota Tegal Dedy Yon Supriyono menyampaikan bahwa forum tersebut dihadiri sekitar 100 pengusaha besar, 100 pelaku usaha kuliner, restoran, kafe, dan lounge, serta perwakilan sekitar 20 perusahaan penanaman modal asing (PMA).

Melalui forum bertema "Amazing Tegal, Amazing Investment, and Amazing Service", Pemerintah Kota Tegal berharap semakin banyak aset dan lahan strategis yang dapat dikembangkan menjadi pusat aktivitas ekonomi baru sekaligus menarik investasi di sektor perdagangan, jasa, perhotelan, kuliner, hingga fasilitas publik.

Luthfi menegaskan, keberhasilan sebuah forum investasi tidak lagi diukur dari kemegahan penyelenggaraannya, melainkan dari besarnya nilai investasi yang berhasil direalisasikan, jumlah lapangan kerja yang tercipta, serta dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. (*)

Editor : Admin
Shangri-la Land Convention Hall APBD Provinsi Jawa Tengah mou